Mungkin Aku Sudah Terlalu Lama Menyukainya
Untuk pertama kalinya, kemarin sore aku membencinya.
Bukan sekadar kesal. Bukan juga perasaan sebal yang muncul sebentar lalu hilang. Ada sesuatu yang lebih pekat dari itu. Setiap kali mataku menangkap keberadaannya, muncul dorongan aneh untuk menjauh. Bahkan hal-hal kecil yang biasanya tidak pernah kupersoalkan mendadak terasa mengganggu. Cara dia berbicara, cara dia bergerak, cara dia berada di sekitar orang lain, semuanya seperti salah di mataku.
Dan aku tidak menyukai perasaan itu.
Sebab selama ini aku selalu menganggap diriku tahu apa yang kurasakan terhadapnya. Aku menyukainya. Aku tertarik padanya. Aku menunggu kemunculannya. Aku bahkan sering berharap ada alasan agar kami bisa bertemu, meskipun ketika kesempatan itu benar-benar datang, aku justru pura-pura tidak melihatnya.
Kemarin, kesempatan itu kembali datang.
Bahkan terlalu banyak.
Ada waktu untuk mendekat. Ada kesempatan untuk mengajaknya bicara. Tidak ada alasan yang benar-benar menghalangi. Tetapi untuk pertama kalinya, aku tidak ingin melakukannya.
Aku ingin pergi.
Aku ingin dia menjauh.
Dan yang paling membuatku takut adalah betapa kuat dorongan itu.
Aku mencoba meyakinkan diri bahwa ini bukan karena cemburu. Aku tidak cemburu. Setidaknya menurut keyakinanku sendiri, aku tidak punya alasan untuk itu. Aku masih percaya bahwa dia menyukaiku. Aku masih percaya bahwa selama ini banyak tingkahnya adalah caranya mencari perhatian dariku.
Lalu mengapa aku membencinya?
Pertanyaan itu terus muncul.
Mungkin aku sedang lelah.
Lelah menebak-nebak tatapan. Lelah membaca gerak tubuh. Lelah dengan kedekatan yang tidak pernah benar-benar menjadi kedekatan. Lelah dengan perasaan yang setiap hari seperti harus mencari bukti baru bahwa semua yang kurasakan bukan hanya khayalanku sendiri.
Barangkali selama ini aku terlalu lama berdiri di tempat yang sama.
Maju sedikit, mundur lagi.
Menyukai, kemudian menghindar.
Merindukan, lalu berpura-pura tidak peduli.
Menginginkan perhatian darinya, tetapi ketika perhatian itu benar-benar datang, aku malah menjaga jarak.
Mungkin ada bagian dalam diriku yang akhirnya muak dengan permainan itu.
Dan mungkin, rasa muak itu kemarin berubah menjadi kebencian.
Yang membuatnya semakin aneh, aku tetap memperhatikannya.
Aku tetap tahu di mana dia berada. Tetap sadar ketika dia lewat. Tetap menangkap keberadaannya meskipun sengaja tidak menoleh. Bahkan ketika aku berusaha meyakinkan diri bahwa aku tidak peduli, ternyata mataku masih bekerja diam-diam.
Di situlah aku mulai curiga.
Jangan-jangan yang kubenci bukan dirinya.
Jangan-jangan aku sedang membenci perasaan yang muncul setiap kali berada di dekatnya.
Aku membenci diriku yang menjadi tidak tenang karena seseorang.
Aku membenci diriku yang bisa menunggu seseorang datang, lalu kecewa ketika dia tidak muncul.
Aku membenci kenyataan bahwa mood-ku bisa berubah hanya karena satu tatapan, satu sikap, atau bahkan satu keberadaan.
Selama ini kukira aku sedang menikmati perasaan ini.
Ternyata mungkin aku juga sedang dikuras olehnya.
Dan kemarin, untuk pertama kalinya, tubuh dan pikiranku seperti bersepakat untuk berkata, cukup.
Itulah yang paling menggangguku.
Sebab kalau benar aku sudah lelah, mungkin rasa benci itu bukan pertanda bahwa aku berhenti menyukainya.
Mungkin justru sebaliknya.
Mungkin aku sudah terlalu lama menyukainya sampai perasaan itu tidak lagi punya tempat yang nyaman untuk tinggal.
Dan ketika cinta, ketertarikan, gengsi, harapan, ketakutan, dan ketidakpastian menumpuk terlalu lama di tempat yang sama, barangkali yang keluar memang bukan lagi rindu.
Kadang-kadang, ia keluar sebagai kebencian.
Kemarin aku merasakannya.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak yakin siapa sebenarnya yang sedang kubenci, dia, atau diriku sendiri.


Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!