Ada pola yang sering disadari banyak orang tapi jarang dibicarakan terang-terangan. Kakek nenek yang sekarang terlihat sangat sabar dengan cucunya, dulu dikenal keras saat membesarkan anak-anaknya. Cerita seperti ini muncul di banyak keluarga. Bahkan kadang diucapkan sambil bercanda, “Dulu ayah galak sekali, sekarang sama cucu jadi malaikat.” Yang tumbuh dengan cerita itu sering menyimpan tanda tanya. Kok bisa berubah sejauh itu? Bagi anak-anaknya dulu, masa kecil mungkin terasa penuh aturan, suara tinggi, dan disiplin ketat. Lalu bertahun-tahun kemudian, orang yang sama terlihat memanjakan cucu tanpa banyak syarat. Kesalahan kecil ditertawakan. Tangisan cepat ditenangkan. Tidak ada lagi nada keras yang dulu begitu akrab. Perubahan ini bukan sekadar soal usia. Ada sesuatu yang bergeser di dalam diri manusia ketika waktu berjalan panjang. Menjadi orang tua di usia muda sering diwarnai tekanan: ekonomi belum stabil, emosi belum matang, tanggung jawab datang bertubi-tubi. Banyak...
Banyak orang masih mengira introvert itu identik dengan tidak bisa bersosialisasi. Seolah-olah setiap pertemuan adalah siksaan, setiap percakapan adalah beban, dan satu-satunya zona aman adalah kamar sendiri. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Orang introvert bisa berbaur. Bahkan sering kali terlihat biasa saja di keramaian. Bisa ngobrol, bisa bercanda, bisa ikut rapat panjang, bahkan bisa tampil percaya diri kalau situasi menuntut. Dari luar, tidak ada yang aneh. Tidak ada tanda-tanda sedang berjuang. Masalahnya bukan pada kemampuan berbaur. Masalahnya ada di energi. Setelah semua itu selesai, rasanya seperti baterai yang tiba-tiba drop ke nol persen. Tubuh masih duduk di tempat yang sama, tapi kepala sudah lelah duluan. Percakapan yang tadinya terasa ringan mendadak terasa berat saat diingat ulang. Dan yang paling menguras bukan topik besar, tapi hal kecil yang disebut basa-basi. Basa-basi itu unik. Tidak penting, tapi wajib. Tidak dalam, tapi panjang. Pertanyaan ya...