Lelah Menjadi Seseorang yang Tidak Pandai Berkomunikasi
Hal paling sulit bagiku mungkin memang komunikasi.
Dari dulu, sampai sekarang, rasanya aku tidak pernah benar-benar berhasil berdamai dengan kesulitan ini. Berbicara dengan orang lain, menyampaikan maksud, menjelaskan sesuatu, bahkan sekadar merangkai kata agar tidak disalahpahami, semuanya bisa menjadi pekerjaan yang melelahkan.
Ada orang yang bisa berbicara dengan begitu mudah. Mereka tahu harus mengatakan apa, bagaimana memulai percakapan, kapan harus bercanda, dan bagaimana membuat orang lain merasa nyaman. Seolah-olah semua itu terjadi secara alami, tanpa perlu dipikirkan terlalu lama.
Sementara aku, untuk melakukan hal yang sama, terkadang harus mengerahkan tenaga berkali-kali lipat.
Aku sering tidak tahu harus memulai dari mana. Kadang sudah tahu apa yang ingin kusampaikan, tetapi ketika harus mengucapkannya, kata-kata itu mendadak terasa sulit keluar. Ada kalanya aku terlalu banyak berpikir sebelum berbicara, takut kalimatku keliru, takut maksudku tidak tersampaikan, atau takut orang lain menangkap sesuatu yang sebenarnya tidak pernah kumaksudkan.
Akhirnya, aku memilih diam.
Sayangnya, diam pun tidak selalu menyelesaikan masalah.
Ketika aku tidak banyak bicara, orang mungkin menganggapku tidak ramah. Ketika aku kesulitan menjelaskan sesuatu, mungkin aku terlihat tidak menguasai persoalan. Ketika aku tidak segera merespons, orang bisa saja mengira aku tidak peduli.
Padahal, belum tentu seperti itu.
Terkadang aku hanya sedang berusaha menemukan cara yang tepat untuk menyampaikan sesuatu. Terkadang pikiranku penuh, tetapi mulutku tidak tahu bagaimana mengeluarkannya. Dan terkadang, setelah terlalu lama memikirkan apa yang harus kukatakan, kesempatan untuk berbicara justru sudah lewat.
Hal-hal sederhana seperti itu mungkin tidak pernah terlihat oleh orang lain.
Mereka hanya melihat hasil akhirnya, seseorang yang pendiam, kurang tanggap, sulit diajak bicara, atau tidak pandai menyampaikan maksud.
Sementara aku harus menghadapi seluruh proses yang terjadi di dalam kepalaku sendiri.
Yang paling melelahkan adalah ketika kesulitan ini terbawa ke pekerjaan.
Aku tahu komunikasi merupakan bagian penting dari dunia kerja. Tidak semua hal bisa diselesaikan sendirian. Ada koordinasi, diskusi, negosiasi, penyampaian pendapat, dan berbagai urusan yang mengharuskanku berinteraksi dengan orang lain.
Aku memahami bahwa itu semua merupakan bagian dari tanggung jawab.
Masalahnya, memahami sesuatu sebagai keharusan tidak otomatis membuatku mampu melakukannya dengan mudah.
Aku bisa mengerti bahwa aku harus berkomunikasi. Aku bisa menyadari bahwa pekerjaan menuntutku untuk berbicara dan berinteraksi. Tetapi ketika harus benar-benar menjalaninya, aku sering merasa kehabisan tenaga.
Bukan karena aku tidak mau bekerja.
Bukan pula karena aku selalu ingin menghindari tanggung jawab.
Aku hanya sering merasa bahwa hal yang bagi orang lain merupakan bagian biasa dari pekerjaan, bagiku justru menjadi salah satu bagian yang paling menguras energi.
Kadang aku lelah bahkan sebelum pekerjaan itu benar-benar selesai, bukan semata-mata karena tugasnya sulit, melainkan karena harus berhadapan dengan begitu banyak interaksi yang tidak selalu tahu bagaimana cara kujalani.
Belum lagi komunikasi tertulis.
Orang mungkin mengira menulis pesan adalah perkara mudah. Tinggal mengetik beberapa kalimat, lalu mengirimkannya. Namun, bagiku, terkadang satu pesan sederhana bisa memunculkan begitu banyak pertimbangan.
Apakah kalimatnya sudah tepat?
Apakah terdengar terlalu kaku?
Apakah orang akan salah paham?
Apakah aku perlu menjelaskan lebih banyak, atau justru sebaiknya tidak usah mengatakan apa-apa?
Aku bisa menghabiskan waktu hanya untuk memikirkan hal-hal seperti itu.
Dan ketika pesan sudah terkirim, terkadang pikiranku masih belum berhenti. Aku memikirkan bagaimana orang lain membacanya, bagaimana mereka menafsirkan kata-kataku, dan apakah ada sesuatu yang seharusnya kusampaikan dengan cara berbeda.
Lama-lama, rasanya melelahkan sekali.
Aku sering bertanya-tanya, mengapa sesuatu yang terlihat begitu sederhana bagi orang lain bisa terasa begitu rumit bagiku?
Apakah aku memang kurang mampu?
Apakah aku terlalu banyak berpikir?
Ataukah selama ini aku terlalu takut melakukan kesalahan sampai akhirnya kesulitan itu semakin besar?
Aku tidak selalu punya jawabannya.
Yang jelas, aku tahu bahwa kesulitan berkomunikasi telah membuatku beberapa kali merasa tertinggal. Ada hal-hal yang sebenarnya ingin kusampaikan, tetapi tidak pernah berhasil kuutarakan dengan baik. Ada kesempatan yang mungkin terlewat karena aku tidak tahu bagaimana harus memulai. Ada pula kesalahpahaman yang membuatku kembali mempertanyakan diriku sendiri.
Kadang aku bahkan sampai berpikir bahwa wajar jika ada orang yang tidak menyukaiku karena kekuranganku ini.
Tetapi setelah kupikirkan lagi, aku tidak benar-benar tahu apa yang dipikirkan semua orang tentang diriku. Mungkin ada yang merasa kesulitan berkomunikasi denganku. Mungkin ada yang salah memahami sikapku. Namun, mungkin juga ada orang yang sebenarnya tidak mempermasalahkannya sebesar yang kubayangkan.
Aku tidak ingin terus-menerus menghukum diriku sendiri berdasarkan dugaan tentang penilaian orang lain.
Aku memang belum pandai berkomunikasi. Itu kenyataan yang ingin kuakui, bukan sesuatu yang harus kututupi dengan berpura-pura menjadi orang lain.
Tetapi apakah itu berarti aku tidak bisa belajar?
Mungkin aku tidak akan pernah menjadi orang yang paling luwes dalam percakapan. Mungkin aku tetap membutuhkan waktu lebih lama untuk menyusun kata-kata. Mungkin ada situasi sosial yang akan selalu terasa canggung bagiku.
Namun, setidaknya aku bisa belajar menyampaikan maksud dengan lebih jelas, menulis pesan dengan lebih terstruktur, dan berani mengatakan sesuatu meskipun belum sempurna.
Aku tidak harus berubah menjadi orang yang banyak bicara untuk bisa berkomunikasi dengan baik.
Aku hanya perlu menemukan cara yang sesuai dengan diriku, lalu perlahan memperbaiki bagian-bagian yang memang masih menyulitkanku.
Meski begitu, aku tidak ingin berpura-pura bahwa semuanya mudah.
Sebab, bagi seseorang yang sudah bertahun-tahun bergulat dengan kesulitan yang sama, nasihat untuk sekadar lebih berani atau lebih percaya diri terkadang terasa terlalu sederhana dibandingkan perjuangan yang sebenarnya.
Aku sudah tahu bahwa komunikasi itu penting.
Aku sudah tahu bahwa aku perlu belajar.
Aku juga sudah tahu bahwa aku tidak bisa terus-menerus menghindari semua interaksi.
Yang terkadang tidak kuketahui hanyalah bagaimana melakukannya tanpa merasa begitu lelah.
Mungkin itu sebabnya aku menulis ini.
Bukan untuk membenarkan semua kekuranganku. Bukan pula untuk meminta orang lain selalu memaklumi kesulitanku.
Aku hanya ingin mengakui bahwa ada sesuatu yang selama ini begitu menguras tenagaku, sesuatu yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain karena mereka hanya melihat bagaimana aku berbicara, bukan betapa kerasnya aku berusaha melakukannya.





Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!