Kadang aku membayangkan bagaimana rasanya jika semua ini diucapkan dengan jujur. Kalimat-kalimat sederhana yang selama ini hanya berputar di kepala, disusun rapi lalu diserahkan begitu saja kepadanya, tanpa sandi, tanpa isyarat. Rasanya seperti berdiri di tepi kolam yang airnya dingin, tahu bahwa melompat mungkin akan menyegarkan, tapi juga takut pada benturan pertama yang mengejutkan tubuh. Ada dorongan kecil yang terus muncul, mengajak untuk berterus terang tentang perasaan ini, tentang isi hati yang semakin hari semakin sulit disembunyikan dari diri sendiri. Namun setiap kali keberanian itu mulai tumbuh, bayangan lain ikut muncul bersamanya, kemungkinan ditolak. Kemungkinan bahwa semua yang selama ini terasa begitu besar di dalam diri, ternyata tidak memiliki tempat di hatinya. Dan bayangan itu terasa jauh lebih nyata daripada harapan yang ingin kupegang. Aku bisa membayangkan dengan sangat jelas rasa malu yang akan mengikuti, malu yang mungkin akan bertahan lama, yang akan membuat...
Hari ini aku cukup berani untuk menatap matanya. Benar-benar menatap, bukan sekadar melihat sekilas lalu buru-buru memalingkan wajah seperti hari-hari sebelumnya. Ada keputusan kecil yang terasa seperti revolusi di dalam diri, keputusan yang mungkin bagi orang lain terlihat sepele, tapi bagiku rasanya seperti melangkah ke panggung tanpa naskah. Selama ini aku selalu memilih aman, pura-pura sibuk, pura-pura tidak sadar, pura-pura tidak ada apa-apa. Tapi pagi ini rasanya aku lelah bersembunyi di balik pura-pura. Aku sengaja melakukannya. Ada rasa capek yang mengendap cukup lama, capek karena terus menghindar, capek karena harus berpura-pura bahwa semua ini hanya kebetulan yang tidak berarti apa-apa. Padahal di dalam kepala, semua kebetulan itu terasa seperti rangkaian kode yang ingin kupahami. Dia, dengan cara yang entah sengaja atau tidak, terus mencoba menarik perhatianku. Dan hari ini, untuk pertama kalinya, aku merasa harus menjawab tantangan itu. Bukan dengan kata-kata, bukan denga...