Skip to main content

Posts

Menulis Bukan Lagi demi Jabatan Fungsional, tapi demi Bertahan sebagai Manusia

Ada satu anggapan yang sering muncul diam-diam, kalau seseorang rajin menulis, pasti ada motif formal di belakangnya. Entah karena tuntutan pekerjaan, target angka kredit, atau sekadar kewajiban jabatan fungsional. Logis, sih. Di banyak lingkungan kerja, menulis memang identik dengan laporan, publikasi wajib, dan administrasi yang harus diselesaikan tepat waktu. Masalahnya, asumsi itu sering meleset jauh. Di luar sana, banyak orang menulis bukan karena jabatan, tapi karena tidak punya pilihan lain untuk bertahan. Menulis jadi cara paling masuk akal untuk tetap waras di tengah sistem yang kaku. Tapi hal ini jarang terlihat dari luar. Yang tampak hanya produktivitas, bukan motif di baliknya. Konflik batin muncul ketika orang lain mengira semua tulisan itu lahir dari ambisi struktural. Seolah setiap paragraf hanya alat untuk naik tingkat, mengejar pengakuan, atau mengamankan posisi. Padahal kenyataannya, ketika seseorang benar-benar menulis karena jabatan fungsional, tulisannya justru ...
Recent posts

“Where Is My Husband?” by Raye. Lagu Tentang Rindu, Kesepian, atau Kegelisahan Menunggu Jodoh?

Ada lagu yang terdengar ringan, bahkan sedikit jenaka di telinga. Tapi begitu liriknya dipikirkan lebih lama, rasanya kok malah nyeletuk ke hati. “Where Is My Husband?”  lagu yang dipopulerkan Raye, adalah salah satunya. Pertanyaannya sederhana, hampir seperti bercanda. Tapi justru di situ letak kegelisahannya. Di awal dengar, banyak orang langsung bertanya hal yang sama: ini lagu tentang apa, sih? Tentang istri yang kangen suaminya? Tentang perempuan yang sudah menikah tapi ditinggal entah ke mana? Atau justru tentang orang yang belum menikah, jomblo, menunggu seseorang yang belum juga datang? Menariknya, lagu ini tidak memberi jawaban tunggal. Dan mungkin memang tidak dimaksudkan untuk itu. Kalau didengar sekilas, frasa “my husband” terdengar seperti milik seseorang yang sudah punya. Seolah ini cerita tentang pasangan sah yang terpisah jarak atau keadaan. Tapi semakin diperhatikan, nuansanya justru lebih mirip kegelisahan orang yang belum sampai di sana. Bukan kehilangan, mel...

Percaya Diri yang Perlahan Kembali

  Ada fase dalam hidup ketika rasa percaya diri tidak benar-benar hilang, tapi seperti mengecil. Masih ada, cuma suaranya pelan. Kita tetap datang ke tempat ramai, tetap berinteraksi seperlunya, tapi di dalam kepala rasanya seperti menarik diri setengah langkah ke belakang. Tidak sepenuhnya menghilang, hanya memilih aman. Banyak orang mengalaminya, meski jarang dibicarakan terang-terangan. Di fase itu, muncul di hadapan orang lain terasa melelahkan. Bukan karena benci bertemu manusia, tapi karena ada beban tak kasat mata: takut salah bicara, takut dinilai, takut tidak cukup pantas untuk terlihat. Akhirnya, yang dilakukan hanya seperlunya. Datang kalau perlu. Bicara kalau ditanya. Sisanya, mengamati dari kejauhan. Menariknya, perubahan jarang datang dalam bentuk lonjakan besar. Tidak ada momen dramatis yang langsung membuat semuanya kembali seperti dulu. Yang ada justru proses bertahap. Pelan-pelan. Hampir tidak terasa. Sampai suatu hari sadar, “Oh, ternyata sekarang lebih sering ...

Introvert di Tempat GYM

Ada satu pemandangan yang hampir selalu sama di tempat gym. Orang-orang datang, pasang earphone, pemanasan sebentar, lalu tenggelam dalam dunia masing-masing. Kalau ada yang ngobrol, biasanya karena mereka satu tim latihan, sepasang, atau memang sudah saling kenal sejak lama. Selebihnya? Sunyi yang ramai. Ramai alat, ramai gerak, tapi minim interaksi. Buat sebagian orang, ini biasa saja. Bahkan ideal. Gym adalah tempat fokus ke badan sendiri, bukan tempat cari teman. Tapi buat yang datang dengan harapan kecil, sekadar merasa “nggak sendirian”, situasinya bisa terasa canggung. Terutama ketika belum kenal siapa-siapa, dan belum cukup berani untuk menyapa lebih dulu. Di fase awal latihan, keberadaan instruktur terasa seperti jembatan sosial. Ada yang diajak bicara. Ada yang bisa ditanya. Ada manusia yang membuat ruangan penuh besi itu terasa lebih hidup. Obrolannya memang soal teknik, repetisi, atau napas yang salah, tapi itu cukup. Setidaknya ada interaksi. Setidaknya tidak sepenuhnya ...

Polisi Moral di Tempat Kerja: Mereka Ada, Tapi Jarang Mengaku

 Hampir di setiap tempat kerja, selalu ada satu tipe orang yang keberadaannya jarang disadari. Mereka tidak duduk di posisi struktural tertentu, tidak punya jabatan pengawas, tapi entah kenapa selalu tahu banyak hal. Bukan cuma soal pekerjaan, tapi juga urusan pribadi orang lain. Cara kerjanya halus, rapi, dan sering dibungkus niat baik. Kalau kamu pernah merasa, “Kok cerita ini bisa sampai ke mana-mana ya?”, mungkin kamu sudah pernah bersinggungan dengan polisi moral di kantor. Awalnya, mereka terlihat ramah ke semua orang. Mudah menyapa, sering bercanda, dan kelihatan netral. Tidak pernah terang-terangan menghakimi. Justru itu yang bikin orang lengah. Kita merasa aman bercerita, merasa sedang ngobrol biasa, tanpa sadar sedang membuka potongan kecil hidup yang nantinya bisa dirangkai jadi cerita versi mereka. Yang menarik, polisi moral di tempat kerja jarang muncul di depan layar. Mereka bekerja di belakang. Tidak pernah secara langsung melapor atau menegur. Tapi tiba-tiba, ada ...

Ngajarin Istri Nyetir Mobil

Ada fase dalam hidup rumah tangga yang jarang diceritakan dengan jujur, salah satunya, ngajarin pasangan nyetir mobil. Kedengarannya sepele, tapi kalau sudah dijalani, rasanya campur aduk. Deg-degan, capek, pengin ketawa tapi juga pengin teriak. Dan yang paling sering muncul, “Kok bisa ya, hal sesederhana ini susah banget?” Sejak akhir tahun kemarin sampai sekarang, proses belajar nyetir itu masih jalan di tempat. Fokus utamanya sebenarnya cuma satu: stop and go. Gas pelan, lepas kopling, rem halus. Teorinya sederhana, bahkan kelihatan remeh. Tapi entah kenapa, tiap diulang, polanya seperti baru pertama kali. Sudah dijelasin pelan-pelan, dicontohin, dipraktikkan, eh… lupa lagi. Di titik ini, banyak yang mungkin langsung merasa, “Ini gue banget.” Duduk di kursi penumpang, kaki refleks ikut injak rem, tangan siap pegang handle pintu. Bukan karena tidak percaya, tapi karena takut. Takut mobil mati mendadak, takut nyelonong, takut bikin panik orang lain. Dan jujur saja, takut emosi send...

Isu Tuyul di Kampung

Belakangan ini, suasana kampung terasa agak beda. Bukan karena harga sembako naik atau jalan rusak, tapi karena satu cerita yang menyebar cepat dari mulut ke mulut. Cerita yang bikin orang otomatis merinding sebelum sempat mikir panjang, tuyul. Iya, isu tuyul. Semua bermula dari kisah seorang pedagang pasar. Seperti biasa, ia berangkat sekitar jam dua dini hari. Jalan masih sepi, lampu penerangan tak semuanya menyala, dan suasana memang mendukung untuk pikiran ke mana-mana. Di tengah perjalanan, katanya, ia melihat anak kecil berlari-lari di tengah jalan. Rambutnya acak-acakan, gerakannya cepat, lalu belok ke arah pertigaan. Saat dilihat lagi di pertigaan itu, anak kecil tersebut menghilang begitu saja. Cerita itu berhenti di situ, tapi dampaknya tidak. Dalam hitungan jam, satu kampung heboh. Obrolan di warung kopi berubah arah. Grup WhatsApp keluarga ramai notifikasi. Mulai muncul dugaan-dugaan, saling tebak, bahkan saling mengaitkan dengan orang-orang tertentu. Yang awalnya cuma ceri...