Perasaan Ingin tapi Tak Ingin
Semakin ke sini, perasaanku rasanya semakin tidak bisa dikendalikan.
Maksudku, perasaan suka. Perasaan jatuh cinta yang mungkin, untuk sementara ini, harus kusebut sebagai cinta sepihak. Sebab kalau ternyata dia juga merasakan hal yang sama, semua itu masih sebatas terkaan dan dugaanku sendiri. Tidak ada yang pernah benar-benar mengatakannya.
Dan mungkin justru karena tidak pernah ada kepastian, perasaan ini menjadi semakin liar.
Seperti hari Minggu ini.
Sabtu kemarin aku tidak bertemu dengannya. Padahal sebenarnya aku berharap bisa bertemu. Tidak perlu berbicara. Tidak perlu ada percakapan panjang. Bahkan tidak perlu ada sesuatu yang istimewa.
Aku hanya ingin melihatnya.
Sesederhana itu.
Aku ingin dia berada di tempat yang masih bisa dijangkau oleh mataku. Kalau besok aku bisa melihatnya, mungkin aku sudah cukup bahagia. Aku tidak menginginkan lebih dari itu.
Aneh, bukan?
Padahal ketika aku tidak melihatnya, keinginanku jauh lebih besar.
Aku ingin bertemu.
Aku ingin berada di dekatnya.
Aku ingin berbicara.
Aku ingin mengatakan apa yang selama ini kusimpan.
Aku ingin mengungkapkan perasaanku.
Aku bahkan sering membayangkan bagaimana kalau suatu hari aku benar-benar berhenti menjadi pengecut dan mengatakan kepadanya bahwa aku mencintainya.
Semua keinginan itu terasa begitu kuat ketika dia tidak ada.
Tetapi begitu hari pertemuan benar-benar datang, semuanya berubah.
Tiba-tiba aku tidak menginginkan apa-apa lagi.
Melihatnya dari kejauhan saja sudah cukup.
Aku bahkan bisa merasa lega hanya karena tahu dia ada di sana.
Seolah-olah seluruh kerinduan yang kemarin begitu berisik di kepala mendadak kehilangan suaranya.
Dan di situlah aku sering bertanya kepada diriku sendiri:
Kenapa begitu?
Kenapa keberanianku selalu muncul ketika dia tidak ada?
Kenapa keinginan untuk mengatakan semuanya justru terasa paling kuat ketika aku hanya bisa membayangkannya?
Mengapa ketika dia benar-benar ada di depan mata, ketika kesempatan itu mungkin sebenarnya terbuka, keberanian itu justru menghilang?
Bukankah seharusnya perasaan rindu membuat seseorang ingin mendekat?
Bukankah rasa kehilangan karena tidak bertemu seharusnya memberiku keberanian untuk mengatakan sesuatu ketika akhirnya kami bertemu?
Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
Aku merindukannya ketika jauh.
Lalu ketika dekat, aku hanya ingin melihatnya.
Mungkin aku memang tidak benar-benar membutuhkan sesuatu darinya.
Mungkin untuk sementara ini, kehadirannya saja sudah cukup.
Atau mungkin aku terlalu takut kehilangan apa yang sekarang masih kumiliki, kesempatan untuk melihatnya tanpa harus mengetahui jawaban apa pun.
Sebab selama semuanya belum dikatakan, aku masih bisa berharap.
Aku masih bisa menafsirkan tatapan.
Masih bisa mengingat gerak-geriknya.
Masih bisa bertanya-tanya apakah sebenarnya dia juga merasakan sesuatu.
Tetapi kalau aku benar-benar mengatakannya, semuanya akan berubah.
Dia bisa menerima.
Dia bisa menolak.
Atau yang paling menakutkan, dia mungkin hanya diam.
Dan mungkin aku belum siap dengan salah satu dari kemungkinan itu.
Karena itu, ketika Minggu datang dan aku tidak melihatnya, pikiranku kembali berlari ke mana-mana.
Aku merindukannya.
Aku ingin bertemu.
Aku ingin dekat.
Aku ingin mengatakan semuanya.
Tetapi mungkin besok, ketika akhirnya aku benar-benar melihatnya lagi, aku akan kembali menjadi diriku yang biasa.
Aku akan melihatnya dari kejauhan.
Mungkin pura-pura tidak melihat.
Mungkin mencuri satu-dua tatapan ketika dia tidak sedang memperhatikan.
Lalu pulang dengan perasaan lega hanya karena hari itu aku sempat melihatnya.
Dan mungkin begitulah masalah sebenarnya.
Bukan karena aku tidak punya perasaan.
Bukan pula karena aku tidak punya keinginan untuk mengungkapkannya.
Aku hanya belum tahu bagaimana membawa keberanian yang tumbuh ketika dia jauh, ke dalam kenyataan ketika dia benar-benar berada di hadapanku.
Rinduku selalu berani ketika dia tidak ada.
Tapi ketika dia datang, aku kembali menjadi pengecut.
Dan entah sampai kapan aku akan terus seperti itu.


Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!