Terus Menunggu Dia Memberi Keberanian yang Sebenarnya Harus Datang Dariku Sendiri?


Dia menungguku.

Setidaknya begitu dugaanku.

Seperti biasa, dia berpura-pura tidak tahu kedatanganku. Duduk di kursi parkiran sambil sibuk dengan gadget-nya, seolah-olah tidak ada sesuatu yang perlu diperhatikan di sekitarnya.

Tapi aku merasa dia sedang menungguku.

Entah benar atau tidak, aku sendiri tidak tahu.

Lagi-lagi ini hanya dugaan yang muncul di kepalaku.

Tapi kalau memang dugaanku benar, berarti Senin kemarin memang ada urusan yang membuatnya harus pulang lebih dulu. Bukan karena menghindariku. Bukan karena ingin menjauh.

Hanya karena memang ada sesuatu yang harus diselesaikan.

Dan entah kenapa, kesimpulan sederhana itu membuatku sedikit lega.

Apalagi mengingat hari Selasa kemarin.

Hari itu rasanya dia begitu berusaha membuatku melihatnya.

Beberapa kali aku merasa kehadirannya seperti sengaja ditempatkan di dalam jangkauan mataku. Dan akhirnya mata kami benar-benar bertemu.

Hanya sebentar.

Tapi tentu saja aku tidak membiarkan momen itu berlalu begitu saja.

Aku memainkan sedikit peran.

Ketika mata kami beradu pandang, aku segera menoleh.

Lalu beberapa detik kemudian aku menoleh lagi.

Kali ini dengan ekspresi yang kubuat seolah-olah baru menyadari sesuatu yang mengejutkan.

Seperti orang yang tidak percaya melihatnya masih berada di kantor.

Padahal sebenarnya biasa saja.

Aku tahu dia masih ada di sana.

Aku tahu kemungkinan besar kami akan bertemu.

Tidak ada yang perlu dikejutkan.

Tapi aku tetap memainkan adegan kecil itu.

Hanya untuk membuat suasana terasa seperti sebuah cerita.

Aku bahkan tidak tahu apakah dia menyadarinya atau tidak.

Mungkin dia tahu.

Mungkin dia menganggapku aneh.

Atau mungkin dia sama sekali tidak memikirkan apa pun.

Tapi bagiku, adegan kecil itu cukup menghibur.

Aku seperti sedang menjadi sutradara bagi sebuah cerita yang bahkan belum tentu dimainkan oleh dua orang.

Aku menciptakan sedikit drama.

Menunggu adegan berikutnya.

Berharap ada sesuatu yang terjadi setelah tatapan itu.

Tetapi ternyata tidak ada apa-apa.

Dan mungkin justru di situlah masalahnya.

Aku sempat berpikir untuk mengatakan perasaanku.

Sungguh.

Untuk sesaat aku merasa mungkin inilah kesempatan yang selama ini kutunggu.

Aku bisa mendekat.

Mengajaknya berbicara.

Lalu mengatakan sesuatu yang sudah terlalu lama kusimpan.

Tapi kemudian aku kembali mencari tanda.

Aku menunggunya melakukan sesuatu.

Mencari perhatianku.

Memberikan celah.

Menciptakan alasan agar aku bisa mendekat tanpa terlihat terlalu tiba-tiba.

Tapi aku tidak menemukannya.

Setidaknya menurut pengamatanku.

Dan akhirnya aku mengurungkan niat.

Aku kembali diam.

Kembali menjadi penonton dalam cerita yang sebenarnya ingin kujalani sendiri.

Lalu seperti biasanya, setelah semuanya selesai, penyesalan datang belakangan.

Kenapa tadi tidak kusampaikan saja?

Kenapa aku masih menunggu dia memberi tanda?

Bukankah aku sendiri yang ingin kejelasan?

Bukankah aku sendiri yang kemarin merasa lelah dengan dugaan-dugaan?

Tapi ketika kesempatan itu mungkin benar-benar datang, aku justru mencari alasan untuk menundanya lagi.

Mungkin aku memang masih pengecut.

Atau mungkin aku terlalu menikmati permainan kecil ini.

Tatapan dari kejauhan.

Pura-pura tidak melihat.

Berpura-pura terkejut.

Menunggu dia mencari perhatian.

Lalu berharap suatu hari ada sebuah adegan yang membuatku tidak perlu lagi mengambil risiko.

Padahal aku tahu, mungkin adegan itu tidak akan pernah datang.

Sebab bisa jadi dia juga sedang menunggu.

Menunggu sesuatu dariku.

Dan aku menunggu sesuatu darinya.

Akhirnya kami hanya menjadi dua orang yang sama-sama menunggu, tetapi tidak pernah benar-benar bergerak.

Malam ini aku kembali memikirkan semuanya.

Tentang kursi di parkiran.

Tentang gadget yang seolah menjadi kesibukannya.

Tentang tatapan yang hanya berlangsung beberapa detik.

Tentang drama kecil yang sengaja kumainkan.

Tentang kesempatan yang kembali kulewatkan.

Dan sekali lagi aku sampai pada kesimpulan yang sama,

Aku ingin mengatakan perasaanku.

Aku benar-benar ingin.

Tapi entah kenapa, aku selalu lebih berani mengatakannya ketika dia tidak ada di hadapanku.

Begitu dia benar-benar datang, aku kembali sibuk mencari tanda.

Dan ketika tanda itu tidak cukup jelas, aku mundur.

Kemudian setelah dia pergi, aku menyesal.

Begitulah aku.

Mungkin besok akan berbeda.

Atau mungkin besok aku akan kembali melakukan hal yang sama.

Menunggu.

Melihat.

Berpura-pura tidak melihat.

Lalu pulang membawa satu pertanyaan yang sama,

Sampai kapan aku akan terus menunggu dia memberi keberanian yang sebenarnya harus datang dariku sendiri?

Comments

Popular Posts