Kenapa Semuanya Harus Diviralkan?
Kenapa sekarang rasanya apa-apa harus diviralkan?
Sedikit masalah, masuk media sosial. Sedikit perselisihan, direkam. Ada seseorang yang dianggap salah, lalu potongannya disebarkan. Setelah itu orang-orang yang bahkan tidak tahu cerita sebenarnya ikut memberikan penilaian.
Seolah-olah ketika sesuatu sudah berada di internet, semua orang berhak menjadi hakim.
Mungkin bagi sebagian orang, viral adalah jalan untuk mendapatkan pembelaan. Mungkin juga dianggap sebagai cara agar sebuah persoalan mendapat perhatian. Aku tidak tahu.
Tetapi bagiku, kata viral punya arti yang jauh lebih menakutkan.
Aku pernah merasakannya.
Aku pernah berada di posisi ketika namaku, ceritaku, dan potongan-potongan kejadian tentang diriku menjadi bahan pembicaraan orang lain. Ada orang-orang yang bahkan tidak mengenalku, tetapi merasa sudah cukup tahu untuk memberikan penilaian.
Aku tahu bagaimana rasanya membuka media sosial dengan perasaan takut.
Takut melihat apa yang baru saja ditulis orang.
Takut ada tangkapan layar baru.
Takut ada cerita baru yang muncul.
Takut ada orang yang menyebarkan sesuatu lagi.
Dan yang paling melelahkan adalah perasaan bahwa apa pun yang kulakukan bisa saja ditafsirkan dengan cara yang berbeda oleh orang lain.
Aku pernah berada di titik itu.
Karena itu, setiap kali melihat seseorang dengan begitu mudah membawa persoalan ke ruang publik, aku selalu bertanya dalam hati,
Apa mereka tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang yang sedang dibicarakan?
Di balik sebuah unggahan mungkin hanya ada beberapa kalimat.
Di balik komentar mungkin hanya ada satu-dua menit orang mengetik.
Tetapi bagi orang yang menjadi sasaran, semuanya bisa berlangsung berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan lebih lama.
Ada ketakutan yang tidak terlihat.
Ada malam-malam ketika seseorang sulit tidur karena terus membayangkan apa yang mungkin terjadi besok.
Ada keinginan untuk menghilang dari semua orang.
Ada rasa malu yang bahkan tidak tahu harus ditujukan kepada siapa.
Dan ada saat-saat ketika hidup terasa begitu melelahkan.
Aku pernah sampai pada titik itu.
Beberapa kali, dalam kondisi yang sangat tertekan, muncul pikiran untuk mengakhiri hidup.
Aku tahu pikiran itu salah. Aku tahu hidup bukan sesuatu yang boleh dengan mudah kita akhiri. Dalam keyakinanku, ada dosa yang mengikutinya.
Tetapi mengetahui bahwa sesuatu itu salah ternyata tidak otomatis membuat seseorang kebal terhadap rasa putus asa.
Ketika seseorang sudah terlalu takut, terlalu lelah, dan merasa tidak memiliki jalan keluar, pikirannya bisa pergi ke tempat-tempat yang bahkan sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.
Untungnya, aku masih ada di sini.
Dan mungkin justru karena pernah merasakan ketakutan itu, sekarang aku berpikir berkali-kali sebelum melakukan sesuatu yang mungkin membuat orang lain merasakan hal yang sama.
Aku tahu bagaimana rasanya menjadi sasaran.
Aku tahu bagaimana rasanya ketika dunia seolah-olah sedang menunjuk ke arahmu.
Karena itu aku tidak ingin menjadi orang yang membuat orang lain mengalami ketakutan yang pernah kurasakan.
Mungkin itulah sebabnya aku semakin tidak mengerti dengan budaya mempermalukan seseorang di ruang publik.
Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang terjadi di dalam kepala orang lain.
Kita hanya melihat unggahannya.
Melihat potongan videonya.
Membaca satu sisi ceritanya.
Lalu merasa sudah mengetahui semuanya.
Padahal manusia tidak sesederhana sebuah unggahan.
Dan mungkin sebelum menekan tombol share, ada satu pertanyaan yang seharusnya lebih sering kita ajukan kepada diri sendiri,
Kalau suatu hari posisi kita berada di sana, apakah kita masih menganggapnya sesederhana ini?
Aku tidak tahu sampai kapan budaya seperti ini akan terus berlangsung.
Aku hanya tahu, bagi seseorang yang pernah menjadi korban keganasan netizen, melihat semuanya terjadi lagi bisa terasa seperti membuka kembali luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Dan terkadang, ketika luka lama terbuka, seseorang tidak benar-benar ingin mati.
Ia hanya ingin rasa takutnya berhenti.
Ia ingin dunia berhenti sebentar.
Ia ingin tidak lagi merasa sedang dikejar oleh sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Mungkin itu yang dulu sebenarnya ingin kulakukan.
Bukan menghilang dari kehidupan.
Hanya ingin berhenti merasa takut.
Dan hari ini, setelah melewati semuanya, aku semakin mengerti satu hal,
kita tidak pernah tahu seberapa berat akibat dari satu tindakan kita terhadap hidup orang lain.
Karena itu, kalau masih bisa memilih untuk tidak mempermalukan, tidak menyebarkan, tidak menghakimi, dan tidak menjadikan seseorang tontonan ramai-ramai.....
barangkali memilih diam bukanlah sebuah kelemahan.
Barangkali itu justru bentuk paling sederhana dari belas kasih.





Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!