LDR

 Sudah beberapa minggu ini aku menjalani LDR dengan istri.

Bukan karena kami sedang ada masalah. Bukan pula karena ada sesuatu yang membuat kami ingin saling menjauh. Keadaan saja yang membuat kami harus menjalani hari-hari seperti ini.

Semuanya bermula sejak istri dinyatakan positif hamil anak kedua. Seperti kehamilan anak pertama dulu, kali ini ia kembali mengalami muntah-muntah yang cukup berat. Kondisinya membuatnya sulit melakukan banyak hal. Sebagian besar waktunya hanya dihabiskan dengan berbaring, berusaha melewati rasa mual yang terus datang dan pergi.

Di rumah, tidak ada orang lain yang bisa membantunya setiap saat. Sementara ketika tubuh sedang tidak bersahabat, bahkan untuk mengurus kebutuhan sendiri pun bisa terasa begitu berat. Apalagi jika harus menjalani semuanya sendirian.

Aku bisa membayangkan betapa melelahkannya keadaan itu. Namun, membayangkan tentu tidak sama dengan benar-benar merasakannya.

Ada saat ketika seseorang tidak hanya membutuhkan bantuan untuk melakukan pekerjaan rumah, tetapi juga membutuhkan kehadiran orang lain. Seseorang yang bisa diajak bicara, yang bisa dimintai tolong tanpa harus merasa merepotkan, atau sekadar menemani ketika badan terasa tidak nyaman dan pikiran mulai ke mana-mana.

Akhirnya, kuputuskan untuk mengantarkan istri ke rumah ibunya.

Setidaknya di sana ada orang yang bisa merawatnya. Ada ibunya yang bisa menemani, memperhatikan kebutuhannya, dan memberikan perhatian yang mungkin jauh lebih ia perlukan pada masa-masa seperti ini.

Keputusan itu terasa masuk akal. Kalau aku tidak bisa selalu berada di sampingnya karena pekerjaan, setidaknya aku ingin memastikan bahwa ia tidak menjalani kehamilan ini sendirian.

Tetapi setelah itu, justru aku yang harus menjalani hari-hari sendirian.

Sekarang, kami hanya terhubung melalui telepon setiap malam. Mendengar suaranya, menanyakan keadaannya, memastikan bagaimana kondisi hari itu, lalu berbincang sebentar sebelum akhirnya masing-masing kembali menjalani malam.

Hanya itu yang bisa kami lakukan untuk sementara.

Aku belum sempat mengunjunginya. Urusan kantor masih cukup menyita waktu dan tenagaku. Selalu ada pekerjaan yang harus diselesaikan, tanggung jawab yang tidak bisa begitu saja ditinggalkan, dan berbagai hal yang membuat rencana untuk pulang atau menemuinya belum juga terlaksana.

Aku tahu, sesibuk apa pun pekerjaan, waktu bersama keluarga tetap penting. Hanya saja, terkadang mengatur semuanya tidak semudah yang dibayangkan. Ada hal-hal yang ingin segera kulakukan, tetapi keadaan belum memberiku kesempatan yang cukup lapang.

Sekarang aku juga memilih untuk kos daripada pulang ke rumah.

Rumah terasa terlalu kosong ketika tidak ada siapa-siapa. Tidak ada istri yang bisa diajak berbicara, tidak ada suara aktivitas sehari-hari, dan tidak ada seseorang yang menungguku pulang. Kalau pada akhirnya aku tetap harus menjalani malam sendirian, rasanya tidak banyak bedanya tinggal di rumah atau di kamar kos.

Setidaknya dengan kos, aku bisa lebih dekat dengan urusan kantor dan tidak perlu terlalu banyak memikirkan hal-hal lain.

Tetapi tentu saja, tinggal sendiri tetap terasa berbeda.

Ada rutinitas yang berubah. Ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang biasanya dilakukan bersama, tetapi sekarang harus dijalani masing-masing. Ada percakapan yang dulu bisa berlangsung kapan saja, kini harus menunggu waktu yang tepat untuk menelepon.

Aku tidak ingin mengeluh berlebihan. Bagaimanapun, keadaan istri jauh lebih membutuhkan perhatian saat ini. Ia sedang mengandung anak kami, menghadapi rasa mual yang tidak ringan, dan harus menyesuaikan diri dengan perubahan tubuhnya. Aku berharap ia bisa melewati masa-masa ini dengan baik.

Namun, sesekali aku juga merasakan betapa sepinya keadaan sekarang.

Comments

Popular Posts