Hari Senin ini dimulai dengan kebiasaan yang bahkan tak lagi ingin kuakui sebagai kebiasaan. Berkali-kali aku melongok ke arah pintu masuk. Tidak terang-terangan, tentu saja. Hanya sekilas, seolah sedang mencari sesuatu yang lain. Seolah-olah mataku kebetulan saja terseret ke sana. Padahal aku tahu persis apa yang kutunggu. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Lalu hitungannya hilang. Menjadi refleks. Seperti napas yang tidak lagi dihitung. Setiap kali pintu terbuka, jantungku sedikit naik, lalu kembali turun ketika yang muncul bukan dia. Ada orang lain, lalu orang lain lagi. Wajah-wajah yang familiar tapi tidak sedang kucari. Aku mencoba menertawakan diriku sendiri dalam hati. Betapa konyolnya berharap pada sesuatu yang bahkan tidak pernah dijanjikan. Jam berjalan pelan hari itu. Terlalu pelan. Sampai waktu istirahat datang, dan kursinya masih kosong. Di situlah pikiranku mulai bekerja terlalu jauh. Apakah dia sakit? Apakah ada sesuatu yang terjadi? Apakah dia sengaja tidak datang? Ap...
Setelah pertemuan kemarin yang terasa hambar, aku pulang dengan perasaan yang aneh. Bukan kecewa sepenuhnya, bukan juga lega. Hanya seperti ada sesuatu yang kurang, seperti menonton film yang biasanya penuh adegan mendebarkan tapi kali ini berjalan tanpa klimaks. Hari itu berlalu begitu saja. Tidak ada momen berarti yang bisa kusimpan sebagai bahan bakar untuk beberapa hari ke depan. Tidak ada tatapan panjang, tidak ada gerak-gerik absurd yang bisa kupelintir menjadi kenangan manis sebelum tidur. Hari Minggu datang terlalu panjang. Aku menyadari, selama ini aku diam-diam mengandalkan pertemuan-pertemuan kecil itu sebagai suntikan endorfin. Sedikit degup, sedikit permainan mata, sedikit drama tanpa dialog, cukup untuk membuat hariku berwarna. Tapi kemarin, tidak ada yang bisa kupetik. Seperti kebun yang biasanya menyisakan satu-dua bunga liar, tapi kali ini kosong. Aku sempat menyesal. Kenapa aku tidak lebih peka? Kenapa aku tidak lebih berani? Tapi lalu aku berhenti sendiri. Hati ti...