Kesepian


Biasanya ada suara istri, suara anak, suara pintu dibuka, suara langkah kaki, atau sekadar suara televisi yang sebenarnya tidak terlalu diperhatikan. Sekarang semuanya hilang. Rumahnya masih sama. Barang-barangnya masih ada. Kamar masih di tempat yang sama. Meja, kursi, pakaian, bahkan hal-hal kecil yang biasanya tidak pernah kupikirkan masih berada di tempatnya.

Hanya orang-orangnya yang tidak ada.

Istri pulang ke Jember karena kondisinya sedang hamil dan belakangan diketahui dari hasil pemeriksaan di puskesmas bahwa ia terkena Hepatitis B. Karena kehamilannya juga membuat aktivitasnya terbatas, akhirnya untuk sementara ia memilih tinggal di Jember. Anak ikut bersamanya.

Dan sejak saat itu, aku tinggal sendirian.

Awalnya kupikir tidak akan terlalu masalah. Toh selama ini aku juga orang yang cukup nyaman dengan kesendirian. Aku terbiasa menghabiskan waktu sendiri, tidak banyak bicara, dan tidak terlalu membutuhkan keramaian. Bahkan kadang aku merasa rumah yang tenang adalah sesuatu yang menyenangkan.

Ternyata kesendirian terasa berbeda ketika orang-orang yang biasanya mengisi rumah memang benar-benar pergi.

Ada perbedaan antara menikmati kesendirian dan ditinggalkan oleh suasana yang selama ini kita anggap biasa.

Sekarang ketika pulang, tidak ada yang menyambut. Tidak ada anak yang bisa diajak bercanda atau sekadar ditanya sudah makan atau belum. Tidak ada istri yang bisa diajak ngobrol tentang hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting. Kadang aku menelepon, tetapi karena kondisi istri sedang seperti ini, rasanya juga tidak bisa mengobrol panjang seperti biasanya.

Akhirnya aku lebih sering diam.

Malam hari mungkin yang paling terasa. Rumah menjadi terlalu luas untuk satu orang. Aku bisa berpindah dari ruang satu ke ruang lain tanpa ada yang bertanya mau ke mana. Mau makan tidak ada yang menemani. Mau cerita tidak tahu harus cerita kepada siapa.

Lucunya, selama ini aku sering merasa butuh waktu sendiri.

Sekarang ketika benar-benar sendirian, aku justru baru tahu bahwa yang selama ini kubutuhkan mungkin bukan rumah yang sunyi. Aku hanya membutuhkan sedikit ruang untuk diriku sendiri di tengah orang-orang yang tetap ada.

Beberapa hari ini aku juga mulai berpikir untuk ngekos sementara sampai istri melahirkan. Entah bagaimana nanti. Rasanya hidup sedang berubah cukup banyak dalam waktu yang singkat, sementara aku sendiri belum sempat memahami semuanya.

Ada istri yang harus menjalani kehamilan dalam kondisi yang tidak mudah. Ada anak yang ikut tinggal di Jember. Ada rumah yang sekarang hanya berisi aku. Ada pekerjaan dan rutinitas yang tetap harus berjalan seolah-olah tidak ada apa-apa.

Padahal di dalam kepala rasanya sedang berantakan.

Aku bahkan bingung harus melakukan apa setelah pulang kerja.

Dulu ada rutinitas kecil yang tidak pernah terasa penting. Bermain sebentar dengan anak. Mendengar istri bercerita. Makan bersama. Menonton sesuatu. Atau sekadar duduk di rumah tanpa melakukan apa-apa tetapi ada orang lain di sekitar.

Sekarang hal-hal kecil itu justru terasa paling besar karena sudah tidak ada.

Mungkin begini rasanya ketika rumah masih berdiri, tetapi suasananya sudah berubah.

Aku tidak sedang sendirian di dunia. Istri dan anakku hanya sedang berada di tempat lain. Aku tahu mereka ada. Aku tahu mereka baik-baik saja dalam penjagaan keluarga di Jember. Aku juga tahu ini hanya sementara.

Tetapi tetap saja, ketika malam datang dan aku membuka pintu rumah seorang diri, ada bagian dari diriku yang terasa kosong.

Beberapa hari ini aku baru menyadari satu hal sederhana,

ternyata rumah bukan sekadar tempat untuk pulang. Rumah adalah tentang siapa yang ada di dalamnya.

Dan ketika mereka pergi untuk sementara, aku baru benar-benar merasakan betapa ramainya hidupku selama ini.

Sekarang rumah ini sunyi.

Dan untuk sementara, aku harus belajar tinggal di dalam kesunyian itu.

Comments

Popular Posts