Ketika Menemuinya Justru Lebih Banyak Sebalnya


Mungkin aku sedang lelah.

Mungkin juga karena beberapa hari ini badanku kurang enak. Meriang sedikit, kepala tidak benar-benar nyaman, dan mungkin suasana hati ikut berantakan. Atau memang sesederhana aku sedang tidak mood.

Entahlah.

Tapi kemarin, ketika bertemu dengannya, memang ada rasa senang. Sekilas. Seperti biasanya. Ada semacam perasaan kecil ketika melihat dia muncul di tempat yang sama. Perasaan yang dulu bisa bertahan lama hanya karena satu tatapan atau satu tingkah kecil darinya.

Tapi kemarin rasa senang itu cepat sekali hilang.

Setelahnya justru lebih banyak sebelnya.

Dan yang membuatku bingung, beberapa hari terakhir ini rasanya memang begitu. Aku masih senang ketika melihatnya, tetapi rasa senang itu seperti tidak lagi sebesar sebelumnya. Baru beberapa saat melihatnya, sudah muncul rasa jengkel. Seperti ada sesuatu dalam diriku yang mengatakan, sudahlah.

Padahal dia tidak melakukan sesuatu yang benar-benar salah.

Dia masih dengan caranya sendiri mencari perhatianku.

Dan aku masih dengan kebiasaanku: pura-pura tidak peduli.

Bedanya, kali ini tingkahnya juga tidak seperti sebelumnya.

Dulu dia seperti sedikit nakal. Ada saja tingkah kecil yang membuatku sadar bahwa dia sedang berusaha menarik perhatianku. Kadang terasa lucu, kadang menggemaskan, kadang malah membuatku bertanya-tanya sepanjang hari.

Sekarang tidak.

Dia hanya berdiri agak jauh.

Pura-pura sibuk melakukan sesuatu.

Seolah-olah ada pekerjaan yang sangat penting di tempat itu, padahal entah kenapa dia memilih berdiri di sana.

Aku tahu pola itu.

Atau setidaknya, aku merasa tahu.

Dia seperti ingin terlihat tanpa benar-benar datang mendekat.

Aku pun tetap memainkan peranku.

Pura-pura tidak melihat.

Pura-pura sibuk.

Pura-pura bahwa keberadaannya tidak berpengaruh apa-apa.

Padahal tentu saja aku tahu dia ada di sana.

Dan mungkin dia juga tahu bahwa aku tahu.

Lucu sebenarnya.

Dua orang berdiri di tempat yang sama, sama-sama sadar satu sama lain, tetapi sama-sama berpura-pura sedang sibuk dengan dunianya masing-masing.

Hanya saja, kali ini aku tidak menikmatinya seperti dulu.

Entah karena aku sedang lelah, atau memang ada sesuatu dalam diriku yang mulai berubah.

Dulu ketika dia berdiri jauh dariku seperti itu, aku mungkin akan diam-diam memperhatikannya. Bertanya-tanya apa yang sedang dia pikirkan. Apakah dia sengaja berdiri di sana? Apakah dia sedang menungguku? Apakah dia ingin aku menyadari keberadaannya?

Sekarang pertanyaan-pertanyaan itu masih muncul.

Tetapi setelahnya ada sesuatu yang lain.

Kenapa sih?

Dan pertanyaan itu terdengar lebih seperti keluhan daripada rasa penasaran.

Mungkin aku memang sedang jenuh.

Jenuh dengan sesuatu yang tidak pernah benar-benar bergerak ke mana-mana.

Jenuh dengan perhatian yang harus ditebak.

Jenuh dengan perasaan sendiri yang setiap kali melihatnya harus kembali memilih antara mendekat atau menghindar.

Atau mungkin aku hanya sedang sakit dan emosiku sedang tidak berada pada tempat yang semestinya.

Aku tidak tahu.

Yang jelas, ada sesuatu yang berubah beberapa hari ini.

Aku masih menyukainya.

Setidaknya aku belum bisa mengatakan sebaliknya.

Aku masih sadar ketika dia berada di dekatku. Masih tahu ketika dia sedang mencoba menarik perhatianku. Masih menangkap gerak-geriknya meskipun aku berusaha mengabaikan.

Tetapi sekarang, di antara rasa senang itu, ada rasa sebal yang semakin sering muncul.

Dan justru itu yang membuatku khawatir.

Sebab aku tidak tahu apakah ini hanya suasana hati yang buruk dan tubuh yang sedang tidak fit, atau ada bagian dari diriku yang diam-diam mulai lelah memainkan permainan yang sama.

Mungkin besok aku akan kembali seperti dulu.

Mungkin ketika melihatnya lagi, semua rasa sebal itu hilang begitu saja.

Atau mungkin tidak.

Mungkin perasaan memang sedang memberitahuku sesuatu.

Hanya saja, seperti biasa, aku belum tahu bagaimana cara membacanya.

Comments

Popular Posts