Tanda Alam
Padahal kalau kupikir-pikir lagi, alam sudah berkali-kali memberiku tanda.
Kesempatan datang, lalu hilang.
Niat untuk mengutarakan isi hati muncul dengan begitu kuat, tetapi setiap kali aku hendak melakukannya, selalu ada sesuatu yang membuatku berhenti. Kadang keadaan tidak sesuai dengan rencana. Kadang suasana hatiku berubah. Kadang dia tidak datang. Kadang justru aku sendiri yang tiba-tiba kehilangan keberanian.
Berulang kali.
Seolah-olah ada sesuatu yang selalu menarik tanganku kembali setiap kali aku mencoba melangkah.
Dan anehnya, aku masih saja tidak mengerti.
Atau mungkin sebenarnya aku mengerti, tetapi tidak mau menerima kesimpulannya.
Aku sudah berkali-kali gagal mengatakan apa yang sebenarnya ingin kusampaikan kepadanya. Bahkan ketika aku sudah menyusun kalimatnya di kepala, bahkan ketika aku sudah membayangkan bagaimana wajahnya setelah mendengar pengakuanku, pada akhirnya semuanya kembali menjadi percakapan yang hanya terjadi dalam pikiranku.
Bodoh sekali.
Hal sesederhana ini saja aku tidak mampu memahaminya.
Kalau memang semua jalan terus saja tertutup, bukankah seharusnya aku berhenti?
Kalau kesempatan selalu gagal datang pada saat yang tepat, bukankah mungkin itu tanda bahwa hubungan ini memang tidak seharusnya dibawa lebih jauh?
Kadang aku berpikir begitu.
Mungkin alam sedang mengatakan sesuatu kepadaku.
Mungkin jangan.
Mungkin cukup sampai di sini.
Mungkin perasaan ini hanya perlu dirasakan, bukan diwujudkan.
Tapi masalahnya, kata hatiku selalu punya jawaban yang berbeda.
"Masih coba lagi."
Aku sendiri tidak mengerti.
Sudah berapa kali harus gagal sebelum seseorang dianggap pantang menyerah, dan berapa kali harus gagal sebelum disebut tidak tahu diri?
Aku seperti berada di antara dua kemungkinan itu.
Satu bagian dalam diriku mulai lelah dan ingin menerima bahwa mungkin memang tidak ada jalan.
Tetapi bagian lain justru masih keras kepala.
Masih ingin mencoba.
Masih ingin suatu hari berdiri di hadapannya dan mengatakan semuanya tanpa bersembunyi di balik tatapan, pura-pura tidak peduli, atau permainan kecil tentang siapa yang lebih dulu mencari perhatian.
Aku ingin sekali mengatakannya.
Bukan karena aku yakin dia akan menerima.
Bukan karena aku yakin hubungan ini akan berhasil.
Bahkan aku tidak benar-benar tahu apa yang akan terjadi setelah kalimat itu keluar.
Aku hanya ingin sekali, untuk pertama kalinya, berhenti menyimpan semuanya sendiri.
Tapi bukankah aneh?
Kalau alam memang sedang memberiku tanda untuk berhenti, kenapa hatiku masih terus menyuruhku mencoba?
Kenapa setiap kali aku berkata, sudah, lupakan saja, beberapa hari kemudian keinginan itu muncul lagi?
Kenapa aku selalu kembali kepada keinginan yang sama?
Mungkin aku memang bodoh.
Atau mungkin perasaan memang tidak mengenal logika.
Kepala bisa berkali-kali membuat kesimpulan, sementara hati tetap keras kepala mempertahankan satu kemungkinan kecil.
Dan mungkin itu yang sedang terjadi kepadaku.
Aku sudah melihat terlalu banyak kegagalan.
Aku sudah punya cukup alasan untuk menyerah.
Tetapi anehnya, aku masih belum benar-benar ingin menyerah.
Barangkali karena jauh di dalam diriku masih ada satu keyakinan kecil yang tidak mau mati:
bahwa semua kegagalan itu bukan berarti aku harus berhenti.
Mungkin hanya berarti waktunya belum tepat.
Atau mungkin aku sedang mencari pembenaran untuk terus berharap.
Aku sendiri tidak tahu.
Dan mungkin itulah kebodohanku yang paling besar.
Aku tidak tahu apakah sedang mengikuti kata hati atau sekadar mempertahankan sesuatu yang seharusnya sudah kulepaskan.
Tapi besok, kalau kesempatan itu datang lagi...
entah aku akan kembali mundur seperti biasanya,
atau akhirnya benar-benar mengatakan semuanya.
Satu hal yang pasti:
aku belum menyerah.
Dan justru itu yang membuatku takut.
Sebab terkadang, yang paling sulit bukan menemukan keberanian untuk mengatakan aku mencintaimu.
Yang paling sulit adalah mengetahui kapan harus berhenti berharap.


Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!