Tiga Kata yang Belum Pernah Berani Kuucapkan Kepadanya


Aku menyandarkan kepala di bahanya. Tubuhku terasa lelah, tetapi dadaku justru penuh oleh sesuatu yang selama ini kutahan. Ekspresiku mungkin aneh, antara ingin menangis dan marah dalam satu waktu. Seperti ada sesuatu yang sudah terlalu lama menumpuk, tetapi tidak pernah menemukan jalan keluar.

Aku ingin mengatakan sesuatu kepadanya.

Namun kata-kata itu terasa begitu berat.

Ada banyak hal yang sebenarnya ingin kusampaikan, tetapi semuanya mendadak menyempit menjadi tiga kata.

Aku menarik napas.

Dada terasa sesak.

Lalu dengan suara yang nyaris tidak terdengar, aku berbisik,

"I love you."

Suara itu seperti keluar bersama sesuatu yang selama ini kusimpan jauh di dalam dada. Ada getaran kecil di ujung kalimatnya. Seperti aku sedang menyerahkan sesuatu yang paling rapuh dari diriku kepadanya.

Aku bahkan merasa seperti hampir menangis setelah mengatakannya.

Tetapi setidaknya, akhirnya aku mengatakannya.

Kemudian dia mendekat dan berbisik,

"I love you too."

Aku terdiam.

Jawaban itu membuatku seperti kehilangan kata-kata.

Tidak pernah terpikir sebelumnya bahwa dia akan mengatakan itu. Selama ini aku selalu membayangkan dia akan menyembunyikan perasaannya. Menjaga jarak. Menghindar. Atau mungkin membuatku terus bertanya-tanya.

Dia justru menjawabnya.

Aku mendongak perlahan, menatap wajahnya.

Dan kau tahu apa yang terjadi setelah itu?

Dia menciumku.

Lembut.

Begitu lembut sampai rasanya seluruh kegaduhan di kepalaku mendadak berhenti.

Tidak ada lagi gengsi.

Tidak ada lagi pura-pura tidak melihat.

Tidak ada lagi permainan siapa yang lebih dulu mendekat.

Tidak ada lagi pertanyaan apakah dia menyukaiku atau tidak.

Hanya ada kami.

Dan tepat ketika aku mulai percaya bahwa mungkin, akhirnya, aku mendapatkan jawaban yang selama ini kucari...

aku terbangun.

Aku langsung membuka mata.

"Anj*ng!"

Aku mengumpat.

Bukan karena takut.

Bukan karena mimpi buruk.

Tapi karena mimpi itu berakhir tepat ketika semuanya terasa nyata. 

Aku masih terdiam beberapa detik, mencoba memahami di mana aku berada. Napasku terasa berat. Jantung berdegup lebih cepat. Aku bahkan sempat memejamkan mata lagi, berharap bisa kembali ke sana.

Kembali ke beberapa detik sebelumnya.

Kembali ke bahunya.

Kembali ke bisikan itu.

Kembali ke I love you too.

Kembali ke ciuman itu.

Tapi tidak.

Sudah selesai.

Yang tersisa hanya langit-langit kamar dan kesadaran menyebalkan bahwa semua tadi tidak pernah terjadi. 

Sial.

Aku mengusap wajah dengan kedua tangan. Dan aku mengingat kembali, ini adalah mimpi ketigaku bersamanya.

Rasanya seperti baru saja kehilangan sesuatu yang benar-benar kumiliki.

Padahal aku tidak pernah memilikinya.

Dan justru itu yang membuatnya begitu menyakitkan.

Aku bahkan sempat merasa marah kepada diriku sendiri.

"Kenapa harus mimpi seperti itu?"

Aku mengumpat lagi.

Karena ternyata bahkan dalam tidur pun aku masih tidak bisa lepas darinya.

Lebih menyebalkannya lagi, dalam mimpi aku justru bisa melakukan sesuatu yang tidak pernah berani kulakukan ketika sadar.

Aku mengatakannya.

Aku mengatakan bahwa aku mencintainya.

Tidak ada gengsi. Tidak ada ketakutan. Tidak ada perhitungan tentang apa yang akan terjadi setelahnya.

Aku hanya mengatakannya.

Dan dia menjawab.

Entah jawaban itu benar-benar berasal dari sesuatu yang pernah dia tunjukkan kepadaku, atau hanya hasil dari keinginanku sendiri, aku tidak tahu.

Mungkin justru itulah yang paling menyakitkan.

Karena sekarang aku tahu satu hal yang selama ini berusaha kusembunyikan bahkan dari diriku sendiri,

Aku benar-benar ingin mengatakan itu kepadanya.

Bukan sekadar ingin.

Aku sudah sampai pada titik di mana pikiranku sendiri menciptakan sebuah dunia agar aku bisa mengatakannya.

Bayangkan.

Sebegitu pengecutnya aku dalam kehidupan nyata, sampai-sampai keberanianku harus menunggu aku tertidur.

Aku tertawa kecil, getir.

Lalu terdiam lagi.

Karena tiba-tiba aku sadar.....

mungkin yang membuatku begitu marah ketika terbangun bukan karena ciuman itu hanya mimpi.

Bukan pula karena dia ternyata tidak benar-benar mengatakan I love you too.

Tetapi karena selama beberapa menit tadi, aku sempat merasakan bagaimana rasanya jika aku berhenti bersembunyi.

Dan ketika aku terbangun, semuanya direnggut kembali.

Termasuk keberanianku.

Aku kembali menjadi diriku yang biasa.

Yang menatap dari jauh.

Yang pura-pura tidak peduli.

Yang punya seribu alasan untuk diam.

Dan hanya satu hal yang terus terngiang di kepala:

"I love you."

Tiga kata yang bahkan dalam mimpi pun ternyata membuat dadaku sesak.

Tiga kata yang belum pernah berani kuucapkan kepadanya.

Tiga kata yang, sialnya, justru paling jujur ketika keluar dari mulutku saat aku sedang tidak sadar.

Comments

Popular Posts