Kalau Bisa Chat, Kenapa Harus Telepon?


 Ada satu kebiasaan saya yang mungkin bagi sebagian orang agak aneh.

Kalau HP saya tiba-tiba berdering karena ada telepon masuk, reaksi pertama saya biasanya bukan mengangkat.

Saya lihat dulu siapa yang menelepon.

Kalau orangnya memang perlu saya hubungi, mungkin saya angkat.

Tapi kalau sebenarnya urusannya bisa disampaikan lewat pesan, biasanya dalam hati saya langsung berpikir,

"Kenapa nggak WhatsApp saja, sih?" 

Saya memang jauh lebih nyaman berkomunikasi lewat chat daripada telepon.

Bukan karena saya tidak suka orang.

Bukan juga karena saya tidak mau berbicara.

Saya hanya merasa chat memberikan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh telepon,

waktu.

Kalau ada pesan masuk, saya bisa membacanya dulu.

Saya bisa memikirkan jawabannya.

Kadang saya mengetik, membaca lagi, menghapus, kemudian mengetik ulang.

Bukan karena saya tidak tahu harus menjawab apa.

Saya hanya ingin memastikan apa yang saya tulis tidak menimbulkan salah pengertian.

Berbeda dengan telepon.

Begitu saya mengangkatnya, saya harus langsung menjadi orang yang siap berbicara.

Tidak ada waktu untuk menyusun kalimat.

Tidak ada kesempatan untuk berhenti sebentar dan berpikir.

Kadang orang di ujung sana baru selesai bicara, sementara di kepala saya masih sibuk mencari kalimat yang tepat untuk menjawab.

Dan itu melelahkan.

Mungkin karena itu saya lebih menikmati percakapan melalui tulisan.

Saya bisa menentukan ritmenya sendiri.

Mau membalas sekarang bisa.

Lima menit lagi juga bisa.

Kalau sedang tidak punya energi untuk berbicara, saya masih bisa mengatakan,

"Nanti saya balas, ya."

Selesai.

Tidak perlu memaksakan diri menjadi komunikatif ketika sebenarnya kepala sedang ingin diam.

Saya juga merasa chat membuat percakapan menjadi lebih tenang.

Terutama kalau pembicaraannya agak serius.

Saya bisa membaca ulang pesan orang tersebut. Memahami maksudnya. Kemudian memikirkan jawaban.

Kadang justru dari situ percakapannya menjadi lebih dalam.

Saya tidak terlalu pandai dengan basa-basi.

Telepon hanya untuk sekadar,

"Lagi apa?"

"Di mana?"

"Sudah makan?"

kadang membuat saya bingung harus menjawab apa setelahnya. 

Tetapi kalau seseorang mengirim pesan,

"Saya sebenarnya sedang punya masalah..."

Nah, saya justru bisa lebih nyaman.

Saya bisa membaca pelan-pelan.

Memikirkan apa yang ingin saya katakan.

Dan mungkin menulis jawaban yang lebih panjang.

Saya juga suka satu hal dari chat, semuanya tercatat.

Kalau ada janji, alamat, tanggal, atau informasi penting, saya bisa membukanya lagi.

Saya tidak harus mengandalkan ingatan terhadap percakapan yang berlangsung lima belas menit lewat telepon.

Kadang setelah telepon selesai saya malah berpikir,

"Tadi dia bilang apa, ya?" 

Kalau lewat chat, tinggal scroll.

Selesai.

Mungkin itu juga yang membuat saya merasa lebih aman.

Saya memang termasuk orang yang cukup memperhatikan detail.

Saya suka memastikan apa yang saya pahami memang sama dengan yang dimaksud orang lain.

Dan tulisan memberi saya kesempatan untuk melakukan itu.

Ada satu hal lagi yang mungkin paling saya rasakan.

Chat tidak terlalu menguras energi saya.

Kalau seharian sudah bertemu banyak orang, bekerja, menghadapi berbagai macam urusan, kemudian malamnya ada telepon masuk, rasanya seperti masih harus membuka satu pintu lagi.

Kadang saya belum siap.

Bukan berarti saya tidak peduli kepada orang yang menelepon.

Saya hanya sedang ingin diam.

Dengan chat, saya masih bisa tetap berhubungan dengan orang lain tanpa harus mengeluarkan energi sebanyak ketika berbicara langsung.

Saya bisa tetap membalas.

Tetap bercanda.

Tetap bertanya kabar.

Tetap mendengarkan cerita orang.

Hanya saja semuanya berlangsung melalui tulisan.

Dan mungkin karena saya terbiasa menulis, saya juga cukup cerewet kalau sudah berada di depan keyboard. 

Orang yang melihat saya sehari-hari mungkin mengenal saya sebagai orang yang tidak terlalu banyak bicara.

Tetapi kalau sudah menulis, ceritanya bisa lain.

Saya bisa panjang sekali.

Kadang saya sendiri tertawa melihat perbedaannya.

Di dunia nyata, mungkin hanya beberapa kalimat.

Di chat, bisa menjadi beberapa paragraf.

Saya juga sering membaca ulang pesan sebelum mengirim.

Kadang hanya pesan sederhana pun masih saya lihat lagi.

Takut ada kata yang terdengar terlalu keras.

Takut maksud saya berbeda dengan yang diterima orang lain.

Takut bercanda tetapi ternyata dianggap serius.

Jadi kalau ada orang yang melihat saya lama mengetik, mungkin bukan karena saya sedang mencari jawaban yang rumit.

Bisa jadi saya sedang mencari kalimat yang paling aman untuk dikirim.

Semakin saya memikirkan kebiasaan ini, saya jadi merasa mungkin saya memang lebih nyaman dengan komunikasi yang memberi saya sedikit ruang.

Ruang untuk berpikir.

Ruang untuk diam.

Ruang untuk memilih kata.

Ruang untuk menentukan kapan harus menjawab.

Dan mungkin itu sebabnya, kalau HP saya berbunyi karena telepon masuk, saya masih sering melihat layarnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat.

Bukan karena saya membenci orang yang menelepon.

Saya hanya kadang berharap,

"Kalau tidak terlalu penting, chat saja, ya." 

Comments

Popular Posts