Mungkin Bukan Sekarang

 


Seperti yang pernah kupikirkan sebelumnya, mungkin memang perasaan ini tidak direstui semesta.

Entah bagaimana menjelaskannya, tetapi setiap kali aku benar-benar ingin berterus terang tentang apa yang kurasakan, selalu saja ada sesuatu yang membuat kami tidak bertemu.

Bukan sekali.

Bukan dua kali.

Berkali-kali.

Aku sudah menyusun rencana. Sudah membayangkan percakapannya. Sudah memikirkan kalimat pertama yang akan keluar dari mulutku. Bahkan kadang aku merasa, kali ini pasti bisa.

Tapi kemudian selalu ada saja yang terjadi.

Aku datang, dia sudah pergi.

Aku punya waktu, dia tidak ada.

Aku merasa sudah menemukan kesempatan, keadaan justru berubah.

Sampai akhirnya aku kehabisan akal.

Aku bahkan sampai putus asa.

Mungkin memang ada sesuatu yang sedang dipaksakan untuk kupahami, bahwa aku tidak bisa memaksa sebuah pertemuan hanya karena aku menginginkannya.

Ada hal-hal yang berada di luar kendaliku.

Dan mungkin sekarang aku sedang dipaksa untuk menerima itu.

Awalnya aku masih keras kepala.

Aku berpikir, kalau aku belum mengatakan perasaanku, berarti ceritanya belum selesai. Aku masih ingin mencari satu kesempatan terakhir. Aku masih ingin memastikan bahwa setidaknya dia pernah tahu apa yang sebenarnya kurasakan.

Tetapi semakin aku mencoba, semakin keadaan seperti menutup jalan.

Akhirnya aku mulai berpikir dengan cara yang berbeda.

Mungkin memang bukan sekarang.

Mungkin kalau memang ada jalan untuk kami, nanti akan ada waktunya kami dipertemukan lagi.

Entah kapan.

Aku tidak tahu.

Mungkin beberapa bulan lagi.

Mungkin bertahun-tahun.

Mungkin di tempat yang sama sekali tidak pernah kami bayangkan.

Atau mungkin juga tidak pernah.

Aku tidak punya jawaban untuk itu.

Tetapi setidaknya sekarang aku tidak ingin lagi mengejar pertemuan itu dengan cara yang membuatku kelelahan sendiri.

Aku akan pergi.

Aku akan menjalani hidupku.

Aku akan mencoba fokus pada diriku sendiri, pada pekerjaan, pada hal-hal yang memang harus kuurus setelah ini.

Kalau memang cerita ini selesai sampai di sini, aku akan belajar menerimanya.

Tetapi kalau suatu hari nanti keadaan mempertemukan kami kembali, mungkin saat itu aku akan tahu apa yang harus kulakukan.

Mungkin saat itu aku tidak perlu lagi membuat begitu banyak rencana.

Mungkin pertemuannya justru terjadi secara sederhana, tanpa dicari.

Dan kalau saat itu aku masih memiliki perasaan yang sama, mungkin aku akan mengatakan semuanya.

Bukan karena aku mengejar takdir.

Hanya karena kesempatan itu akhirnya datang dengan sendirinya.

Aku sadar, dengan berpikir seperti ini sebenarnya aku masih berharap.

Iya.

Aku masih berharap.

Kalau tidak, mungkin aku tidak akan mengatakan “mungkin bukan sekarang.”

Aku mengatakan itu karena masih ada bagian kecil dalam diriku yang percaya bahwa cerita ini mungkin belum benar-benar selesai.

Tapi kali ini aku tidak ingin memaksa.

Biarlah waktu yang menjawab.

Kalau memang ada jalan, mungkin nanti kami akan dipertemukan lagi.

Kalau tidak, mungkin semua pertemuan yang gagal ini memang sudah menjadi jawabannya.

Aku tidak tahu mana yang benar.

Untuk sekarang, aku hanya bisa pergi.

Membawa perasaanku sendiri.

Membiarkan waktu berjalan.

Dan menyimpan satu kalimat kecil di dalam hati,

mungkin bukan sekarang.

Entah kapan.

Dan entah dengan cara seperti apa.

Tetapi kalau suatu hari kami dipertemukan lagi, mungkin saat itu aku akan mengerti mengapa hari ini aku harus pergi tanpa sempat mengatakan apa-apa.

Comments

Popular Posts