Kisah yang Belum Benar-benar Dimulai dan Diakhiri


Seperti yang pernah kubilang kemarin, rencana awalku memang akhirnya gagal. Sudah kuduga sejak siang bahwa kemungkinan untuk bertemu dengannya kecil sekali. Aku punya acara, waktu pulang tidak pasti, dan terlalu banyak hal yang berada di luar kendaliku. Tapi karena sudah terlalu terbiasa dengan kegagalan semacam itu, aku tidak benar-benar menyerah. Aku menyiapkan Plan B dan bahkan Plan C, sekadar untuk memberi ruang bagi kemungkinan yang mungkin saja terjadi. Dan ternyata, seperti pengalaman-pengalaman sebelumnya, Plan B justru kembali menemukan jalannya sendiri.

Ketika aku kembali ke kantor setelah dinas keluar, aku melihatnya masih berada di parkiran. Entah sedang melakukan apa. Aku sendiri tidak tahu apakah dia memang punya urusan di sana atau kebetulan belum pulang. Tapi melihatnya masih ada di sana langsung membuat semua perkiraan yang sejak siang kubuat terasa seperti mendapatkan pembenaran. Aku sempat berpikir, jangan-jangan memang begini caranya kami bertemu? Bukan lewat rencana yang matang, bukan lewat percakapan yang sengaja dibuat, tetapi lewat kebetulan-kebetulan kecil yang selalu muncul ketika aku sudah hampir menyerah.

Dan seperti biasa, dia punya caranya sendiri untuk mencari perhatianku. Tidak pernah benar-benar terang-terangan dalam bentuk sapaan atau percakapan, tetapi cukup untuk membuatku sadar bahwa dia ada di sana. Sedangkan aku juga tidak kalah lihai. Aku punya seribu cara untuk berpura-pura tidak peduli. Bisa sibuk dengan sesuatu, bisa melihat ke arah lain, bisa memasang wajah biasa saja, bisa bertindak seolah-olah keberadaannya tidak mengubah apa pun dalam diriku. Padahal sebenarnya aku memperhatikannya.

Mungkin inilah bagian paling lucu dari kisah kami.

Kami seperti dua orang yang sama-sama ingin mendekat, tetapi sama-sama terlalu gengsi untuk mengatakan bahwa kami ingin mendekat. Dia mencari perhatian, aku pura-pura tidak melihat. Aku melihat, tetapi pura-pura tidak tertarik. Dia berada di dekatku, aku tetap diam. Aku mungkin sengaja berada di jalurnya, lalu ketika dia mendekat, justru aku yang mencari kesibukan lain. Begitu terus, berulang-ulang, sampai aku sendiri kadang bertanya: sebenarnya kami ini sedang melakukan apa?

Tidak ada yang benar-benar maju.

Tidak ada yang benar-benar mundur.

Hanya bergerak memutar di lingkaran yang sama.

Kadang aku merasa kami seperti dua orang yang sedang jatuh cinta, tetapi justru takut pada konsekuensi dari pengakuan itu sendiri. Takut kalau satu kalimat yang terlalu jujur akan menghancurkan seluruh permainan kecil yang selama ini membuat kami tetap dekat. Takut kalau setelah salah satu dari kami mengatakan, “Aku menyukaimu,” semuanya berubah. Tatapan yang selama ini terasa menyenangkan mungkin menjadi canggung. Perhatian yang selama ini terasa seperti rahasia mungkin tiba-tiba menjadi beban. Bahkan mungkin salah satu dari kami justru memilih menjauh.

Maka kami memilih cara yang paling aman, tidak mengatakan apa-apa.

Kami hanya memberi tanda.

Mencari perhatian.

Mendekat sedikit.

Kemudian mundur lagi.

Dan entah kenapa, pola yang seharusnya melelahkan itu justru masih terasa menyenangkan.

Mungkin karena selama belum ada yang mengucapkan apa-apa, semuanya masih mungkin.

Bisa jadi cinta.

Bisa jadi hanya kekaguman.

Bisa jadi aku salah membaca.

Bisa jadi dia juga salah membaca.

Tapi selama kami masih sama-sama mencari cara untuk berada di sekitar satu sama lain, kisah ini belum benar-benar selesai.

Dan mungkin itulah alasan mengapa aku masih menyebutnya sebuah kisah.

Sebab kami belum pernah benar-benar memulainya.

Namun juga belum pernah benar-benar mengakhirinya.

Comments

Popular Posts