Mungkin Aku Memang Tidak Perlu Mengatakannya
Seperti sekarang ini.
Aku tidak merasakan apa-apa.
Aneh, padahal beberapa hari lalu aku begitu yakin sedang merindukannya. Aku menghitung hari tanpa bertemu, membayangkan kapan bisa melihatnya lagi, bahkan sempat merasa bahwa jarak beberapa hari justru membuat perasaanku semakin menumpuk.
Tapi sekarang?
Lempeng saja.
Aku masih sesekali mencari tahu tentang dirinya lewat story teman-temannya. Masih ada sedikit rasa penasaran, tentu saja. Aku masih ingin tahu dia sedang apa, ada di mana, atau sekadar ingin memastikan apakah dia muncul di suatu unggahan.
Tapi setelah melihatnya pun tidak ada ledakan apa-apa.
Tidak ada dada yang tiba-tiba sesak.
Tidak ada rasa ingin segera bertemu.
Tidak ada perasaan seperti beberapa hari lalu.
Aku hanya melihat, lalu selesai.
Dan dari situ muncul pertanyaan yang agak mengganggu:
Mungkin sebenarnya aku memang tidak perlu mengungkapkan perasaanku kepadanya?
Pertanyaan itu terasa begitu berbeda dibandingkan beberapa hari lalu ketika aku sudah berencana membuat kejutan, membayangkan wajahnya ketika mendengar pengakuanku, bahkan membayangkan dia tidak bisa tidur pada malam harinya karena terus memikirkan kata-kataku.
Sekarang semua itu terasa jauh.
Seperti rencana milik orang lain.
Aku bahkan mulai bertanya-tanya, jangan-jangan selama ini aku terlalu terbawa oleh suasana.
Mungkin ketika sering bertemu dengannya, perasaan itu tumbuh karena keberadaannya terus berada di depan mata. Setiap tatapan menjadi pemicu. Setiap tingkah kecil menjadi bahan pikiran. Setiap pertemuan memberi energi baru kepada sesuatu yang sebenarnya sudah lama kupelihara sendiri.
Lalu ketika aku tidak melihatnya beberapa hari, perhatian itu perlahan kehilangan bahan bakarnya.
Ditambah sekarang aku sedang sibuk.
Ada pekerjaan. Ada tugas ke luar kota. Ada hal-hal yang harus kupikirkan. Kepalaku tidak lagi punya ruang sebesar biasanya untuk mengurusi seseorang yang bahkan belum tentu tahu seberapa sering dirinya memenuhi pikiranku.
Mungkin memang sesederhana itu.
Perasaan bisa terasa sangat besar ketika kita memberinya ruang.
Dan bisa terasa kecil ketika kehidupan meminta perhatian kita untuk hal-hal lain.
Tapi tetap saja aku belum yakin.
Sebab meskipun rasanya lempeng, aku masih mencari story teman-temannya.
Kalau benar-benar sudah tidak peduli, mengapa aku masih mencari?
Barangkali rasa itu belum hilang.
Mungkin hanya sedang diam.
Atau mungkin aku sedang mulai melihat semuanya dengan lebih jernih karena tidak sedang berada tepat di hadapannya.
Aku tidak tahu.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak terlalu tergesa-gesa mencari jawabannya.
Mungkin memang aku tidak perlu mengungkapkan apa-apa.
Mungkin perasaan ini cukup kusimpan sebagai sesuatu yang pernah membuat hari-hariku terasa berbeda.
Atau mungkin nanti, ketika kesibukan ini selesai dan aku kembali bertemu dengannya, semua perasaan itu akan kembali sekaligus.
Aku tidak tahu.
Dan ternyata ketidaktahuan kali ini tidak terlalu menyakitkan.
Justru terasa agak melegakan.
Sebab selama ini aku seperti terus mengejar satu pertanyaan:
Haruskah aku mengatakan bahwa aku mencintainya?
Sekarang pertanyaannya berubah.
Apakah aku masih perlu mengatakannya?
Dan untuk sementara, jawabannya mungkin:
Tidak tahu.
Tapi tidak apa-apa.
Mungkin untuk sekali ini aku tidak perlu memaksa perasaan untuk mengambil keputusan.
Biarkan saja.
Kalau memang dia penting, perasaan itu akan menemukan jalannya sendiri untuk kembali.
Kalau ternyata tidak, mungkin kesibukan beberapa hari ini sedang menunjukkan sesuatu yang selama ini tidak sanggup kulihat ketika terlalu dekat dengannya.
Bahwa mungkin aku tidak sedang kehilangan cinta.
Mungkin aku hanya sedang mendapatkan kembali diriku sendiri.


Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!