Mungkin Memang Tidak Ditakdirkan Bertemu Lagi


Lagi-lagi gagal bertemu.

Lagi-lagi gagal mengutarakan isi hati.

Dan kali ini rasanya sedikit berbeda, karena waktuku semakin sedikit.

Akhir minggu ini aku sudah tidak akan sekantor dengannya lagi. Setelah itu, mungkin kami benar-benar tidak akan bertemu dalam waktu yang lama. Bisa jadi ini adalah kesempatan-kesempatan terakhir yang sebenarnya tidak kusadari sedang lewat satu per satu.

Kemarin aku sudah punya banyak rencana.

Aku sudah membayangkan bagaimana nanti kalau akhirnya bertemu. Apa yang akan kukatakan. Bagaimana memulainya. Bagaimana caranya supaya semuanya tidak terdengar terlalu tiba-tiba.

Ternyata setelah aku menyelesaikan tugas di luar dan sampai di kantor, dia sudah pulang.

Selesai.

Sesederhana itu.

Tidak ada percakapan. Tidak ada pertemuan. Tidak ada kesempatan untuk mengatakan apa pun.

Padahal biasanya dia menungguku sampai aku datang.

Entah kenapa akhir-akhir ini aku juga mulai memperhatikan bahwa dia lebih sering pergi lebih awal daripada biasanya.

Mungkin sebenarnya tidak ada maksud apa-apa.

Mungkin dia memang sedang punya urusan.

Mungkin waktunya kebetulan tidak cocok.

Aku tahu semua itu sangat mungkin.

Tetapi ketika seseorang sedang memiliki perasaan, hal-hal kecil seperti itu mudah sekali menjadi bahan untuk dipikirkan terlalu jauh.

Dan semakin lama aku justru semakin merasa seperti sedang berhadapan dengan sesuatu yang tidak bisa kupaksakan.

Seolah-olah keadaan terus memberikan jarak.

Setiap kali aku ingin mendekat, ada saja sesuatu yang membuat kami tidak bertemu.

Setiap kali aku merasa sudah menemukan kesempatan, kesempatan itu hilang.

Aku sampai berpikir, mungkin alam memang sedang berusaha mengatakan sesuatu.

Mungkin memang bukan kami.

Mungkin semua kebetulan yang terus menghalangi ini sebenarnya hanya cara keadaan menunjukkan bahwa hubungan ini tidak perlu diteruskan.

Bahwa kami memang tidak seharusnya bersama.

Lucunya, aku masih saja ngeyel.

Aku masih berpikir, tapi aku harus mengungkapkannya.

Seolah-olah kalau aku berhasil mengatakan semuanya, ada kemungkinan cerita ini berubah.

Seolah-olah pengakuanku bisa menjadi satu pintu terakhir yang membuka kemungkinan kami menjalin hubungan.

Padahal aku sendiri tahu, belum tentu.

Bahkan setelah aku mengatakannya pun, aku tidak tahu apa yang akan terjadi.

Bisa saja dia menerimanya.

Bisa juga dia menolaknya.

Bisa saja setelah itu kami menjadi semakin dekat.

Bisa juga justru semakin jauh.

Aku tidak tahu.

Tetapi entah kenapa aku masih merasa harus mengatakannya.

Mungkin karena aku terlalu keras kepala.

Atau mungkin karena aku hanya ingin memastikan bahwa aku sudah melakukan apa yang bisa kulakukan.

Namun hari ini aku mulai bertanya kepada diriku sendiri:

Sebenarnya aku sedang memperjuangkan hubungan ini, atau hanya sedang memperjuangkan keinginanku sendiri agar cerita ini memiliki akhir seperti yang kuinginkan?

Aku tidak tahu jawabannya.

Yang kutahu, semakin dekat hari aku pergi, semakin kuat perasaan bahwa semuanya memang sedang berakhir dengan sendirinya.

Tidak ada pertengkaran besar.

Tidak ada perpisahan dramatis.

Tidak ada kalimat terakhir yang indah.

Hanya dua orang yang perlahan semakin sulit menemukan waktu untuk bertemu.

Dan mungkin memang seperti itu beberapa hubungan berakhir.

Bukan karena salah satu dari kami mengatakan selesai.

Tetapi karena keadaan pelan-pelan mengambil kesempatan untuk bertemu sampai akhirnya tidak tersisa lagi.

Aku masih ingin mengatakan perasaanku.

Masih.

Tetapi mungkin kali ini aku juga perlu belajar mendengarkan keadaan.

Karena mungkin selama ini aku terlalu sibuk mencari tanda bahwa kami masih punya kesempatan, sampai lupa melihat tanda-tanda bahwa mungkin aku memang harus melepaskan.

Ah, keras kepala sekali.

Sudah berkali-kali keadaan seperti menarikku mundur, tetapi aku masih saja berkata,

“Sebentar. Aku cuma ingin mengatakan perasaanku sekali saja.”

Mungkin itu saja yang sebenarnya kuinginkan.

Bukan memastikan dia menjadi milikku.

Bukan memaksa hubungan ini memiliki nama.

Aku hanya ingin satu kesempatan untuk jujur.

Tetapi kalau sampai kesempatan itu pun tidak pernah datang, mungkin suatu hari aku harus menerima bahwa tidak semua perasaan harus disampaikan kepada orang yang menjadi tujuannya.

Ada perasaan yang akhirnya hanya menjadi bagian dari perjalanan kita sendiri.

Dan mungkin, sekeras apa pun aku mencoba, cerita ini memang akan berhenti sebelum sempat dimulai.

Mungkin memang begitu.

Dan kalau benar begitu, semoga suatu hari nanti aku bisa berhenti menyebutnya sebagai kegagalan.

Karena mungkin bukan aku yang gagal mengatakan cinta.

Mungkin memang sejak awal, cerita ini tidak pernah diberi kesempatan untuk menjadi apa-apa.

Comments

Popular Posts