Yang Paling Kubenci dari Diriku Sendiri


Kadang aku benci diriku sendiri.

Bukan sekali dua kali.

Ini sudah terlalu sering terjadi.

Aku bukan tipe orang yang mudah mengambil inisiatif. Aku terbiasa merencanakan sesuatu terlebih dahulu. Memikirkan kemungkinan. Menyiapkan langkah. Membayangkan apa yang mungkin terjadi setelahnya.

Aku nyaman dengan sesuatu yang sudah kupikirkan.

Tapi ketika hidup tiba-tiba memberiku sebuah momen yang tidak bisa direncanakan, aku sering menjadi orang yang paling lambat mengambil keputusan.

Seperti kemarin.

Seharusnya aku bisa melakukan sesuatu.

Dia ada di sana.

Duduk di kursi parkiran, sibuk dengan gadget-nya, berpura-pura tidak tahu bahwa aku datang. Tapi dalam pikiranku, aku merasa dia sedang menungguku.

Aku menyapanya.

Dia tetap seperti orang yang sibuk.

Dan entah kenapa, situasi sederhana itu justru membuatku bingung.

Aku tidak tahu harus berbuat apa setelahnya.

Harus mendekat?

Harus mengajaknya bicara?

Harus duduk di dekatnya?

Harus mengatakan sesuatu?

Atau cukup berdiri dan melihatnya?

Aku terlalu lama berpikir.

Dan ketika aku masih sibuk mencari jawaban, momen itu sudah berlalu.

Itulah yang paling membuatku kesal.

Bukan karena sesuatu yang buruk terjadi.

Justru karena tidak terjadi apa-apa.

Padahal di dalam kepalaku, aku ingin sekali mendekat.

Ada bagian dari diriku yang ingin memeluknya, sekadar merasakan bahwa jarak yang selama ini kami pertahankan akhirnya hilang. Bahkan dalam fantasi yang muncul sesaat, aku membayangkan bisa mengecup punggungnya ketika dia membelakangiku, sebagai ungkapan rindu yang selama ini hanya kusimpan sendiri.

Tapi itu hanya ada di kepalaku.

Di kenyataan, aku tetap berdiri di tempatku.

Diam.

Bingung.

Lambat.

Dan kemudian aku pulang membawa penyesalan.

Andai aku sedikit lebih cepat.

Andai aku tidak terlalu banyak berpikir.

Andai aku bisa membaca momen tanpa harus menyusun seluruh kemungkinan di kepala.

Mungkin semuanya akan berbeda.

Tapi mungkin juga tidak.

Mungkin dia memang hanya sedang duduk di sana.

Mungkin dia benar-benar sedang sibuk dengan gadget-nya.

Mungkin dugaanku bahwa dia menungguku memang benar.

Atau mungkin hanya cerita yang kembali kubangun karena aku ingin percaya bahwa kehadiranku berarti sesuatu baginya.

Aku tidak tahu.

Dan justru karena tidak tahu, aku seharusnya tidak mengambil langkah fisik berdasarkan dugaan semata.

Mungkin yang sebenarnya kubutuhkan bukan keberanian untuk langsung memeluknya.

Aku membutuhkan keberanian untuk mendekat dengan cara yang sederhana.

Bertanya.

Berbicara.

Memberinya ruang untuk menunjukkan apakah dia memang ingin aku berada lebih dekat.

Tetapi tetap saja, aku kesal kepada diriku sendiri.

Karena aku tahu apa yang kurasakan.

Aku tahu aku ingin dekat dengannya.

Aku tahu aku ingin mengatakan sesuatu.

Aku tahu aku ingin berhenti hanya menjadi dua orang yang saling memandang dari kejauhan.

Namun ketika kesempatan kecil itu muncul, aku malah kehilangan arah.

Seolah-olah seluruh keberanian yang kubangun selama berhari-hari hanya bekerja ketika dia tidak ada.

Begitu dia benar-benar berada beberapa langkah dariku, semuanya mendadak mati.

Aku kembali menjadi orang yang penuh perhitungan.

Menunggu tanda.

Menunggu momen.

Menunggu sesuatu yang membuatku merasa aman untuk bergerak.

Padahal mungkin dalam urusan seperti ini, tidak akan pernah ada momen yang benar-benar sempurna.

Tidak akan pernah ada kepastian seratus persen.

Tidak akan pernah ada tanda yang begitu jelas sehingga aku tidak perlu mengambil risiko apa pun.

Dan mungkin itulah yang harus kupelajari.

Bahwa mengambil inisiatif bukan berarti bertindak tergesa-gesa.

Kadang mengambil inisiatif hanya berarti berani mengatakan sesuatu yang sederhana.

“Boleh aku bicara sebentar?”

Sesederhana itu.

Tidak perlu drama.

Tidak perlu skenario.

Tidak perlu menunggu dia melakukan sesuatu terlebih dahulu.

Karena mungkin selama ini aku terlalu sibuk menunggu adegan yang sempurna, sampai lupa bahwa aku sebenarnya bisa menciptakan percakapan yang nyata.

Tetap saja...

Kalau mengingat kemarin, aku masih ingin mengumpat kepada diriku sendiri.

Bukan karena aku tidak mendapat kesempatan untuk memeluknya.

Tetapi karena sekali lagi, aku terlalu lambat memahami bahwa kesempatan untuk mendekat sudah ada di depan mata.

Aku hanya tidak tahu bagaimana menggunakannya.

Andai aku bisa sedikit lebih cepat.

Andai aku bisa berhenti berpikir selama beberapa detik.

Andai aku bisa membawa keberanian yang selalu muncul ketika dia jauh, tepat ketika dia berada di hadapanku.

Mungkin aku tidak akan pulang dengan penyesalan yang sama.

Mungkin aku tidak akan terus bertanya-tanya tentang apa yang seharusnya kulakukan.

Atau mungkin...

aku tetap akan menjadi diriku yang sekarang.

Seorang lelaki yang bisa membayangkan begitu banyak hal ketika sendirian, tetapi menjadi begitu bodoh ketika orang yang diinginkannya benar-benar berdiri di dekatnya.

Dan mungkin itulah yang paling kubenci dari diriku sendiri.

Comments

Popular Posts