Mungkin Ini Memang Bagian dari Proses

 


Aku tidak tahu apakah semua ini pada akhirnya benar-benar akan selesai.

Aku juga tidak tahu apakah perasaan seperti ini punya batas waktu.

Kemarin aku sudah menutup cerita.

Sudah mengatakan kepada diri sendiri bahwa waktuku menunggu telah selesai. Bahwa aku akan pergi, berpindah tempat, memulai rutinitas baru, dan membiarkan hidup berjalan tanpa terus mencari kesempatan untuk bertemu dengannya.

Dan memang, hidup terus berjalan.

Aku sudah pindah tempat kerja.

Orang-orang baru. Alat-alat baru. Suasana baru. Aku mulai membiasakan diri lagi dari awal.

Seharusnya semua itu cukup menjadi tanda bahwa aku juga sedang bergerak.

Tapi ternyata ada hal-hal kecil yang belum ikut berpindah.

Sampai sekarang, kadang aku masih membuka story orang lain.

Bukan karena ada sesuatu yang ingin kucari.

Atau setidaknya, begitu yang coba kukatakan kepada diriku sendiri.

Aku hanya melihat-lihat.

Lalu tanpa sadar, mataku masih mencari satu hal.

Apakah dia ada di sana atau tidak?

Kadang tidak ada.

Aku lanjut melihat story berikutnya.

Selesai.

Tapi kalau ternyata dia ada...

Entah kenapa aku masih bisa tersenyum.

Senyum kecil saja.

Bukan senyum karena merasa memiliki.

Bukan pula karena ada sesuatu yang terjadi.

Hanya seperti melihat seseorang yang pernah begitu dekat di dalam pikiranku, meskipun dalam kenyataan kami mungkin tidak pernah benar-benar memiliki cerita yang jelas.

Aneh.

Aku sudah bilang kepada diriku sendiri bahwa cerita itu selesai.

Aku sudah pergi.

Aku sudah tidak lagi menunggu pertemuan.

Tapi ternyata masih ada bagian kecil dari diriku yang sesekali ingin memastikan bahwa dia masih ada di dunia yang sama.

Masih menjalani hari-harinya.

Masih tersenyum.

Masih baik-baik saja.

Dan mungkin, untuk saat ini, itu saja sudah cukup.

Aku tidak tahu apakah ini berarti aku belum benar-benar selesai.

Mungkin iya.

Mungkin juga tidak.

Mungkin seseorang tidak benar-benar berhenti memiliki perasaan hanya karena dia memutuskan untuk berhenti mengejar.

Mungkin melepaskan bukan berarti tiba-tiba tidak peduli.

Mungkin melepaskan hanya berarti kita tidak lagi memaksa sesuatu untuk menjadi milik kita.

Aku masih bisa tersenyum ketika melihatnya.

Dan mungkin aku tidak perlu merasa bersalah karena itu.

Tidak semua senyum harus berarti ingin kembali.

Tidak semua rindu harus berarti ingin memiliki.

Tidak semua rasa harus diteruskan menjadi sebuah hubungan.

Barangkali ada perasaan yang cukup disimpan sebagai sesuatu yang pernah membuat hari-hari terasa sedikit berbeda.

Aku juga tidak tahu apakah suatu hari nanti namanya akan berhenti membuatku penasaran.

Apakah nanti aku akan membuka story orang lain tanpa lagi berharap melihatnya.

Apakah nanti wajahnya hanya akan menjadi wajah biasa.

Atau mungkin, suatu hari nanti, aku akan melihatnya dan tidak merasakan apa-apa lagi.

Aku tidak tahu.

Dan untuk pertama kalinya, mungkin aku tidak perlu tahu sekarang.

Mungkin ini memang bagian dari proses.

Proses untuk benar-benar pergi tanpa harus membenci.

Proses untuk melanjutkan hidup tanpa harus menghapus semua yang pernah kurasakan.

Proses untuk menerima bahwa seseorang bisa tetap berarti, meskipun akhirnya tidak menjadi bagian dari hidup kita.

Jadi kalau hari ini aku masih sesekali mencarinya di antara story orang lain, mungkin tidak apa-apa.

Kalau aku masih tersenyum ketika menemukannya, mungkin juga tidak apa-apa.

Aku tidak akan menganggap itu sebagai kegagalan untuk melupakan.

Aku hanya sedang belajar berjalan sambil membawa sisa-sisa perasaan yang perlahan, entah kapan, mungkin akan menjadi lebih ringan.

Dan kalau suatu hari nanti aku benar-benar tidak lagi mencarinya, mungkin itu bukan karena aku pernah berhenti peduli.

Mungkin karena akhirnya aku sudah sampai pada titik di mana aku tidak perlu lagi mencari tahu apakah dia ada atau tidak.

Untuk sekarang, aku belum sampai di sana.

Dan aku tidak perlu berpura-pura sudah.

Aku hanya tahu satu hal,

ceritanya sudah kututup.

Tapi mungkin perasaanku masih membutuhkan sedikit waktu untuk memahami bahwa halaman itu memang sudah berganti.

Comments

Popular Posts