Keberanianku Ternyata Tak Berbalas
Setelah ragu yang rasanya tidak ada habisnya, akhirnya aku mengirim DM kepadanya.
Benar-benar kukirim.
Bukan pesan panjang.
Bukan kalimat yang sudah kususun berhari-hari.
Bahkan tidak ada basa-basi.
Saking singkatnya, pesanku hanya satu kata:
“Sibuk?”
Dengan tanda tanya.
Hanya itu.
Lucu sekali kalau dipikir-pikir.
Berhari-hari aku memikirkan bagaimana caranya mendekatinya. Berkali-kali membayangkan percakapan. Berkali-kali juga mengurungkan niat karena takut salah langkah.
Dan ketika akhirnya keberanian itu benar-benar muncul, yang berhasil kukirim hanya satu kata.
Tapi mungkin memang begitulah keberanianku.
Tidak pernah datang dalam bentuk yang gagah.
Ia muncul setelah perang panjang antara hati dan pikiran.
Hati berkata, kirim.
Pikiran berkata, jangan.
Hati kembali meyakinkan.
Pikiran mencari alasan baru.
Begitu terus.
Sampai akhirnya, entah dari mana, jariku menekan tombol kirim.
Terkirim.
Dan setelah itu...
aku hanya menunggu.
Satu menit.
Dua menit.
Lalu beberapa menit berikutnya.
Awalnya aku masih mencoba bersikap biasa.
Mungkin dia sedang sibuk.
Mungkin belum melihat ponselnya.
Mungkin sedang melakukan sesuatu.
Aku berusaha membuat alasan-alasan yang masuk akal agar pikiranku tidak ke mana-mana.
Tetapi semakin lama tidak ada balasan, semakin banyak pula kemungkinan yang muncul.
Dan pagi ini...
pesanku masih belum mendapatkan jawaban.
Bahkan tidak dibaca.
Kau tahu rasanya?
Rasanya seperti dicampakkan.
Padahal sebenarnya aku bahkan belum sempat mendapatkan apa-apa darinya.
Tidak ada hubungan yang sedang berjalan.
Tidak ada janji.
Tidak ada percakapan yang sedang berlangsung.
Hanya sebuah pesan pendek.
“Sibuk?”
Tetapi anehnya, setelah keberanian sebesar itu kukerahkan hanya untuk mengirim satu kata, diam yang datang setelahnya terasa seperti sebuah jawaban.
Padahal belum tentu.
Bisa saja dia memang belum membuka DM.
Bisa saja dia sedang sibuk.
Bisa saja ada alasan lain yang sama sekali tidak berhubungan denganku.
Aku tahu semua kemungkinan itu.
Tapi hati tidak selalu mau diajak berpikir rasional.
Hati hanya tahu satu hal:
Aku sudah berusaha.
Untuk pertama kalinya, aku mencoba mendekat tanpa menunggu dia memberi tanda terlebih dahulu.
Aku yang memulai.
Aku yang mengirim.
Aku yang membuka pintu kecil itu.
Dan sekarang aku berdiri di depannya sendirian.
Menunggu apakah pintu itu akan dibuka dari seberang.
Mungkin itulah yang sebenarnya membuatku sakit.
Bukan karena dia belum menjawab.
Tetapi karena setelah sekian lama menjadi orang yang hanya berani melihat dari kejauhan, akhirnya aku memberanikan diri mengambil satu langkah kecil ke arahnya.
Dan langkah kecil itu terasa begitu besar bagiku.
Aku bahkan sempat berpikir, mungkin setelah pesan itu terkirim, aku akan merasa lega.
Ternyata tidak.
Justru sekarang pikiranku semakin ramai.
Apakah aku terlalu tiba-tiba?
Apakah pesanku aneh?
Apakah dia bingung harus menjawab apa?
Apakah dia memang tidak ingin membalas?
Atau apakah aku kembali melakukan kesalahan dengan berharap terlalu banyak dari sesuatu yang sebenarnya sangat sederhana?
Aku tidak tahu.
Yang kutahu, pagi ini aku masih melihat pesan itu.
Satu kata.
Satu tanda tanya.
Dan tidak ada jawaban.
Ironis sekali.
Aku menghabiskan begitu banyak waktu untuk mencari keberanian agar bisa mendekatinya.
Ketika akhirnya aku berani, aku justru menemukan bentuk ketakutan yang baru:
menunggu.
Menunggu seseorang yang kita sukai membaca pesan kita.
Menunggu apakah dia akan membalas.
Menunggu apakah satu kata yang kita kirim akan menjadi awal sebuah percakapan atau justru berhenti sebagai pesan yang menggantung.
Dan untuk pertama kalinya, aku mengerti bahwa mungkin keberanian bukan hanya tentang berani mengirim pesan.
Keberanian juga tentang berani menerima kemungkinan bahwa pesan itu mungkin tidak mendapatkan jawaban yang kita inginkan.
Meski jujur...
aku belum sampai pada tahap itu.
Pagi ini aku masih merasa seperti orang yang dicampakkan.
Padahal mungkin aku bahkan belum pernah benar-benar dimiliki.
Dan mungkin itulah yang paling menyakitkan dari menyukai seseorang yang belum pernah menjadi milik kita:
kita bisa merasa kehilangan, bahkan ketika sebenarnya kita tidak pernah memilikinya.





Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!