Terus Menunggu Dia Memberi Keberanian yang Sebenarnya Harus Datang Dariku Sendiri?
Dia menungguku. Setidaknya begitu dugaanku. Seperti biasa, dia berpura-pura tidak tahu kedatanganku. Duduk di kursi parkiran sambil sibuk dengan gadget-nya, seolah-olah tidak ada sesuatu yang perlu diperhatikan di sekitarnya. Tapi aku merasa dia sedang menungguku. Entah benar atau tidak, aku sendiri tidak tahu. Lagi-lagi ini hanya dugaan yang muncul di kepalaku. Tapi kalau memang dugaanku benar, berarti Senin kemarin memang ada urusan yang membuatnya harus pulang lebih dulu. Bukan karena menghindariku. Bukan karena ingin menjauh. Hanya karena memang ada sesuatu yang harus diselesaikan. Dan entah kenapa, kesimpulan sederhana itu membuatku sedikit lega. Apalagi mengingat hari Selasa kemarin. Hari itu rasanya dia begitu berusaha membuatku melihatnya. Beberapa kali aku merasa kehadirannya seperti sengaja ditempatkan di dalam jangkauan mataku. Dan akhirnya mata kami benar-benar bertemu. Hanya sebentar. Tapi tentu saja aku tidak membiarkan momen itu berlalu begitu saja. Aku memainkan sedikit...