Antrian di Pom Bensin, Negara Salah Urus dan Bersikap Biasa Aja
Belakangan ini, berita tentang antrean BBM di berbagai tempat, khususnya di Bali, membuatku berpikir tentang banyak hal. Aku tidak tahu persis bagaimana negara ini dijalankan, apa yang sebenarnya terjadi di balik semua persoalan itu, dan mengapa keadaan bisa menjadi seperti sekarang. Terlalu banyak hal yang tidak kupahami, terlalu banyak pula informasi yang berseliweran dengan berbagai sudut pandang.
Namun, anehnya, aku sudah tidak punya keinginan untuk terlalu jauh memikirkannya.
Bukan karena aku tidak peduli sama sekali. Bukan pula karena menganggap semua persoalan itu tidak penting. Hanya saja, sepertinya aku sudah sampai pada tahap ketika tidak semua hal harus kupikirkan sampai menghabiskan tenaga sendiri. Ada begitu banyak urusan dalam hidup yang harus kuhadapi, begitu banyak hal yang masih perlu kubenahi. Rasanya aku tidak ingin menambah beban pikiran dengan sesuatu yang bahkan tidak punya kendali untuk kuubah.
Sekarang, aku lebih memilih mendoakan agar keadaan menjadi lebih baik.
Aku tidak ingin buru-buru menyalahkan siapa pun. Aku juga tidak ingin merasa paling memahami persoalan hanya karena membaca beberapa berita atau mendengar pendapat orang lain. Barangkali setiap orang yang mengambil keputusan memiliki pertimbangannya sendiri. Mungkin mereka merasa sedang melakukan sesuatu yang terbaik, meskipun pada akhirnya kita tidak selalu tahu untuk siapa kebaikan itu benar-benar ditujukan.
Sebab, bukankah sesuatu yang dianggap baik oleh seseorang belum tentu menjadi baik bagi semua orang?
Ada kalanya keputusan yang dibuat dengan keyakinan akan membawa manfaat justru menimbulkan kesulitan bagi orang lain. Ada pula kemungkinan bahwa sesuatu yang terlihat buruk dari luar memiliki pertimbangan yang tidak kita ketahui. Aku tidak sedang membenarkan siapa pun. Aku hanya merasa tidak selalu harus ikut menentukan siapa yang salah, terutama ketika aku sendiri tidak mengetahui keseluruhan ceritanya.
Mungkin ini bentuk ketidakpedulianku yang baru. Atau mungkin sekadar caraku menjaga kewarasan di tengah keadaan yang terasa semakin melelahkan.
Aku ingin hidup lebih sederhana. Mengurus apa yang memang menjadi tanggung jawabku, menyelesaikan apa yang masih bisa kuselesaikan, dan membiarkan hal-hal di luar kendaliku berjalan tanpa harus selalu kuikuti dengan kecemasan.
Sikap itu ternyata juga memengaruhi caraku menghadapi persoalan BBM belakangan ini.
Kalau melihat antrean panjang di SPBU, rasanya aku tidak ingin ikut menghabiskan waktu di sana. Aku lebih memilih membeli BBM di pom mini milik masyarakat, meskipun harganya sedikit lebih mahal. Bagiku, selisih harga itu terkadang sepadan dengan waktu dan tenaga yang bisa kuhemat. Aku tidak perlu berlama-lama mengantre, tidak perlu mengatur ulang kegiatan, dan bisa segera melanjutkan urusan lain.
Aku tahu pilihan itu tidak selalu menjadi yang paling ekonomis. Membeli di SPBU resmi bisa lebih menguntungkan dari sisi harga, dan pom mini pun perlu diperhatikan kualitas serta ketepatan takarannya. Tetapi dalam kondisi tertentu, aku lebih memilih membayar sedikit lebih mahal demi kepraktisan, selama tempatnya dapat dipercaya.
Sebenarnya, kebiasaan membeli BBM tanpa harus mengantre sudah kulakukan sejak dulu. Aku memang malas menghabiskan waktu untuk sesuatu yang bisa dibuat lebih praktis. Hanya saja, dulu pilihanku lebih banyak didasarkan pada kebiasaan.
Aku terbiasa menggunakan Pertamax. Rasanya sudah begitu saja sejak lama.
Namun, belakangan ini, ketika harga BBM semakin terasa membebani pengeluaran, aku mulai berpikir ulang. Aku sadar, kondisi keuangan harus tetap menjadi pertimbangan. Tidak perlu memaksakan diri mempertahankan pilihan hanya karena sudah terbiasa atau karena merasa sayang menurunkan standar.
Akhirnya, untuk motor, aku memilih beralih ke Pertalite. Sementara untuk mobil, aku masih menggunakan Pertamax.
Bagiku, ini bukan perkara gengsi atau soal bahan bakar mana yang membuat seseorang terlihat lebih mampu. Aku hanya sedang belajar menyesuaikan diri dengan keadaan. Kalau pengeluaran bisa ditekan tanpa mengorbankan kebutuhan yang penting, mengapa harus memaksakan diri?
Toh, pada akhirnya, yang membayar semuanya adalah uangku sendiri.
Aku tidak harus mempertahankan kebiasaan lama hanya demi membuktikan sesuatu kepada siapa pun. Tidak ada yang perlu kubuktikan. Yang penting, pilihan itu masuk akal, sesuai kemampuan, dan tetap memperhatikan kebutuhan kendaraan.
Mungkin memang ada hal-hal yang perlu kita perjuangkan dengan sungguh-sungguh. Tetapi ada pula hal-hal yang cukup kita sikapi dengan tenang, tanpa harus ikut larut dalam kegaduhan.
Tentang negara ini, aku tetap berharap semuanya membaik.
Tentang orang-orang yang mengambil keputusan, aku berharap mereka benar-benar memikirkan kepentingan masyarakat.
Dan tentang diriku sendiri, aku hanya ingin menjalani hidup dengan lebih tenang.
Aku tidak ingin menghabiskan seluruh tenaga untuk membenci, menyalahkan, atau memperdebatkan sesuatu yang belum tentu bisa kuubah. Aku ingin menyimpan sebagian energiku untuk hal-hal yang lebih dekat, lebih nyata, dan lebih mungkin kubenahi.
Sebab, pada akhirnya, aku tetap harus menjalani hidupku sendiri.
Aku tetap harus bekerja, memenuhi kebutuhan, mengatur pengeluaran, dan memikirkan masa depan.
Negara ini punya begitu banyak persoalan. Aku mungkin tidak mampu memahami semuanya, apalagi menyelesaikannya.
Jadi, untuk sementara, biarlah aku mendoakan yang terbaik.
Tanpa merasa paling benar.
Tanpa harus menunjuk siapa yang paling bersalah.
Dan tanpa harus memikirkan semuanya sampai lupa bahwa hidupku sendiri juga perlu kuurus.



Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!