Mengapa Meminta Bantuan Terasa Begitu Sulit?
Belakangan ini aku sebenarnya sudah tidak terlalu tertarik mengikuti berita dan berbagai isu terkini. Rasanya terlalu banyak hal yang terjadi, terlalu banyak persoalan yang diperdebatkan, dan terlalu banyak energi yang bisa habis hanya untuk memikirkan sesuatu yang belum tentu bisa kuubah.
Aku memilih untuk tidak terlalu larut di dalamnya.
Namun, ada satu berita yang membuatku berhenti sejenak.
Seorang anggota parlemen Malaysia dari koalisi Perikatan Nasional, Kalam Salan, menyampaikan teguran terbuka kepada Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, dalam sidang Dewan Rakyat Malaysia. Ia menggunakan bahasa Jawa ketika menyinggung persoalan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia yang menyebabkan kabut asap hingga berdampak ke negara tetangga.
Cara penyampaiannya cukup menarik perhatian. Kritik yang mungkin akan terdengar biasa jika disampaikan dengan cara formal, mendadak menjadi sorotan karena menggunakan bahasa yang akrab bagi sebagian masyarakat Indonesia.
Namun, di balik cara penyampaiannya yang tidak biasa itu, ada persoalan yang jauh lebih penting: orang-orang sedang berjuang menghadapi dampak kabut asap, sementara persoalan yang menyebabkan penderitaan mereka belum tentu bisa diselesaikan dalam waktu singkat.
Ketika membayangkan bagaimana masyarakat harus bertahan di tengah kepungan asap, aku mulai berpikir bahwa persoalan seperti ini seharusnya tidak semata-mata dipandang sebagai urusan harga diri sebuah negara.
Ada manusia yang harus menjalani hari-harinya dalam kondisi yang tidak nyaman. Ada keluarga yang mengkhawatirkan kesehatan mereka. Ada orang-orang yang mungkin tidak punya pilihan selain tetap beraktivitas di tengah keadaan yang sulit.
Dalam situasi seperti itu, apa salahnya jika Indonesia menerima bantuan dari negara lain?
Bagiku, meminta bantuan bukan berarti sebuah negara tidak mampu. Mengakui bahwa suatu persoalan terlalu besar untuk ditangani sendiri juga bukan berarti kehilangan martabat. Justru ada kebijaksanaan ketika seseorang atau sebuah negara mampu mengenali keterbatasannya sendiri.
Kita tidak harus menunggu sampai semuanya menjadi lebih buruk hanya demi membuktikan bahwa kita sanggup menyelesaikan persoalan tanpa bantuan siapa pun.
Terkadang, bantuan dari luar justru menjadi jalan untuk mempercepat penyelesaian masalah. Ada sumber daya yang bisa dibagikan, keahlian yang bisa dimanfaatkan, dan pengalaman yang mungkin tidak kita miliki. Selama bantuan itu dapat dikelola dengan baik dan tetap memperhatikan kepentingan masyarakat, mengapa harus ditolak hanya karena datang dari pihak lain?
Aku sering tidak mengerti mengapa menerima masukan atau mengakui kesalahan bisa terasa begitu sulit. Seolah-olah mengakui bahwa kita keliru akan membuat seluruh kemampuan kita dipertanyakan. Seolah-olah menerima pertolongan berarti mengakui kekalahan.
Padahal, bukankah tujuan utamanya adalah menyelesaikan persoalan?
Tidak semua kritik disampaikan untuk menjatuhkan. Tidak semua bantuan diberikan untuk mempermalukan. Dan tidak setiap pengakuan atas keterbatasan harus berakhir dengan hilangnya kehormatan.
Tentu saja, tidak semua kritik benar dan tidak semua tawaran bantuan pasti tepat. Kita tetap perlu menilai, mempertimbangkan, dan memastikan bahwa keputusan yang diambil memang bermanfaat. Tetapi menimbang dengan hati-hati berbeda dengan menolak hanya karena tidak ingin terlihat membutuhkan orang lain.
Menariknya, ketika memikirkan hal ini, aku justru teringat kepada diriku sendiri.
Aku bisa dengan mudah mempertanyakan mengapa sebuah negara begitu sulit menerima bantuan. Aku bisa merasa bahwa seharusnya tidak ada yang perlu dipertahankan mati-matian ketika keselamatan dan kepentingan masyarakat jauh lebih penting.
Namun, ketika persoalan yang sama muncul dalam kehidupanku sendiri, ternyata aku pun tidak selalu mampu melakukan apa yang menurutku benar.
Aku sering kesulitan meminta bantuan.
Bukan semata-mata karena gengsi. Bukan pula karena merasa lebih hebat daripada orang lain. Terkadang aku benar-benar tidak tahu bagaimana harus memulainya.
Aku tidak tahu harus menghubungi siapa. Tidak tahu bagaimana menyusun kalimat agar maksudku tersampaikan dengan baik. Tidak tahu bagaimana menjelaskan bahwa aku sedang kesulitan tanpa merasa sedang membebani orang lain.
Bahkan ketika sebenarnya aku membutuhkan pertolongan, aku bisa menghabiskan waktu terlalu lama hanya untuk memikirkan cara memintanya.
Akhirnya, aku memilih diam.
Aku mencoba menyelesaikan semuanya sendiri, meskipun terkadang kewalahan. Aku berpikir bahwa mungkin masih ada cara lain. Mungkin aku masih bisa bertahan sedikit lebih lama. Mungkin persoalan ini akan selesai dengan sendirinya jika aku menunggu.
Sampai akhirnya, sesuatu yang seharusnya bisa terasa lebih ringan justru menjadi semakin berat karena terlalu lama kupikul sendirian.
Di situlah aku mulai memahami bahwa kesulitan meminta bantuan tidak selalu berasal dari kesombongan. Terkadang seseorang memang tidak ingin terlihat lemah. Namun, ada juga orang yang tidak tahu bagaimana mengungkapkan kebutuhannya, takut disalahpahami, atau tidak terbiasa menunjukkan bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.
Mungkin aku termasuk yang terakhir itu.






Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!