Seandainya Dulu Aku Tidak Pergi

 


Ternyata, masih ada sesuatu yang bisa membuatku tersenyum, meskipun hanya dengan melihatmu sekilas melalui story orang lain. Tidak perlu percakapan, tidak perlu pertemuan, bahkan tidak perlu tahu apa yang sedang kamu lakukan. Cukup melihat wajahmu beberapa detik di antara potongan-potongan video yang dibagikan orang lain, rasanya sudah cukup untuk membuat rinduku sedikit terobati.

Beberapa hari terakhir, aku tidak menemukanmu di sana. Tidak ada wajahmu yang tertangkap kamera, tidak ada potongan aktivitas yang bisa kulihat, bahkan tidak ada kebetulan kecil yang membuatku tahu bahwa hari itu kamu ada di sekitar mereka. Aku tidak tahu ke mana kamu pergi atau apa yang sedang kamu lakukan. Aku hanya menyadari bahwa sudah beberapa hari aku tidak melihatmu, dan ternyata hal sesederhana itu bisa membuatku merasa kehilangan sesuatu.

Lucu, ya? Aku sudah tidak berada di tempat yang sama denganmu. Aku sudah memilih pergi, membangun rutinitas baru, dan mencoba menjalani kehidupan yang berbeda. Seharusnya, aku mulai terbiasa dengan ketidakhadiranmu. Seharusnya, jarak yang tercipta bisa membuat semuanya perlahan memudar. Namun, ternyata ada bagian dari diriku yang masih menunggu kemunculanmu, meskipun hanya dalam sebuah story yang mungkin tidak sengaja kulihat.

Rindu, tetapi aku bisa apa?

Semua ini terjadi karena pilihan yang kubuat sendiri. Aku yang memutuskan meninggalkan tempat itu. Aku yang memilih menjauh sebelum perasaanku tumbuh semakin dalam. Aku yang berkali-kali meyakinkan diri bahwa mungkin lebih baik tidak meneruskan sesuatu yang bahkan belum pernah jelas arahnya. Ada ketakutan yang tidak bisa kuabaikan. Takut salah membaca keadaan, takut berharap terlalu jauh, takut mengungkapkan sesuatu yang justru akan membuat semuanya berubah. Pada akhirnya, pergi terasa seperti keputusan yang paling aman.

Namun, ternyata keputusan yang aman tidak selalu menjadi keputusan yang paling mudah dijalani.

Ketika masih berada di sana, aku harus menahan keinginan untuk mendekat. Aku harus mengendalikan diri agar tidak terlalu sering memperhatikanmu, tidak terlalu banyak berharap dari pertemuan-pertemuan kecil, dan tidak membiarkan perasaan itu semakin jauh. Sekarang, ketika aku sudah berhasil menjauh, aku justru harus menahan keinginan untuk bertemu. Tidak ada lagi kesempatan melihatmu secara langsung, tidak ada lagi kemungkinan berpapasan di lorong atau menemukanmu dalam aktivitas sehari-hari. Bahkan untuk sekadar mengetahui kabarmu pun, aku bergantung pada unggahan orang lain.

Kadang aku berpikir, mungkin seandainya dulu aku tidak pergi, aku masih bisa melihatmu seperti biasanya. Setidaknya, aku tidak perlu menunggu seseorang mengunggah sebuah story hanya untuk mengetahui bahwa hari itu kamu ada. Tetapi kemudian aku teringat alasan mengapa aku memilih pergi. Aku tahu ada sesuatu yang kutakutkan jika terus berada di dekatmu. Aku tidak yakin sanggup menghadapi perasaan yang semakin besar sementara aku sendiri tidak tahu apakah ada tempat untuk perasaan itu di dalam hidupmu.

Comments

Popular Posts