Barangkali Aku Hanya Perlu Berhenti Mencari Tahu
Mungkin, jika kami tidak lagi sering bertemu, perasaanku akan hilang dengan sendirinya. Barangkali, seiring berjalannya waktu, aku akan terbiasa menjalani hari tanpa harus melihatnya, tanpa perlu bertanya-tanya apakah hari ini aku akan berpapasan dengannya atau tidak. Hari-hari yang dulu terasa menyenangkan hanya karena ada kemungkinan untuk melihatnya mungkin perlahan akan menjadi biasa. Sampai suatu saat nanti, aku tidak lagi mengingatnya sesering sekarang, bukan karena aku sengaja melupakan, melainkan karena hidup sudah memberiku begitu banyak hal lain untuk dipikirkan.
Aku sempat berpikir bahwa pindah ke tempat baru akan membuat semuanya lebih mudah. Jarak yang tercipta seharusnya bisa membantuku melepaskan diri dari kebiasaan memperhatikannya. Tidak ada lagi pertemuan yang tidak disengaja, tidak ada lagi kesempatan untuk melihatnya dari kejauhan, tidak ada lagi hal-hal kecil di kantor yang bisa membuatku pulang dengan membawa cerita sendiri di kepala. Seharusnya, semuanya bisa perlahan memudar.
Namun, ternyata pergi dari tempat yang sama tidak selalu berarti benar-benar berhenti mencari tahu.
Aku masih bisa melihatnya melalui story orang lain. Sesekali, aku menemukan potongan kecil tentang dirinya di antara unggahan yang sebenarnya tidak kucari untuk melihatnya. Setidaknya, itulah yang kadang ingin kukatakan kepada diriku sendiri. Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, bukankah aku memang masih punya keinginan untuk mengetahui kabarnya? Aku masih ingin tahu apa yang sedang dilakukannya, bagaimana kesehariannya, atau hal-hal sederhana yang mungkin tidak akan pernah kuceritakan kepada siapa pun. Aku tidak lagi berada di dekatnya, tetapi entah bagaimana, aku masih menemukan cara untuk membuatnya terasa sedikit dekat.
Lalu, setiap kali melihat sesuatu tentang dirinya, ada saja perasaan yang kembali muncul. Kadang hanya senyum kecil, kadang rasa rindu yang sulit dijelaskan, kadang kekaguman yang membuatku ingat mengapa dulu aku bisa menyukainya sedalam itu. Bahkan, sesuatu sesederhana melihatnya bersama seorang anak kecil bisa membuatku kembali memikirkan sisi dirinya yang kusukai. Seolah-olah perasaan yang tadinya mulai tenang menemukan alasan baru untuk hidup kembali.
Aku jadi bertanya-tanya, apakah selama ini aku memang belum bisa melupakannya, atau aku sebenarnya belum pernah benar-benar memberiku kesempatan untuk lupa?
Sebab, bagaimana perasaan itu bisa mereda jika aku masih terus membiarkan diriku mengetahui hal-hal baru tentangnya? Bagaimana aku bisa terbiasa dengan ketidakhadirannya jika sesekali aku masih mencari cara untuk menghadirkannya kembali, meskipun hanya lewat layar ponsel? Aku sudah tidak bertemu dengannya setiap hari, tetapi aku masih bisa menemukan jejaknya. Dan mungkin, tanpa kusadari, setiap jejak itu membuat jarak yang seharusnya semakin jauh terasa sedikit lebih dekat.
Anehnya, aku tidak selalu merasa sedih setelah melihatnya. Ada kalanya aku justru senang karena bisa mengetahui sedikit kabarnya. Ada rasa lega ketika melihatnya baik-baik saja, ada rasa hangat ketika menemukan sesuatu yang mengingatkanku pada hal-hal yang kusukai darinya. Namun, setelah itu, aku kembali pada kenyataan yang sama: aku sudah tidak berada di tempat yang sama dengannya, dan tidak ada alasan yang benar-benar mengharuskanku untuk terus mengetahui kehidupannya.
Mungkin aku hanya belum terbiasa kehilangan akses terhadap seseorang yang dahulu bisa kulihat begitu saja. Ketika masih satu kantor, keberadaannya adalah bagian dari keseharianku, meskipun kami tidak pernah benar-benar memiliki hubungan yang jelas. Sekarang, ketika semua itu tidak lagi tersedia, aku seperti berusaha mempertahankan sedikit bagian dari kebiasaan lama. Bukan dengan bertemu langsung, melainkan dengan mencari tahu dari kejauhan. Seolah-olah selama aku masih bisa melihatnya, aku belum sepenuhnya kehilangan sesuatu yang bahkan sejak awal tidak pernah benar-benar menjadi milikku.
Aku tidak tahu kapan kebiasaan ini akan berhenti. Mungkin suatu hari nanti aku akan merasa biasa saja ketika namanya muncul di story seseorang. Mungkin aku akan melihatnya tanpa perlu memikirkan apa pun setelahnya. Atau mungkin, aku perlu mulai belajar untuk tidak selalu mencari tahu, bukan karena aku membencinya atau ingin menyangkal bahwa aku pernah menyukainya, melainkan karena aku juga ingin memberi diriku kesempatan untuk menjalani hidup tanpa terus kembali pada perasaan yang sama.
Sebab, ada kemungkinan bahwa waktu sebenarnya sudah bekerja untuk membantuku melupakan, hanya saja aku berkali-kali membuka kembali pintu yang perlahan mulai tertutup.
Dan sekarang aku mulai memahami sesuatu yang mungkin selama ini enggan kuakui, barangkali bukan hanya dia yang belum bisa kulepaskan. Aku juga belum benar-benar rela melepaskan kebiasaan mencari tahu tentang dirinya. Aku masih ingin tahu, masih ingin melihat, masih ingin menyisakan sedikit ruang untuknya, meskipun aku sendiri tidak tahu untuk apa semua itu kupelihara.




Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!