Ingin Menekan Tombol Kirim


Sebenarnya hati kecilku ingin menghubunginya lagi lewat DM.

Beberapa kali aku sempat membuka ruang untuk itu di kepalaku.

Mungkin aku bisa mengirim pesan sederhana.

Tidak perlu membicarakan perasaan.

Tidak perlu mengatakan sesuatu yang terlalu jauh.

Sekadar membuka percakapan.

Sekadar membuat jarak di antara kami sedikit lebih pendek.

Tapi kemudian niat itu selalu kuurungkan.

Aku takut malu.

Bukan hanya malu untuk diriku sendiri.

Aku juga takut membuatnya malu.

Sebab ada sesuatu yang terasa janggal dari situasi kami sekarang.

Kami bertemu hampir setiap hari, tetapi nyaris tidak pernah benar-benar berbincang.

Kalau berpapasan, kami hanya saling melihat.

Kadang seperti ingin saling mendekat, tetapi kemudian sama-sama pura-pura sibuk.

Kadang aku merasa dia sedang mencari perhatianku.

Kadang mungkin aku sendiri yang terlalu banyak membaca keadaan.

Lalu tiba-tiba aku muncul di DM-nya?

Rasanya aneh.

Apalagi ada satu hal yang terus menghentikanku.

Pesanku sebelumnya bahkan belum dijawab sampai sekarang.

Bagaimana mungkin aku mengirim pesan lagi ketika pesan yang lama saja masih menggantung?

Aku jadi serba salah.

Kalau aku menghubunginya lagi, aku takut terlihat seperti terlalu mengejar.

Takut dia merasa tidak nyaman.

Takut dia bingung harus menjawab apa.

Dan yang paling membuatku tidak enak, aku takut justru membuat keadaan yang selama ini sudah canggung menjadi semakin canggung.

Padahal di sisi lain, aku ingin sekali lebih dekat dengannya.

Aku ingin tahu seperti apa rasanya berbicara dengannya tanpa harus menyembunyikan tatapan.

Aku ingin tahu apakah percakapan kami akan terasa biasa saja, atau justru akan membuka sesuatu yang selama ini hanya hidup dalam dugaanku.

Aku ingin mengenalnya bukan hanya melalui apa yang kulihat dari kejauhan.

Karena mungkin selama ini aku terlalu banyak mengisi kekosongan dengan imajinasi.

Aku melihatnya.

Aku menafsirkan gerak-geriknya.

Aku mengingat tatapannya.

Aku membayangkan kemungkinan-kemungkinan.

Lalu semua itu tumbuh menjadi perasaan yang semakin besar.

Padahal kami bahkan belum banyak berbicara.

Mungkin karena itu, sebenarnya ada bagian dari diriku yang ingin mengirim DM bukan semata-mata untuk mendekatinya.

Aku ingin tahu kenyataan.

Aku ingin mengganti dugaan dengan percakapan.

Tetapi kemudian aku kembali teringat pesan sebelumnya.

Masih tidak dijawab.

Dan aku kembali meletakkan ponsel.

Mungkin memang belum waktunya.

Atau mungkin aku hanya sedang mencari alasan untuk tetap diam karena takut mengetahui jawabannya.

Aku tidak tahu.

Yang kutahu, aku sedang berada di antara dua keinginan yang saling bertolak belakang.

Aku ingin lebih dekat dengannya.

Tetapi aku juga tidak ingin membuatnya merasa harus mendekatiku.

Aku ingin berbicara.

Tetapi aku tidak ingin memaksakan percakapan.

Aku ingin menghubunginya.

Tetapi aku tidak ingin membuatnya merasa dikejar.

Aku ingin tahu apa yang sebenarnya dia rasakan.

Tetapi aku juga sadar bahwa dia berhak tidak memberikan jawaban yang kuharapkan.

Mungkin itulah sebabnya sampai malam ini DM itu tidak pernah terkirim.

Aku masih menyimpan kalimat-kalimat yang ingin kutulis.

Masih membayangkan bagaimana percakapan itu mungkin dimulai.

Masih beberapa kali membuka ponsel, lalu menutupnya kembali.

Dan akhirnya aku hanya bisa berkata kepada diriku sendiri:

Mungkin tidak apa-apa untuk menunggu.

Bukan karena aku harus menyerah.

Tetapi karena kedekatan seharusnya tidak dibangun dari satu orang yang terus menarik, sementara yang lain hanya diam menerima.

Kalau memang ada ruang untuk kami saling mendekat, mungkin suatu hari ruang itu akan terasa lebih jelas.

Untuk sekarang, mungkin aku cukup berhenti sejenak.

Tidak mengirim pesan.

Tidak membuat skenario baru.

Tidak memaksa sebuah jawaban keluar dari sesuatu yang memang belum memiliki jawaban.

Meski jujur saja...

hatiku masih ingin menekan tombol kirim.

Dan mungkin justru karena itulah aku terus menatap layar ponsel malam ini, bertanya-tanya apakah diam adalah bentuk kesabaran...

atau hanya nama lain dari ketakutanku.

Comments

Popular Posts