Mungkin, Sebelum Sempat Mengatakan Cinta Kepadanya, Aku Justru akan Menemukan Seseorang yang Baru
Sebenarnya, ada satu hal yang belakangan ini mulai kupikirkan.
Aku tidak yakin apakah nanti, ketika suatu hari kembali bertemu dengannya, perasaanku masih akan sama.
Aku tidak tahu apakah aku masih akan merasakan hal yang sama seperti sekarang. Apakah jantungku masih akan berdebar ketika melihatnya. Apakah aku masih akan memiliki keinginan yang begitu besar untuk mengatakan sesuatu yang selama ini gagal kusampaikan.
Sebab aku tahu diriku sendiri.
Aku mudah jatuh cinta.
Mungkin terlalu mudah.
Aku bisa tertarik kepada seseorang, mulai memperhatikannya, kemudian tanpa sadar membiarkan pikiranku berjalan terlalu jauh. Membayangkan banyak hal yang bahkan belum tentu akan terjadi. Menyimpan harapan dari pertemuan-pertemuan sederhana, lalu menghabiskan waktu untuk memikirkan seseorang yang mungkin tidak pernah tahu seberapa jauh pikiranku tentangnya.
Dan sekarang, ketika aku sudah berpindah tempat kerja, ternyata kebiasaan itu tidak sepenuhnya hilang.
Hal pertama yang kulakukan ketika memasuki lingkungan baru adalah mengamati.
Melihat orang-orangnya.
Mengenali wajah-wajahnya.
Mencari tahu seperti apa mereka, bagaimana mereka berinteraksi, dan siapa yang mungkin menarik perhatianku.
Barangkali aku sedang mencari kecocokan. Barangkali aku sedang mencari seseorang yang bisa membuat hari-hariku terasa lebih menarik. Atau mungkin ada bagian dari diriku yang memang selalu membutuhkan sesuatu untuk dirasakan, seseorang untuk diperhatikan, atau kemungkinan baru yang bisa membuat hati sedikit berdebar.
Aku sendiri tidak sepenuhnya mengerti.
Yang jelas, bahkan sebelum aku benar-benar mengenal tempat baru ini, pikiranku sudah mulai mencari.
Seolah-olah ada ruang dalam diriku yang ingin segera diisi oleh sesuatu yang baru.
Dan di situlah aku mulai bertanya-tanya tentang perasaanku kepada dia.
Apakah aku benar-benar mencintainya?
Atau aku sedang jatuh cinta kepada kemungkinan yang kubangun sendiri?
Aku tidak bermaksud mengecilkan perasaanku. Apa yang kurasakan selama ini nyata bagiku. Kerinduan itu ada. Keinginan untuk bertemu itu ada. Penyesalan karena tidak pernah berhasil mengungkapkan perasaan juga benar-benar ada.
Aku tidak sedang berpura-pura.
Tetapi aku juga tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa aku belum benar-benar mengenalnya sedalam yang mungkin kubayangkan. Ada banyak hal tentang dirinya yang tidak kuketahui. Ada banyak pertanyaan yang tidak pernah sempat kutanyakan. Bahkan untuk urusan paling sederhana, yaitu mengetahui bagaimana perasaannya terhadapku, aku tidak pernah mendapatkan jawaban.
Aku telah menghabiskan begitu banyak waktu untuk memikirkan sesuatu yang belum pernah benar-benar kami bicarakan.
Mungkin itulah yang membuat perasaan ini sulit selesai.
Tidak ada jawaban yang bisa kuterima.
Tidak ada penolakan yang bisa kugunakan untuk berhenti berharap.
Tidak ada pengakuan yang bisa menjadi awal sebuah hubungan.
Semuanya menggantung di antara kemungkinan dan ketidakpastian.
Dan karena tidak pernah sampai pada kenyataan, mungkin aku masih bebas membayangkan cerita itu akan berakhir seperti apa.
Namun, aku juga mengenal diriku sendiri.
Aku tahu perasaan bisa berubah.
Aku pernah begitu tertarik kepada seseorang, lalu seiring waktu, ketertarikan itu memudar dengan sendirinya. Ada orang yang dahulu sering kupikirkan, tetapi sekarang bahkan jarang sekali muncul dalam ingatan. Bukan karena sesuatu yang buruk terjadi, melainkan karena hidup berjalan, perhatian berpindah, dan hati perlahan menemukan hal lain yang terasa lebih dekat.
Jadi, siapa yang bisa menjamin bahwa perasaanku kepada dia akan tetap sama sampai tahun baru nanti?
Bisa saja aku masih merindukannya.
Bisa saja aku masih ingin menyatakan cinta.
Tetapi bisa juga, sebelum waktu itu tiba, aku justru menemukan seseorang yang baru.
Seseorang di tempat kerja yang sekarang.
Seseorang yang awalnya hanya menjadi wajah asing, lalu perlahan menjadi orang yang menarik perhatianku. Seseorang yang bisa kuajak bicara tanpa harus melewati begitu banyak ketakutan. Seseorang yang kehadirannya membuatku menyadari bahwa ternyata ada kemungkinan lain yang selama ini tidak pernah kupikirkan.
Dan jika itu terjadi, mungkin aku akan melupakan dia.
Bukan karena aku sengaja menghapusnya dari ingatan. Bukan karena perasaanku yang sekarang ternyata palsu. Mungkin aku hanya sudah menemukan sesuatu yang membuatku tidak lagi ingin kembali kepada cerita yang sama.
Bukankah itu mungkin?
Aku pernah berpikir bahwa aku harus menyatakan perasaan sebelum pergi, seolah-olah hanya dengan begitu aku bisa mendapatkan penutup yang layak. Aku juga pernah berpikir untuk menunggunya sampai tahun baru nanti, berharap masih ada kesempatan untuk mengatakan semuanya jika ternyata perasaan itu belum berubah.
Namun, sekarang aku mulai menyadari bahwa bukan hanya keadaan yang bisa berubah.
Aku juga bisa berubah.
Perasaanku bisa berubah.
Keinginanku bisa berubah.
Bahkan sesuatu yang hari ini terasa begitu penting, suatu hari nanti mungkin tidak lagi memiliki tempat yang sama di hatiku.
Dan mungkin aku tidak perlu takut akan kemungkinan itu.
Kalau nanti aku masih mencintainya, aku akan menghadapi perasaan itu ketika waktunya tiba.
Kalau nanti aku sudah tidak lagi merasakan hal yang sama, mungkin aku memang sudah selesai dengannya tanpa harus mendapatkan sebuah pertemuan terakhir.
Dan kalau ternyata aku menemukan seseorang yang baru, mungkin itu bukan berarti aku mengkhianati perasaan yang pernah kumiliki. Aku hanya sedang melanjutkan hidup, sebagaimana mestinya.
Aku tidak tahu apakah Tuhan memang tidak mengizinkanku mengutarakan isi hati kepada dia, atau selama ini aku sendiri yang belum cukup berani mengambil kesempatan.
Mungkin keduanya bercampur menjadi satu.
Tetapi aku ingin percaya bahwa apa pun yang terjadi nanti, hidupku tidak akan berhenti hanya karena satu perasaan yang tidak pernah tersampaikan.
Aku tidak ingin menjadikan dia sebagai satu-satunya kemungkinan yang bisa membuatku bahagia.
Aku juga tidak ingin terus menunggunya hanya karena aku sudah terlanjur menghabiskan begitu banyak waktu untuk memikirkannya.
Sebab waktu yang sudah kuhabiskan tidak harus menjadi alasan untuk terus bertahan pada sesuatu yang belum tentu menjadi milikku.
Untuk sekarang, aku memang masih menyimpan harapan.
Aku masih bisa tersenyum ketika melihatnya.
Aku masih sesekali mengingatnya.
Tetapi aku juga sedang menjalani kehidupan yang baru, bertemu orang-orang baru, dan membuka kemungkinan-kemungkinan yang belum pernah kukenal sebelumnya.
Siapa tahu, di antara semua wajah asing itu, ada seseorang yang suatu hari nanti membuatku lupa bahwa aku pernah begitu sibuk menunggu orang lain.
Dan kalau hari itu benar-benar datang, mungkin aku akan memahami bahwa tidak semua perasaan harus diperjuangkan sampai akhir.
Ada yang cukup dirasakan.
Ada yang cukup dikenang.
Ada pula yang perlahan kehilangan tempatnya ketika hidup membawa kita menuju sesuatu yang berbeda.
Jadi, apakah aku akan tetap mencintainya ketika tahun baru tiba?
Aku sungguh tidak tahu.
Aku bahkan tidak yakin apakah nanti aku masih ingin mengatakan semua yang sekarang begitu ingin kusampaikan.
Untuk pertama kalinya, aku tidak ingin membuat janji kepada perasaanku sendiri.
Aku akan membiarkan waktu berjalan.
Membiarkan diriku mengenal kehidupan yang baru.
Membiarkan hatiku merasakan apa pun yang memang akan dirasakannya.
Karena mungkin, selama ini, aku terlalu sibuk bertanya apakah suatu hari nanti dia akan menjadi bagian dari hidupku, sampai lupa bahwa aku sendiri masih sedang berjalan menuju masa depan yang belum kukenal.
Mungkin aku akan kembali kepadanya.
Mungkin aku akan melupakannya.
Atau mungkin, sebelum sempat mengatakan cinta kepadanya, aku justru akan menemukan seseorang yang membuatku mengerti mengapa cerita itu tidak pernah sempat dimulai.




Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!