Sabtu yang Kembali Gagal
Sabtu kemarin, sebenarnya aku sudah berniat memberanikan diri.
Bukan niat yang muncul tiba-tiba. Keinginan untuk mengutarakan perasaanku kepadanya sudah ada sejak jauh-jauh hari. Berkali-kali aku membayangkan bagaimana caranya mengatakan semuanya. Berkali-kali pula aku membuat skenario di kepala, kapan waktunya, bagaimana membuka percakapan, kalimat pertama apa yang harus keluar dari mulutku, dan seperti apa kira-kira wajahnya setelah mendengar semuanya.
Masalahnya selalu sama.
Setiap kesempatan benar-benar datang, aku justru membatalkannya.
Selalu ada alasan baru.
Kadang suasana hatiku berubah. Tiba-tiba aku tidak ingin mengatakan apa-apa. Kadang situasinya tidak sesuai dengan keadaan yang sudah kurancang di kepala. Padahal sebenarnya tidak ada yang salah. Hanya saja, karena kenyataannya sedikit berbeda dari skenario yang sudah kubangun, keberanianku mendadak menghilang.
Aku memang seperti itu.
Terlalu banyak membuat rencana di kepala, lalu terlalu kecewa ketika kenyataan tidak mengikuti rencana tersebut.
Sabtu kemarin aku bahkan sudah punya ide.
Aku ingin memberinya efek kejut.
Bukan sesuatu yang berlebihan. Aku hanya ingin tiba-tiba mengatakan perasaanku kepadanya, tanpa tanda-tanda, tanpa membuatnya sempat mempersiapkan diri. Aku ingin melihat wajahnya ketika mendengar pengakuanku.
Aku bahkan sempat membayangkan setelah itu.
Hari Minggu dia mungkin tidak bisa tidur.
Mungkin dia akan terus memikirkan kata-kataku.
Mungkin dia akan bertanya-tanya sejak kapan aku menyimpan perasaan itu. Mungkin dia akan mengingat kembali semua tingkah kami selama ini dan mulai menyusun ulang potongan-potongan yang selama ini tidak pernah jelas.
Aku tersenyum sendiri membayangkannya.
Setidaknya, kali ini aku ingin membuatnya terkejut.
Tapi ternyata dia tidak datang.
Sesederhana itu.
Tidak datang.
Dan rencana yang sudah kususun sejak beberapa hari sebelumnya langsung kehilangan tempat untuk terjadi.
Aku hanya bisa tertawa kecil dalam hati.
Begitulah kami.
Bahkan sebelum aku sempat mengatakan apa pun, keadaan sudah lebih dulu membatalkannya.
Dan aku tahu satu hal tentang diriku sendiri: ketika situasi seperti ini terjadi, biasanya perasaanku ikut berubah.
Hari ini aku bisa begitu yakin ingin mengungkapkan semuanya.
Besok, ketika kesempatan yang sama datang dalam bentuk yang sedikit berbeda, aku bisa tiba-tiba merasa tidak perlu mengatakan apa-apa.
Bukan karena perasaanku langsung hilang.
Tapi karena suasana yang ada di kepalaku sudah berubah.
Skenario yang kubayangkan tidak terjadi.
Mood-ku berubah.
Lalu keberanianku ikut menguap.
Mungkin itu sebabnya hubungan ini tidak pernah benar-benar berhasil menjadi sesuatu.
Bukan karena tidak ada rasa.
Justru mungkin karena rasanya terlalu banyak.
Ada ketertarikan, ada gengsi, ada rasa penasaran, ada harapan, ada ketakutan, ada ego, dan ada terlalu banyak percakapan yang hanya terjadi di kepala.
Kami seperti dua orang yang terus menunggu momen yang tepat.
Masalahnya, ketika momen itu akhirnya datang, salah satu dari kami selalu berubah pikiran.
Atau keadaan berubah.
Atau aku yang tiba-tiba mundur.
Sabtu kemarin seharusnya menjadi hari ketika aku berhenti bermain-main dengan perasaan sendiri.
Tapi dia tidak datang.
Dan sekarang, seperti yang sudah-sudah, aku kembali bertanya-tanya.
Apakah sebenarnya aku kecewa karena dia tidak datang?
Atau diam-diam aku justru lega karena sekali lagi aku tidak harus mengatakan apa-apa?
Aku tidak tahu.
Mungkin keduanya.
Dan mungkin itulah masalah terbesar kami selama ini.
Kami selalu berada cukup dekat untuk saling merasakan sesuatu, tetapi tidak pernah cukup berani untuk membuatnya menjadi nyata.
Aku ingin mengatakannya.
Dia mungkin menunggu sesuatu.
Kami sama-sama memberi tanda.
Tapi pada akhirnya, selalu ada sesuatu yang membuat semuanya kembali menjadi dugaan.
Dan Sabtu kemarin, sekali lagi, aku gagal.
Bukan karena aku tidak punya perasaan.
Mungkin justru karena aku terlalu banyak punya perasaan, sampai-sampai aku sendiri tidak pernah benar-benar tahu mana yang harus kuikuti.


Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!