Adu Pandang


 Kalau ada yang bertanya bagaimana kisahku dengannya, mungkin aku akan menyuruhnya mendengarkan Adu Pandang dari Rizky Febian. Bukan karena semua yang ada di dalam lagu itu benar-benar sama dengan kisahku, tetapi karena ada bagian-bagian di dalamnya yang terasa begitu dekat. Tentang bagaimana semuanya mungkin bermula dari tatapan-tatapan kecil, tentang hati yang diam-diam kalah, tentang seseorang yang awalnya hanya menarik perhatian, lalu perlahan menjadi sosok yang terus memenuhi pikiran. Bedanya, kisahku dengannya tidak pernah sampai pada bagian ketika dua orang akhirnya berani mengakui bahwa mereka sama-sama menyimpan rasa.

Aku tidak tahu kapan tepatnya perasaan itu mulai tumbuh. Awalnya mungkin hanya karena aku beberapa kali melihatnya, lalu tanpa sadar mulai memperhatikan hal-hal kecil tentang dirinya. Ada sesuatu yang membuatku ingin melihatnya lagi, meskipun aku sendiri tidak pernah benar-benar tahu apa yang kucari setiap kali pandanganku tertuju kepadanya. Aku mencoba bersikap biasa saja, seolah tidak ada sesuatu yang istimewa. Padahal, terkadang, hanya dengan berpapasan dengannya saja sudah cukup membuat pikiranku sibuk lebih lama daripada yang seharusnya.

Barangkali memang begitu cara perasaan bekerja. Sesuatu yang semula sederhana bisa tumbuh menjadi rumit ketika terlalu lama disimpan sendiri. Tatapan yang mungkin bagi orang lain tidak berarti apa-apa bisa terus teringat, sementara pertemuan singkat bisa diputar berulang kali di kepala. Aku mulai bertanya-tanya tentang hal-hal yang bahkan tidak pernah kutanyakan langsung kepadanya. Apakah dia menyadari keberadaanku? Apakah dia pernah memperhatikanku seperti aku memperhatikannya? Apakah ada sesuatu yang juga dia rasakan, atau selama ini aku hanya terlalu mudah memberi makna pada hal-hal kecil?

Ada saat-saat ketika aku merasa mungkin saja dia juga mencoba mendekat. Setidaknya, begitulah yang kutangkap dari beberapa kejadian yang masih kuingat. Namun, aku tidak pernah cukup yakin untuk menjadikannya sebuah kesimpulan. Aku hanya menyimpan semuanya sebagai kemungkinan, lalu membiarkan pikiranku berjalan lebih jauh daripada kenyataan yang benar-benar kuketahui. Mungkin aku berharap terlalu banyak. Mungkin juga memang ada sesuatu yang belum sempat kami pahami bersama. Sampai sekarang, aku tidak punya jawaban untuk itu.

Yang kutahu, aku menyukainya. Dan semakin lama perasaan itu bertahan, semakin sulit pula bagiku untuk mengatakannya secara langsung. Lucu, sebenarnya. Aku bisa menghabiskan begitu banyak waktu untuk memikirkan seseorang, membayangkan bagaimana jika suatu hari kami bisa berbicara lebih dekat, bahkan menyusun kalimat yang ingin kusampaikan. Namun, ketika kesempatan itu terasa ada di hadapanku, aku justru tidak melakukan apa-apa. Selalu ada keraguan yang muncul, selalu ada kemungkinan buruk yang lebih dulu kupikirkan. Bagaimana kalau ternyata aku salah membaca sikapnya? Bagaimana kalau perasaanku tidak berbalas? Bagaimana kalau setelah semuanya terucap, justru tidak ada lagi yang bisa kembali seperti semula?

Aku terlalu sibuk memikirkan apa yang mungkin terjadi setelah mengatakannya, sampai lupa bahwa ada kemungkinan lain yang juga harus kuterima, aku bisa kehilangan kesempatan bahkan sebelum sempat mencoba.

Lalu waktu berjalan. Aku meninggalkan tempat kerja lama itu, dan hari terakhirku berlalu tanpa pertemuan yang mungkin diam-diam masih kuharapkan. Tidak ada percakapan terakhir yang istimewa, tidak ada kalimat yang akhirnya berhasil keluar, bahkan tidak ada kesempatan untuk mengetahui apakah selama ini perasaanku pernah sampai kepadanya. Aku pergi dengan membawa sesuatu yang tidak pernah benar-benar dimulai, tetapi entah mengapa tetap terasa sulit untuk ditinggalkan.

Sejak itu, aku tidak lagi mengetahui kabarnya seperti dahulu. Aku hanya bisa melihatnya sesekali melalui story orang lain, melihat potongan-potongan kecil dari kehidupannya yang sekarang berlangsung jauh dari jangkauanku. Terkadang, hal sederhana yang kulihat bisa membuat perasaan itu muncul lagi. Seperti ketika aku melihatnya bersama anak kecil itu. Ada sisi dirinya yang kembali membuatku jatuh hati, sisi yang sejak awal kusukai dan mungkin akan selalu punya tempat tersendiri dalam ingatanku. Namun, di saat yang sama, aku mulai menyadari bahwa perasaanku pun perlahan berubah. Aku masih menyukainya, tetapi tidak lagi yakin apakah aku memandangnya dengan kekaguman yang sama seperti dulu.

Mungkin karena sekarang aku sudah berada di tempat yang berbeda. Ada wajah-wajah baru yang kulihat, orang-orang baru yang tanpa sengaja menarik perhatianku. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku mulai menyadari bahwa ada banyak hal lain di luar dirinya. Dan ketika aku kembali melihatnya dari kejauhan, aku tidak lagi sepenuhnya yakin bahwa dia adalah sosok sesempurna yang selama ini kubayangkan. Aku tidak tahu apakah ini pertanda perasaanku mulai goyah, atau justru aku sedang belajar melihatnya dengan lebih jernih. Barangkali, jarak memang mengubah cara seseorang memandang. Sesuatu yang dahulu tampak begitu istimewa perlahan bisa terlihat lebih biasa ketika kita tidak lagi berada di dekatnya setiap hari.

Namun, meski cara pandangku mulai berubah, ada satu hal yang belum benar-benar selesai, aku masih tidak tahu apa sebenarnya kisah kami.

Sebab, bagaimana mungkin aku bisa mengatakan bahwa aku pernah memilikinya, sementara aku bahkan tidak pernah tahu apakah dia juga menginginkanku? Bagaimana mungkin aku menyebutnya sebagai kisah cinta, sementara tidak pernah ada percakapan yang memastikan bahwa perasaan itu tumbuh di antara kami? Aku punya kenangan, punya dugaan, punya beberapa momen yang sesekali masih kuingat. Tetapi aku tidak punya satu kalimat pun darinya yang bisa kujadikan jawaban.

Mungkin itulah yang paling berbeda dari kisahku dengan lagu itu. Di dalam lagu, ada keberanian untuk meminta izin masuk ke hati seseorang, ada keinginan untuk membuat perasaan menjadi nyata. Sementara aku berhenti jauh sebelum sampai ke sana. Aku terlalu lama berdiri di ambang, berharap pintu itu terbuka dengan sendirinya, tanpa pernah benar-benar mengetuknya.

Sekarang, aku tidak tahu apakah suatu hari nanti kami akan bertemu lagi. Aku juga tidak tahu apakah ketika hari itu tiba, perasaanku masih akan sama, atau justru aku sudah menjadi seseorang yang tidak lagi memikirkannya seperti sekarang. Sesekali aku masih membayangkan kemungkinan untuk mengatakan semuanya jika kesempatan itu datang kembali. Namun, aku mulai memahami bahwa perasaan yang kusimpan selama ini tidak bisa menjadi bukti bahwa dia juga merasakan hal yang sama. Aku hanya tahu apa yang tumbuh di dalam diriku, bukan apa yang selama ini ada di dalam hatinya.

Dan mungkin, jika suatu hari aku benar-benar berhasil melupakannya, yang akan paling lama kuingat bukanlah wajahnya, tatapannya, atau hal-hal kecil yang dahulu membuatku jatuh cinta. Melainkan diriku sendiri, yang pernah begitu ingin mengatakan sesuatu, tetapi berkali-kali memilih diam. Diriku yang menghabiskan berbulan-bulan untuk menyimpan kemungkinan, sampai akhirnya waktu mengambil kesempatan itu sebelum aku sempat memastikan apa pun.

Kalau memang kisahku dengannya mirip Adu Pandang, mungkin bagian yang paling tepat bukan tentang bagaimana dua orang akhirnya jatuh cinta, melainkan tentang bagaimana seseorang bisa jatuh begitu dalam tanpa pernah tahu apakah dia juga sedang ditunggu.

Comments

Popular Posts