Entah Apakah Suatu Hari Nanti Aku Benar-Benar Akan Melupakannya
Sejak memutuskan keluar dari tempat kerja lama dan pindah ke tempat baru, aku sudah tidak tahu lagi bagaimana kabar di sana.
Aku tidak lagi melihat aktivitas sehari-harinya secara langsung. Tidak lagi tahu siapa yang datang, siapa yang sedang sibuk, apa yang terjadi di kantor, atau hal-hal kecil yang dulu tanpa kusadari menjadi bagian dari keseharianku.
Sekarang, aku hanya bisa melihatnya sesekali melalui story orang lain.
Dari sana, aku tahu sedikit tentang apa yang terjadi di tempat lama. Tentang aktivitas mereka, tentang orang-orang yang masih menjalani rutinitas seperti biasa, dan tentang dia yang sekarang hanya bisa kulihat dari kejauhan.
Rasanya aneh.
Dulu, aku bisa saja bertemu dengannya tanpa perlu merencanakan apa-apa. Cukup datang ke kantor, menjalani hari seperti biasa, lalu berharap ada kesempatan untuk menyapa atau berbicara sebentar.
Sekarang, untuk sekadar melihat kabarnya saja, aku harus menunggu sesuatu muncul di layar ponselku.
Dan hari ini, aku melihatnya lagi.
Dia membawa anak kecil itu lagi.
Sederhana sekali sebenarnya. Hanya sebuah aktivitas yang mungkin bagi orang lain tidak memiliki arti khusus. Dia bersama seorang anak kecil, melakukan sesuatu seperti yang pernah dilakukannya sebelumnya.
Tapi entah kenapa, aku berhenti cukup lama pada story itu.
Ah, ternyata aku masih punya perasaan kepadanya.
Dan mungkin salah satu alasan mengapa aku begitu menyukainya adalah hal itu.
Aku suka melihat caranya bersama anak-anak.
Ada sesuatu yang selalu membuatku tersentuh ketika melihat seseorang yang begitu menyayangi anak kecil. Cara memperlakukan mereka, memberi perhatian, menemani, atau sekadar terlihat senang ketika berada di dekat mereka.
Hal-hal sederhana seperti itu mungkin tidak akan menarik perhatian semua orang.
Tapi bagiku, ada sesuatu yang terasa istimewa.
Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Mungkin karena aku menyukai sisi dirinya yang muncul dalam momen-momen seperti itu. Sisi yang membuatku melihatnya bukan sekadar sebagai seseorang yang menarik perhatianku, melainkan seseorang yang memiliki kelembutan yang kusukai.
Dan setiap kali melihatnya bersama anak-anak, perasaan itu seperti menemukan alasan baru untuk bertahan.
Padahal aku sudah pergi.
Aku sudah mencoba menerima bahwa kesempatan untuk menyatakan perasaanku mungkin memang telah berlalu. Aku sudah mengatakan kepada diriku sendiri bahwa aku harus melanjutkan hidup, mengenal tempat baru, bertemu orang-orang baru, dan membiarkan waktu melakukan apa yang tidak bisa kulakukan sendiri.
Aku bahkan pernah berpikir bahwa mungkin suatu hari nanti aku akan menemukan seseorang yang baru.
Seseorang yang membuatku tertarik lagi.
Seseorang yang perlahan mengisi ruang yang sekarang masih ditempati oleh bayangan dirinya.
Tapi hari ini, hanya dengan melihat satu story, aku kembali menyadari bahwa ternyata perasaan itu belum benar-benar pergi.
Aku masih menyukainya.
Masih bisa tersenyum ketika melihatnya.
Masih bisa merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan ketika melihat hal-hal kecil tentang dirinya.
Dan yang membuatku bingung, aku bahkan tidak tahu apakah aku masih merindukan orangnya, atau justru merindukan semua kemungkinan yang tidak pernah sempat terjadi di antara kami.
Aku tidak pernah benar-benar mengatakan perasaanku.
Aku tidak pernah tahu bagaimana tanggapannya jika aku jujur.
Aku tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk mengetahui apakah ada kemungkinan bagi kami untuk menjadi lebih dekat.
Jadi, mungkin sebagian dari perasaanku masih hidup dalam ruang yang belum pernah disentuh kenyataan.
Ruang tempat aku bebas membayangkan banyak hal, tetapi tidak pernah benar-benar tahu mana yang mungkin terjadi dan mana yang hanya keinginanku sendiri.
Dan sekarang, setelah aku pergi, ruang itu ternyata masih ada.
Aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan.
Melihat aktivitasnya melalui cerita orang lain.
Sesekali menemukan sesuatu yang membuatku tersenyum, lalu diam-diam menyadari bahwa aku masih menyimpan rasa yang sama.
Aku tidak tahu apakah ini akan berlangsung lama.
Aku juga tidak tahu apakah nanti, ketika waktu sudah berjalan lebih jauh, aku masih akan merasakan hal yang sama.
Bisa saja suatu hari nanti aku mulai terbiasa tidak mengetahui kabarnya. Bisa saja aku menemukan kesibukan baru, mengenal seseorang yang baru, lalu perlahan tidak lagi merasa perlu mencari tahu tentang dirinya.
Tapi hari ini belum sampai ke sana.
Hari ini aku masih bisa jatuh cinta lagi hanya karena melihatnya bersama seorang anak kecil.
Dan mungkin memang seperti itulah perasaanku kepadanya selama ini.
Bukan sesuatu yang selalu membutuhkan pertemuan.
Bukan pula sesuatu yang harus selalu mendapatkan perhatian darinya agar tetap hidup.
Kadang, cukup dengan melihat satu sisi dirinya yang kusukai, aku sudah bisa kembali mengingat mengapa dulu perasaan ini tumbuh.
Ah, aku tidak tahu harus bagaimana.
Aku sudah pergi dari tempat lama, tetapi ternyata tidak semua yang kutinggalkan ikut tertinggal di sana.
Ada perasaan yang masih kubawa.
Ada kenangan yang masih sesekali muncul.
Ada seseorang yang bahkan dari kejauhan pun masih bisa membuatku tersenyum.
Aku tidak ingin menyangkalnya.
Aku memang masih menyukainya.
Mungkin besok perasaan itu akan kembali tenang. Mungkin beberapa hari lagi aku akan sibuk dengan kehidupanku sendiri dan tidak terlalu memikirkannya.
Tetapi hari ini, setidaknya untuk hari ini, aku ingin jujur kepada diriku sendiri.
Aku masih punya perasaan kepadanya.
Aku masih menyukai caranya menyayangi anak-anak.
Dan meskipun aku sudah pindah, meskipun aku sudah berusaha meyakinkan diri bahwa aku harus melanjutkan hidup, ternyata aku masih bisa jatuh cinta kepadanya melalui hal-hal kecil yang kulihat dari kejauhan.
Entah sampai kapan.
Entah apakah suatu hari nanti aku benar-benar akan melupakannya.
Atau justru, ketika akhirnya kami bertemu kembali, aku akan menyadari bahwa perasaan ini memang masih ada.




Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!