Skip to main content

Posts

Kesempatan yang Kutinggalkan di Gerbang

Adegan itu masih terulang jelas di kepalaku, seperti potongan film yang diputar tanpa henti. Ia berdiri di pintu gerbang, bukan kebetulan yang samar, bukan kehadiran yang setengah tersembunyi. Ia benar-benar ada di sana, menungguku. Setidaknya begitulah rasanya. Tidak ada keraguan pada jarak pandangku, tidak ada alasan untuk berpura-pura tidak melihat. Aku melihatnya. Ia juga melihatku. Dan justru di detik itulah semuanya di dalam diriku mendadak berhenti. Selama berhari-hari, bahkan mungkin berminggu-minggu, aku selalu membayangkan momen seperti ini. Aku membayangkan percakapan yang akan kami mulai, kalimat pembuka yang sederhana, mungkin hanya sapaan ringan yang bisa berkembang menjadi obrolan panjang. Aku membayangkan bagaimana akhirnya kami akan punya waktu berdua, berdiri di ruang yang sama tanpa keramaian yang mengganggu. Semua skenario itu sudah kususun rapi, seperti naskah yang menunggu dipentaskan. Tapi kenyataan selalu punya cara sendiri untuk mengacaukan segalanya. Saat ...
Recent posts

Subuh yang Datang Bersama Kebiasaan Baru

Sudah empat bulan sejak rutinitas gym pelan-pelan masuk ke hidupku. Awalnya hanya soal ingin badan lebih sehat, ingin bergerak lebih banyak, ingin merasakan pegal yang rasanya “pantas.” Tapi aku tidak menyangka perubahan yang datang ternyata merembet ke hal lain, ke sesuatu yang jauh lebih sunyi, lebih pribadi, dan lebih bermakna dari sekadar keringat dan hitungan repetisi. Sekarang, pagiku hampir selalu dimulai dengan langkah menuju masjid untuk salat Subuh berjamaah. Kalau mengingat ke belakang, rasanya ini kebiasaan yang dulu terasa jauh. Bangun pagi bukan masalah bagiku, masalahnya adalah bangun tepat waktu untuk Subuh. Dulu, malam sering terasa terlalu panjang. Pikiran berisik, tubuh tidak benar-benar lelah, dan tidur datang seperti tamu yang malas mampir. Kadang aku baru benar-benar terlelap saat malam sudah hampir habis. Akibatnya, Subuh sering lewat begitu saja, tanpa sempat kusadari. Lalu gym mengubah ritme itu secara perlahan. Hari-hari mulai diisi aktivitas fisik yang n...

Ingin Dimengerti, Tapi Juga Ingin Tetap Menghormati.

Pikiran itu muncul begitu saja, barusan sekali, seperti ide nekat yang lahir dari terlalu banyak kegagalan. Setelah sekian lama semua rencana untuk menyapa selalu kandas, kata-kata yang sudah kususun rapi mendadak buyar begitu ia berdiri di hadapanku, senyum yang ingin kulempar malah berubah jadi wajah datar, aku mulai merasa mungkin ada yang salah dengan caraku berkomunikasi. Atau mungkin memang aku yang terlalu takut pada suaraku sendiri. Lalu entah dari mana, terlintas pikiran yang agak berbahaya: bagaimana kalau bukan kata-kata yang kugunakan? Bagaimana kalau sentuhan kecil saja? Isyarat yang tidak perlu suara. Mungkin dengan begitu ia akan paham maksudku. Mungkin dengan rabaan ringan, sekadar menyentuh lengan saat berpapasan, atau menepuk bahunya pelan, pesan yang tak pernah berhasil keluar dari mulutku bisa sampai juga. Tapi bahkan sebelum pikiran itu selesai, aku sudah merasa tidak nyaman. Karena dunia tidak sesederhana itu. Karena sentuhan bukan bahasa yang bisa digunakan se...

Dipenuhi Banyak Orang, Tapi Terasa Hanya Menyisakan Dua Orang yang Sama-sama Tidak Tahu Harus Berbuat Apa

Aku mulai menyadari sesuatu yang kecil, tapi terus mengusik pikiranku. Setiap kali kami berada di tempat yang sama, suasana di sekelilingnya berubah...... atau mungkin hanya perasaanku yang berubah. Dia jadi lebih banyak diam. Tidak lagi secerah biasanya. Tidak sehidup seperti saat aku melihatnya dari kejauhan, ketika ia tertawa bebas bersama teman-temannya, bergerak ringan seolah dunia tidak memiliki beban apa pun. Dan entah kenapa, setiap kali itu terjadi, aku merasa seperti penyebabnya. Perasaan itu muncul pelan-pelan, tidak tiba-tiba. Awalnya hanya sekilas pikiran yang lewat, lalu pergi. Tapi semakin sering kami bertemu, semakin sering pula pikiran itu kembali, seperti tamu yang tidak diundang tapi terus menemukan jalan pulang. Jangan-jangan dia jadi diam karena aku ada. Jangan-jangan kehadiranku membuat ruang di sekitarnya menyempit, membuatnya kehilangan keluwesan yang biasanya ia miliki. Aku sering melihatnya dari jauh ketika aku belum berada di dekatnya. Dia tampak lepas, te...

Riuh yang Datang dari Sudut Gym

Sabtu kemarin, suasana gym terasa berbeda dari biasanya. Sejak melangkah masuk, aku sudah bisa merasakan energi yang lebih ramai..... bukan hanya dari bunyi barbel yang beradu atau dentuman musik yang memantul di dinding, tetapi dari suara percakapan yang bergulung di sudut-sudut ruangan. Orang-orang tampak lebih banyak, lebih hidup, dan entah kenapa lebih berisik. Sabtu memang sering jadi hari paling padat, tapi kali ini ada semacam riuh yang terasa tidak biasa. Seperti biasa, aku tidak terlalu banyak berinteraksi dengan para member lain. Aku datang, fokus latihan, lalu pulang. Hubungan kami sebatas anggukan kecil atau senyum singkat ketika berpapasan. Namun hari itu, percakapan para anggota senior terdengar cukup keras hingga sulit diabaikan. Suara mereka naik turun, diselingi tawa, gumaman kaget, dan kalimat-kalimat yang diucapkan setengah berbisik namun tetap terdengar jelas. Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan. Kata-kata yang tertangkap hanya serpihan, “polisi…”, “digrebek…”...

Cara Halus Menjebak Istri ke Dunia Gym

Dua minggu terakhir ini rasanya seperti menjalankan misi rahasia yang akhirnya berhasil. Misi sederhana, sebenarnya...... “meracuni” istriku agar mau ikut gym. Kata meracuni memang terdengar dramatis, tapi rasanya itu kata yang paling pas. Soalnya, dari dulu dia termasuk tim yang santai soal olahraga. Jalan kaki secukupnya, aktivitas rumah tangga sudah dianggap cukup, dan kalau diajak olahraga serius biasanya jawabannya selalu sama....  nanti, besok, kapan-kapan. Sementara aku, tiap lihat orang yang cuma duduk, rebahan, atau sekadar glibak-glibuk tanpa gerakan berarti, rasanya gemas sendiri. Bukan sok sehat, cuma pengin orang yang paling dekat denganku juga merasakan badan yang lebih kuat dan segar. Rencana itu sebenarnya sudah kususun diam-diam. Aku tidak banyak bicara, tidak mengajak diskusi panjang, tidak memberi ruang untuk menolak. Aku tahu, kalau kebanyakan negosiasi, kemungkinan gagal akan semakin besar. Jadi aku memilih jalan sunyi...... menyiapkan semuanya tanpa bilang a...

Mimpi tentang Almarhumah Ibu

Semalam, mimpi itu datang tanpa aba-aba. Bukan mimpi yang gaduh, bukan pula mimpi yang terasa seperti potongan film yang berantakan. Ia hadir pelan, seperti seseorang yang mengetuk pintu dengan sopan, lalu masuk tanpa banyak suara. Anehnya, mimpi itu tentang ibu. Tentang almarhumah ibu, sosok yang sebenarnya jarang sekali hadir di pikiranku akhir-akhir ini. Bukan karena aku melupakan, mungkin lebih karena hidup berjalan terus, dan kenangan belajar bersembunyi di sudut-sudut yang tidak selalu terlihat. Berbeda dengan kakakku, dia sering bermimpi tentangnya.  Dalam mimpi itu, aku berada di pasar lama. Pasar yang rasanya sudah menempel dalam ingatan sejak kecil, ramai, penuh suara tawar-menawar, dan aroma campur aduk antara bumbu dapur, plastik baru, dan kain-kain yang baru dibuka dari kardus. Pasar itu adalah tempat ibu dulu punya toko. Tempat yang sekarang dilanjutkan oleh kakakku. Lokasinya sama persis, bahkan dalam mimpi itu terasa begitu nyata, seolah aku benar-benar berjalan di...

Mungkin Aku Memang Menyukainya. Mungkin Juga Aku Hanya Takut Kembali Merasa Hampa

Kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya aku sendiri tidak pernah benar-benar yakin apakah aku memang menyukainya. Perasaan itu datang seperti kabut tipis di pagi hari...... terlihat ada, terasa dingin menyentuh kulit, tapi ketika ingin kugenggam, tanganku kosong. Aku sering bertanya pada diriku sendiri, ini benar cinta atau hanya ilusi yang sengaja kuciptakan agar hidupku terasa lebih berdenyut? Ada masa ketika hari-hariku berjalan datar. Tidak ada getaran, tidak ada yang membuat jantungku berdetak lebih cepat. Semuanya terasa normal dalam arti yang paling membosankan. Lalu dia muncul, atau mungkin aku yang mulai menyadari keberadaannya dan tiba-tiba ada sesuatu yang bergerak di dalam dada. Bukan ledakan, bukan gempa besar. Hanya riak kecil. Tapi cukup untuk membuatku merasa hidup. Dan di situlah kecurigaanku bermula. Bagaimana jika sebenarnya aku hanya sedang mempermainkan hatiku sendiri? Seolah-olah aku sengaja membiarkan diriku jatuh, atau setidaknya berpura-pura jatuh, hanya supaya...

Bukankah Kita Hanya Dua Orang yang Terus Berpura-pura Biasa?

Mungkin memang aku yang terlalu agresif. Atau mungkin tidak juga. Sampai sekarang aku masih belum bisa memutuskan apakah tindakanku itu berani, nekat, atau justru terlalu polos untuk disebut agresif. Yang jelas, semuanya bermula dari rasa penasaran yang tidak lagi bisa kutahan. Suatu malam, dengan niat yang setengah sadar dan setengah lagi digerakkan oleh rindu yang tak tahu diri, aku mulai mengetik namanya di kolom pencarian. Satu akun muncul. Lalu akun lain. Lalu yang lain lagi. Seperti membuka pintu kecil yang ternyata terhubung ke lorong panjang. Aku menemukannya. Semua. Jejak-jejak digital yang selama ini tersembunyi di balik sikap diamnya. Aku tidak tahu kenapa jantungku berdebar seperti sedang melakukan sesuatu yang terlarang. Padahal hanya melihat-lihat. Hanya membaca. Hanya menggulir layar. Lalu aku mulai menemukan kalimat-kalimat itu. Status lama. Riwayat tulisan bertahun lalu. Beberapa potongan kalimat yang nadanya terasa… akrab. Terlalu akrab. Cara dia merangkai kata, m...

Terlalu Sibuk Menunggu Keberanian Datang dengan Sendirinya

Dua hari terakhir terasa berbeda, meski tidak ada peristiwa besar yang benar-benar terjadi. Tidak ada kata yang diucapkan, tidak ada kejadian dramatis yang bisa dijadikan penanda. Hanya perubahan kecil, nyaris tak terlihat..... tapi cukup jelas untuk membuat hatiku menyadarinya lebih dulu daripada pikiranku. Dulu, setiap kali aku berada di dekatnya, ada energi yang terasa berbeda. Ia seperti selalu punya cara untuk tampak lebih hidup, lebih ringan, lebih terbuka. Gesturnya sedikit lebih cepat, langkahnya sedikit lebih ringan, sorot matanya seperti tidak sengaja mencari-cari sesuatu di sekitarku. Aku tidak pernah benar-benar mengerti apa artinya, tapi aku selalu merasakannya. Seperti ada getaran halus yang hanya bisa dipahami tanpa perlu diterjemahkan. Tapi dua hari ini, semuanya berubah menjadi lebih sunyi. Ia masih ada, masih lewat di tempat yang sama, masih berada dalam jarak yang bisa kuhitung dengan langkah. Namun ada sesuatu yang hilang....... seperti jarak tak kasatmata yang t...