Training Season – Dua Lipa (Arti Lagu)
“Training Season” oleh Dua Lipa pada dasarnya adalah lagu tentang seseorang yang sudah lelah menjalani hubungan dengan orang yang belum matang secara emosional.
Bukan berarti dia tidak ingin jatuh cinta. Justru sebaliknya, dia masih ingin menemukan seseorang, tetapi kali ini dia ingin bertemu dengan orang yang sudah tahu bagaimana menjalani hubungan.
Maksud lagunya, bagian demi bagian
1. “Are you someone that I can give my heart to?”
Dia sedang bertanya,
“Kamu ini orang yang aman untuk kuberi hati, atau justru orang yang nantinya akan menyakitiku?”
Dia sudah punya pengalaman buruk. Karena itu, sebelum membuka hati, dia ingin memastikan bahwa orang yang datang memang layak dipercaya.
2. “Or just the poison that I'm drawn to?”
Ini menarik. Dia menyadari bahwa kadang kita justru tertarik kepada orang yang sebenarnya tidak baik untuk kita.
Seperti tahu makanan itu tidak sehat, tetapi tetap ingin memakannya.
Dalam hubungan, bentuknya bisa seperti tertarik kepada seseorang yang manipulatif, tidak konsisten, tidak siap berkomitmen, atau membuat kita terus bertanya-tanya.
Dia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
3. “I don't need to learn my lesson twice.”
Artinya kira-kira,
“Aku sudah pernah mengalami hal seperti ini. Aku tidak perlu mengalaminya sekali lagi hanya untuk belajar.”
Ini bagian tentang pengalaman masa lalu.
Dia sudah pernah terluka. Jadi sekarang dia lebih selektif.
Bukan trauma berlebihan, tetapi ada kesadaran bahwa pengalaman buruk seharusnya membuat seseorang belajar.
Lalu muncul bagian paling penting,
“I need someone to hold me close, deeper than I've ever known.”
Dia sebenarnya menginginkan hubungan yang serius dan dalam.
Bukan sekadar seseorang untuk menemani jalan, makan, atau berkencan.
Dia ingin seseorang yang bisa benar-benar hadir secara emosional.
Seseorang yang bisa memeluknya ketika dia rapuh dan membuatnya merasa aman.
“When I'm vulnerable, he's straight-talking to my soul.”
Ini kurang lebih berarti,
“Ketika aku sedang rentan, dia mampu berbicara langsung ke dalam diriku.”
Dia menginginkan pasangan yang jujur dan terbuka, bukan orang yang membuatnya menebak-nebak.
Tidak perlu permainan tarik-ulur.
Tidak perlu kode-kodean.
Tidak perlu membuatnya terus bertanya,
“Sebenarnya dia serius atau tidak?”
Kemudian masuk ke inti lagu,
“I don't wanna have to show ya.”
Ini maksudnya:
“Aku tidak mau harus mengajarimu.”
Dan dilanjutkan:
“I don't wanna have to teach you how to love me right.”
Nah, ini sebenarnya inti terbesar lagu tersebut.
Dia tidak mau lagi mengajari seseorang bagaimana cara mencintainya dengan benar.
Misalnya:
“Aku kalau sedang sedih butuh didengarkan.”
“Jangan menghilang kalau sedang ada masalah.”
“Kalau ada masalah, ngomong.”
“Jangan membuatku cemburu hanya untuk mendapatkan perhatian.”
“Aku butuh kepastian.”
Dia tidak ingin terus-menerus menjadi guru dalam sebuah hubungan.
Lalu, “Training season's over”
Ini bukan berarti secara harfiah musim latihan selesai.
“Training season” adalah metafora.
Seolah-olah selama ini dia bertemu orang-orang yang masih dalam tahap latihan menjadi pasangan.
Masih harus diajari bagaimana berkomunikasi, bagaimana menghargai pasangan, bagaimana memberikan kepastian, bagaimana menghadapi konflik, bagaimana hadir ketika pasangan sedang rentan, dan bagaimana mencintai tanpa permainan.
Sekarang dia berkata,
“Sudah. Aku tidak mau melatih lagi. Kalau kamu datang, datanglah sebagai seseorang yang memang sudah siap.”
Bagian “Can you compete?”
Kemudian lagu berubah seperti suasana pertandingan,
“Can you compete? Now is your time.”
Ini seperti dia sedang memberikan kesempatan,
“Kalau memang kamu serius, buktikan.”
Bukan dengan kata-kata saja.
Bukan dengan rayuan.
Tetapi dengan tindakan.
“Are you on my team, or stuck on the sidelines?”
Apakah kamu benar-benar mau berada di sisiku?
Atau hanya berdiri di pinggir, menunggu sesuatu terjadi?
Jadi sebenarnya lagu ini bukan lagu tentang “aku sudah tidak mau cinta”
Justru kebalikannya.
Dia masih ingin dicintai.
Dia masih ingin menemukan seseorang.
Dia masih ingin hubungan yang dalam.
Tetapi dia sudah berada pada fase,
“Aku masih mau jatuh cinta, tetapi aku tidak mau lagi mengorbankan diriku untuk mengajari seseorang bagaimana menjadi pasangan yang baik.”
Dan menurutku, itu yang membuat lagu ini terasa dewasa.
Bukan “aku tidak butuh siapa-siapa.”
Melainkan,
“Aku membutuhkan seseorang. Tetapi aku juga sudah tahu seperti apa hubungan yang tidak ingin kujalani lagi.”
Kalau dibuat sangat sederhana, pesan “Training Season” adalah,
Aku tidak mencari orang yang sempurna. Aku hanya mencari orang yang sudah cukup dewasa untuk tahu bagaimana memperlakukan hati yang akan kuberikan kepadanya.


Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!