Adegan itu masih terulang jelas di kepalaku, seperti potongan film yang diputar tanpa henti. Ia berdiri di pintu gerbang, bukan kebetulan yang samar, bukan kehadiran yang setengah tersembunyi. Ia benar-benar ada di sana, menungguku. Setidaknya begitulah rasanya. Tidak ada keraguan pada jarak pandangku, tidak ada alasan untuk berpura-pura tidak melihat. Aku melihatnya. Ia juga melihatku. Dan justru di detik itulah semuanya di dalam diriku mendadak berhenti. Selama berhari-hari, bahkan mungkin berminggu-minggu, aku selalu membayangkan momen seperti ini. Aku membayangkan percakapan yang akan kami mulai, kalimat pembuka yang sederhana, mungkin hanya sapaan ringan yang bisa berkembang menjadi obrolan panjang. Aku membayangkan bagaimana akhirnya kami akan punya waktu berdua, berdiri di ruang yang sama tanpa keramaian yang mengganggu. Semua skenario itu sudah kususun rapi, seperti naskah yang menunggu dipentaskan. Tapi kenyataan selalu punya cara sendiri untuk mengacaukan segalanya. Saat ...
Sudah empat bulan sejak rutinitas gym pelan-pelan masuk ke hidupku. Awalnya hanya soal ingin badan lebih sehat, ingin bergerak lebih banyak, ingin merasakan pegal yang rasanya “pantas.” Tapi aku tidak menyangka perubahan yang datang ternyata merembet ke hal lain, ke sesuatu yang jauh lebih sunyi, lebih pribadi, dan lebih bermakna dari sekadar keringat dan hitungan repetisi. Sekarang, pagiku hampir selalu dimulai dengan langkah menuju masjid untuk salat Subuh berjamaah. Kalau mengingat ke belakang, rasanya ini kebiasaan yang dulu terasa jauh. Bangun pagi bukan masalah bagiku, masalahnya adalah bangun tepat waktu untuk Subuh. Dulu, malam sering terasa terlalu panjang. Pikiran berisik, tubuh tidak benar-benar lelah, dan tidur datang seperti tamu yang malas mampir. Kadang aku baru benar-benar terlelap saat malam sudah hampir habis. Akibatnya, Subuh sering lewat begitu saja, tanpa sempat kusadari. Lalu gym mengubah ritme itu secara perlahan. Hari-hari mulai diisi aktivitas fisik yang n...