Skip to main content

Posts

Ramadhan dan Ketakutan Akan Waktu yang Terus Berkurang (2)

Beberapa kali pikiran itu datang, dan anehnya tidak pernah benar-benar sekali lalu selesai. Ia muncul lagi, lalu pergi, lalu kembali di waktu yang tidak terduga. Tentang umur. Tentang waktu yang terus berkurang. Tentang kenyataan bahwa aku tidak lagi berada di titik awal perjalanan. Kadang datang saat sendiri, kadang muncul di sela aktivitas yang sebenarnya biasa saja. Tidak mengganggu secara keras, tapi cukup untuk membuatku berhenti sejenak dan berpikir. Aku tidak sepenuhnya tenggelam dalam pikiran itu. Justru di sisi lain, ada bagian dari diriku yang menolak. Menolak untuk merasa tua. Menolak untuk diperlambat oleh angka. Seolah-olah ada suara dalam diri yang berkata, “belum, belum sekarang.” Dan suara itu cukup kuat. Ia membuatku tetap bergerak, tetap merasa bahwa banyak hal masih bisa dikejar. Mungkin itu juga yang membuatku tetap pergi ke gym, bahkan setelah tarawih. Kadang orang lain memilih istirahat setelah ibadah malam, tapi aku justru mengganti baju dan berangkat. Bukan s...
Recent posts

Ingin Berubah, tapi Tidak Tahu Harus Mulai dari Mana

Aku tahu aku ingin berubah, ingin jadi lebih baik, lebih tenang, lebih terarah. Tapi setiap kali mencoba memulai, aku justru berhenti di titik yang sama.... tidak tahu harus mulai dari mana. Perasaan itu tidak datang sekali. Ia muncul berulang, terutama di momen-momen sunyi..... setelah salat, sebelum tidur, atau saat melihat diri sendiri terlalu lama di cermin. Ada kesadaran yang pelan-pelan mengetuk: ada yang perlu diperbaiki. Tapi ketika ingin benar-benar bergerak, semuanya terasa terlalu besar, terlalu banyak, terlalu membingungkan. Aku jadi membuat daftar dalam kepala. Harus lebih rajin ibadah. Harus mengurangi hal yang tidak perlu. Harus lebih disiplin. Harus ini, harus itu. Tapi justru karena terlalu banyak “harus”, aku malah diam. Seperti berdiri di depan banyak pintu tanpa tahu mana yang harus dibuka dulu. Dan akhirnya, aku tidak membuka apa-apa. Hari-hari tetap berjalan. Keinginan itu tetap ada. Tapi perubahan yang diharapkan belum benar-benar dimulai. Kadang aku m...

Membandingkan Diri dengan Orang yang Terlihat Lebih “Saleh”

Kadang yang membuat hati terasa berat bukan apa yang kita lakukan, tapi apa yang kita lihat dari orang lain. Di bulan seperti Ramadhan, ketika banyak orang tampak lebih rajin, lebih tenang, lebih “jadi”, tanpa sadar aku ikut melihat ke sana, lalu membandingkan. Awalnya halus saja. Melihat seseorang yang rutin datang lebih awal ke masjid. Melihat yang bisa membaca Al-Qur’an berjam-jam tanpa terlihat lelah. Mendengar cerita tentang ibadah malam yang konsisten. Semua itu sebenarnya baik, bahkan menginspirasi. Tapi entah kenapa, di dalam diriku, hal-hal itu justru berubah jadi cermin yang memantulkan kekurangan sendiri. Aku mulai merasa kecil. Seolah-olah apa yang kulakukan tidak cukup berarti. Seolah-olah aku selalu satu langkah di belakang. Padahal kalau dipikir lagi, aku tidak benar-benar tahu perjalanan mereka seperti apa. Aku hanya melihat bagian yang tampak. Aku tidak tahu perjuangan di baliknya, jatuh bangun yang mungkin mereka sembunyikan, atau fase-fase ketika mereka juga me...

Merasa Jauh dari Tuhan di Bulan yang Katanya Penuh Kedekatan

Ramadhan selalu digambarkan sebagai bulan yang hangat, penuh ampunan, penuh ketenangan. Tapi di tengah semua itu, aku justru duduk dengan satu pertanyaan yang tidak selesai, kenapa aku merasa tidak benar-benar dekat? Perasaan itu tidak datang sekali. Ia muncul pelan-pelan, lalu menetap. Kadang saat selesai salat, kadang saat membaca ayat yang seharusnya menenangkan. Ada jeda di dalam hati, seperti ruang kosong yang tidak terisi. Aku tetap menjalani semuanya, puasa, tarawih, doa, tapi rasanya seperti ada yang tertinggal di dalam. Aku jadi bertanya, mungkin bukan aku saja yang merasakan ini? Atau jangan-jangan… hanya aku? Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi cukup mengganggu. Karena kalau memang banyak orang yang merasakan hal yang sama, mungkin ini bagian dari proses. Tapi kalau hanya aku, rasanya seperti ada yang salah dalam diriku. Seolah-olah aku gagal merasakan apa yang seharusnya begitu mudah dirasakan di bulan seperti ini. Aku mulai memperhatikan orang-orang di sekitarku. ...

Aku yang Menekan Follow, Aku Juga yang Tak Siap

  Kadang hati itu aneh..... semakin kita mencoba menjauh, justru semakin diam-diam mendekat. Bulan ini aku sadar, interaksi dengannya jauh berkurang. Bukan karena keadaan, tapi lebih karena aku sendiri yang memilih menghindar. Aku seperti sengaja menjaga jarak, menahan diri untuk tidak terlalu dekat, seolah-olah dengan begitu semuanya akan lebih aman. Padahal kalau jujur, di dalam hati justru kebalikannya, ada keinginan kecil yang terus muncul, ingin bertemu, ingin sekadar melihat, bahkan tanpa harus bicara. Aku pikir dengan menghindar, perasaan ini akan pelan-pelan mereda. Tapi ternyata tidak sesederhana itu. Yang berubah hanya jaraknya, bukan rasanya. Justru karena jarak itu, pikiranku jadi lebih sering mencarinya. Hal-hal kecil yang dulu biasa saja jadi terasa berarti. Dan di titik itulah, mungkin aku mulai kehilangan kendali atas logika yang selama ini coba kujaga. Sampai akhirnya kemarin, aku melakukan sesuatu yang bahkan sebelumnya selalu kubatalkan. Aku meng-add akun Inst...

Godaan Scroll Tanpa Henti Saat Ramadhan

Kadang yang paling mencuri waktu bukan hal besar, tapi hal kecil yang dibiarkan berulang. Satu swipe, lalu satu lagi, lalu tanpa sadar waktu sudah habis, dan yang tersisa hanya perasaan kosong yang sulit dijelaskan. Di bulan yang seharusnya mengajak untuk mendekat pada makna, aku justru sering terjebak dalam gerakan jari yang tidak ada ujungnya, scroll tanpa henti. Awalnya sederhana. Niatnya cuma ingin “sebentar saja”. Membuka ponsel setelah sahur, atau sebelum tidur, atau di sela-sela menunggu waktu berbuka. Tapi seperti yang sering terjadi, “sebentar” itu selalu punya cara untuk memanjang. Satu video berlanjut ke video lain, satu informasi berpindah ke yang berikutnya, dan tiba-tiba aku sudah terlalu jauh untuk berhenti. Lucunya, aku sadar sedang melakukannya. Tapi tetap saja diteruskan.

Takut Ramadhan Pergi Sebelum Aku Siap Berubah

Ada rasa yang datang diam-diam di penghujung Ramadhan, bukan lagi tentang lapar atau haus, tapi tentang waktu yang terasa semakin sempit. Hari-hari yang dulu terasa panjang, sekarang seperti berlari. Dan di tengah itu semua, aku justru sibuk bertanya.... bagaimana kalau Ramadhan ini pergi sebelum aku benar-benar siap berubah? Perasaan itu tidak datang sekali. Ia muncul berkali-kali, terutama saat malam mulai sepi dan aku punya cukup ruang untuk berpikir. Aku melihat ke belakang, mencoba mengingat apa saja yang sudah kulakukan selama bulan ini. Tapi bukannya merasa lega, aku justru merasa seperti belum sampai ke mana-mana. Masih banyak yang tertunda. Masih banyak yang setengah-setengah. Masih banyak yang hanya sebatas niat. Aku jadi sadar, ternyata berubah itu tidak semudah membuat daftar di awal Ramadhan. Tidak cukup hanya dengan semangat di hari pertama, atau janji-janji kecil yang ditulis dalam hati. Ada bagian dari diriku yang masih sama, yang masih menunda, masih mencari alasa...