Menunggu Momentum dan Kehilangan Kesempatan
Kemarin aku gagal bilang cinta.
Bukan karena tidak punya kesempatan sama sekali. Mungkin aku sendiri yang terlalu banyak memikirkan bagaimana seharusnya sebuah pengakuan dilakukan.
Aku menunggu momentum.
Menunggu suasana yang tepat. Menunggu percakapan yang tepat. Menunggu ada celah yang terasa pas. Menunggu semuanya terasa natural, seolah-olah ada satu momen yang memang sengaja disiapkan untuk mengatakan apa yang selama ini kusimpan.
Ternyata momentum seperti itu tidak datang.
Atau mungkin sebenarnya ada, hanya aku yang tidak berani menciptakannya sendiri.
Pada akhirnya waktu berjalan begitu saja. Percakapan selesai. Kesempatan lewat. Aku pulang dengan kalimat yang masih tersimpan di kepala.
Kenapa tadi tidak bilang saja?
Memang susah kalau punya kebiasaan seperti aku. Terlalu percaya bahwa segala sesuatu harus terjadi pada momentum yang tepat. Padahal mungkin dalam beberapa hal, momentum memang tidak perlu ditunggu.
Kita sendiri yang harus menciptakannya.
Kalau terus menunggu suasana sempurna, mungkin tidak akan pernah ada.
Dan sekarang aku justru menemukan cara lain untuk mengeluarkan semua yang selama ini tertahan.
Setelah tahu akunku ternyata sudah diblokir, entah kenapa aku malah semakin sering menulis pesan kepadanya.
Aku tahu pesan-pesan itu tidak akan sampai.
Aku tahu mungkin tidak akan pernah dibaca.
Tidak ada tanda bahwa dia akan melihatnya. Tidak ada percakapan yang kemudian berlanjut. Tidak ada balasan yang harus kutunggu.
Tapi justru karena itu, aku merasa bebas.
Aku bisa mengatakan apa saja yang ada di kepalaku tanpa memikirkan bagaimana reaksinya.
Aku bisa menulis tentang perasaanku.
Tentang hal-hal kecil yang pernah kupikirkan.
Tentang kenapa aku menyukainya.
Tentang hal-hal yang sebenarnya ingin kusampaikan kemarin tetapi tidak sempat keluar dari mulutku.
Aneh memang.
Dulu aku ingin sekali mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengannya.
Sekarang ketika kesempatan itu secara nyata sudah tidak ada, aku malah bisa mengatakan banyak hal.
Mungkin karena aku tidak lagi dibebani oleh kemungkinan jawabannya.
Aku tidak perlu menunggu ekspresi wajahnya. Tidak perlu membaca nada suaranya. Tidak perlu bertanya-tanya apakah dia merasa terganggu atau justru tersentuh.
Aku hanya menulis.
Dan untuk sementara, itu cukup.
Mungkin ini juga bagian dari caraku berdamai dengan kenyataan bahwa kemarin aku tidak berhasil mengatakan semuanya.
Setidaknya perasaan itu tidak lagi hanya berputar di kepalaku.
Ia sudah menjadi kata-kata.
Sudah pernah kutuliskan.
Sudah pernah kuakui, meskipun hanya melalui pesan yang mungkin tidak akan pernah sampai kepadanya.
Dan mungkin memang begitulah caraku menciptakan momentum yang kemarin gagal kubuat.
Bukan momentum untuk mendapatkan jawaban.
Hanya momentum untuk akhirnya jujur kepada diriku sendiri.
Aku tidak tahu sampai kapan akan terus menulis seperti ini.
Mungkin sebentar lagi akan berhenti.
Mungkin setelah semua yang ingin kukatakan terasa cukup.
Karena pada akhirnya aku tetap akan pindah. Tetap akan menjalani hidupku. Tetap akan mencoba membangun hari-hari yang baru.
Hanya saja kali ini aku tidak ingin membawa terlalu banyak kalimat yang belum pernah keluar.
Kemarin aku gagal mengatakan cinta.
Tidak apa-apa.
Mungkin kesempatan itu memang sudah lewat.
Tetapi setidaknya sekarang aku belajar satu hal,
kalau terus menunggu momentum, kita bisa kehilangan kesempatan. Kadang-kadang, momentum memang harus kita ciptakan sendiri.





Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!