Menjaga Jarak atau Sedang Menghindariku
Sepertinya, kalau dugaanku benar, dan mudah-mudahan saja aku salah, dia sedang menghindariku.
Aku tidak tahu.
Dan justru karena tidak tahu, pikiranku kembali membuat berbagai kemungkinan.
Mungkin dia memang sengaja menjaga jarak.
Mungkin dia menghindar karena sudah mengetahui perasaanku.
Mungkin ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman setelah menyadari bahwa selama ini aku memperhatikannya lebih dari yang seharusnya.
Atau jangan-jangan tidak ada apa-apa.
Mungkin memang hari itu dia sedang punya kegiatan lain yang mengharuskannya pulang lebih cepat.
Sesederhana itu.
Tetapi begitulah kalau seseorang sudah terlalu memenuhi pikiran kita. Hal-hal kecil yang sebenarnya biasa saja tiba-tiba terasa seperti sebuah tanda.
Biasanya aku melihatnya berada di sekitar.
Sekarang tidak.
Biasanya ada kesempatan untuk sekadar melihatnya dari kejauhan.
Sekarang tidak ada.
Dan dari ketiadaan kecil itu, pikiranku mulai bekerja terlalu jauh.
Aku mulai bertanya-tanya.
Apakah dia sengaja menghindar?
Apakah dia sedang menjaga jarak?
Apakah dia tahu sesuatu?
Atau sebenarnya aku saja yang sedang mencari jawaban dari sesuatu yang bahkan tidak pernah menjadi pertanyaan?
Aku sadar, selama ini aku memang terlalu sering membaca keadaan berdasarkan apa yang ingin kubaca.
Sebuah tatapan bisa menjadi tanda.
Sebuah kebetulan bisa terasa seperti pesan.
Seseorang yang berdiri agak jauh bisa kuanggap sedang mencari perhatianku.
Dan ketika orang yang sama tiba-tiba tidak terlihat, aku bisa dengan mudah menyimpulkan bahwa dia sedang menghindar.
Padahal mungkin dia hanya sedang menjalani harinya seperti biasa.
Mungkin memang ada urusan yang harus diselesaikan.
Mungkin ada pekerjaan lain.
Mungkin ada sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan denganku.
Tapi karena aku sedang memikirkannya, semuanya terasa berhubungan denganku.
Itulah yang membuatku kadang ingin tertawa sekaligus merasa kasihan kepada diriku sendiri.
Aku bahkan belum tahu apa yang sebenarnya ada di dalam pikirannya, tetapi aku sudah sibuk membuat kesimpulan tentang dirinya.
Dan yang paling menyebalkan adalah aku tidak punya keberanian untuk memastikan.
Aku bisa saja bertanya.
Aku bisa saja menyapanya.
Aku bisa saja bersikap biasa dan melihat bagaimana reaksinya.
Tetapi aku memilih diam.
Lalu setelah itu, aku sendiri yang tersiksa oleh berbagai kemungkinan.
Mungkin memang begitulah konsekuensi dari hubungan yang tidak pernah benar-benar dimulai.





Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!