Rindu yang Tidak Mendapat Kesempatan
Sekarang aku tahu kenapa kemarin aku begitu sibuk memikirkan tentang tanda-tanda alam.
Mungkin karena setelah Sabtu aku tidak bertemu dengannya, Minggu pun berlalu tanpa melihatnya. Lalu Senin datang, dan lagi-lagi kami tidak bertemu.
Padahal biasanya, seberapapun aku berusaha menghindar, selalu ada saja kesempatan untuk melihatnya. Entah hanya berpapasan di lorong, melihatnya dari kejauhan, atau sekadar menangkap keberadaannya di antara kesibukan kantor.
Tetapi kali ini tidak.
Tiga hari seperti dipotong begitu saja.
Dan yang membuatnya semakin menyebalkan, Selasa dan Rabu aku harus pergi ke luar kota.
Artinya, kemungkinan besar aku masih tidak akan bertemu dengannya.
Aku mulai menghitung hari tanpa sadar.
Sabtu tidak bertemu.
Minggu tidak bertemu.
Senin tidak bertemu.
Selasa dan Rabu pun sudah tahu nasibnya.
Dan tiba-tiba aku sadar, ternyata rindu itu bisa menumpuk.
Bukan seperti rasa haus yang hilang setelah minum segelas air. Rindu justru seperti sesuatu yang semakin besar ketika tidak mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan orang yang dirindukan.
Aku tahu ini terdengar berlebihan.
Hanya beberapa hari.
Tapi bukankah kau tahu bagaimana rasanya merindu?
Bukan soal berapa hari sebenarnya.
Kadang baru sehari tidak bertemu saja sudah terasa panjang, apalagi ketika kita sudah terbiasa melihat seseorang, terbiasa menyadari keberadaannya, terbiasa menunggu tingkah kecilnya, lalu tiba-tiba semuanya hilang.
Yang biasanya hanya sebuah pertemuan singkat, ternyata punya arti lebih besar daripada yang kusadari.
Aku bahkan tidak membutuhkan percakapan panjang dengannya.
Kadang cukup melihatnya.
Cukup tahu bahwa dia ada.
Cukup melihatnya berjalan melewati tempatku berada.
Aneh memang.
Aku bisa saja mengatakan kepada diriku sendiri bahwa aku tidak membutuhkan itu.
Aku bisa pura-pura tidak peduli.
Tapi ketika kesempatan untuk melihatnya benar-benar tidak ada, baru terasa bahwa selama ini keberadaannya memang sudah menjadi bagian dari keseharianku.
Dan sekarang ruang itu kosong.
Mungkin itu sebabnya aku mulai memikirkan lagi tentang “tanda alam”.
Setelah berkali-kali gagal mengutarakan perasaanku, aku bertanya-tanya: jangan-jangan memang ada sesuatu yang sedang menghentikanku.
Sabtu dia tidak datang.
Minggu kami tidak bertemu.
Senin pun kembali tidak bertemu.
Selasa dan Rabu aku harus pergi.
Seolah-olah semesta sedang memberi jarak beberapa hari sekaligus.
Aku bisa saja menganggap semuanya kebetulan.
Dan mungkin memang hanya kebetulan.
Tapi ketika sedang rindu, manusia memang mudah mencari makna dari sesuatu yang sebenarnya sederhana.
Aku mulai bertanya:
Apakah ini memang waktunya berhenti?
Atau justru...
apakah jarak ini sedang membuatku semakin yakin bahwa aku memang ingin bertemu dengannya?
Aku belum tahu.
Yang kutahu hanya satu.
Rindu ini tidak berkurang.
Justru seperti dikumpulkan sedikit demi sedikit.
Sabtu menjadi Minggu.
Minggu menjadi Senin.
Senin akan menjadi Selasa.
Selasa menjadi Rabu.
Dan setiap hari yang berlalu tanpa melihatnya seperti menambahkan satu lapisan baru pada perasaan yang sudah sejak lama kusimpan.
Mungkin nanti ketika akhirnya aku kembali dan melihatnya lagi, reaksiku akan biasa saja.
Mungkin aku hanya akan tersenyum kecil.
Mungkin aku kembali pura-pura tidak melihat.
Atau mungkin justru aku akan sadar bahwa selama beberapa hari ini, ternyata aku benar-benar merindukannya.
Dan mungkin, setelah semua kegagalan itu, setelah semua tanda yang terus kuanggap sebagai alasan untuk berhenti...
yang paling jujur justru bukan tanda-tanda alam itu.
Melainkan rasa rindu yang tidak mau pergi.
Sebab kalau aku benar-benar ingin melupakannya, seharusnya beberapa hari tanpa bertemu membuatku merasa lega.
Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
Aku semakin ingin melihatnya.
Dan mungkin itu jawaban yang selama ini sebenarnya sudah ada di dalam diriku.
Hanya saja aku terlalu sibuk mencari tanda dari luar, sampai lupa mendengarkan apa yang sedang terjadi di dalam dada sendiri.


Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!