Skip to main content

Posts

Endorfin dan Dosa Kecil yang Kubuat Sendiri

Setiap kali selesai bertemu dengannya, pikiranku seperti mesin yang tak punya tombol mati. Selalu ada rekaman ulang yang diputar berkali-kali sebelum tidur. Cara dia berdiri tak jauh dariku. Cara dia seperti sengaja melintas lebih dekat dari biasanya. Cara tatapannya terasa setengah berani, setengah menunggu. Dan seperti biasa, aku menyimpulkan dengan penuh keyakinan, dia tertarik. Dia hanya gengsi untuk memulai lebih dulu. Keyakinan itu biasanya terasa bulat di sore hari. Terasa masuk akal. Bahkan terasa manis. Aku membiarkan diriku larut dalam kemungkinan-kemungkinan yang kususun rapi. Seolah-olah aku bisa membaca maksudnya dari jarak beberapa langkah. Seolah-olah aku tahu isi kepalanya hanya dari bahasa tubuh yang mungkin saja biasa. Tapi malam selalu lebih jujur daripada siang. Begitu suasana sunyi dan pikiranku mengendap, keyakinan tadi mulai retak. Bagaimana kalau aku salah tafsir? Bagaimana kalau semua gerak-geriknya yang kubaca sebagai kode hanyalah kebetulan yang kubesar-be...
Recent posts

Bagaimana Mungkin Aku Diminta Mengambil Langkah Maju Jika Arah Jalannya Saja Tidak Terlihat?

Kadang aku merasa ingin menutup buku ini. Menarik garis tebal di halaman terakhir, memberi judul “selesai”, lalu meletakkannya rapi di rak kenangan seperti cerita-cerita lain yang pernah gagal tumbuh. Keinginan itu datang tiba-tiba, biasanya di malam hari, saat suasana terlalu sunyi dan pikiranku terlalu gaduh. Aku membayangkan betapa leganya jika semuanya jelas, tidak ada lagi menebak-nebak, tidak ada lagi menunggu sesuatu yang bahkan tidak pernah dijanjikan. Hanya keheningan yang jujur, yang mungkin menyakitkan di awal, tapi setidaknya tidak membingungkan. Tapi anehnya, setiap kali aku hampir sampai pada keputusan itu, ada bagian lain dalam diriku yang diam-diam menahan tanganku. Bagian yang berbisik pelan, jangan dulu. Belum sekarang. Seolah-olah ketidakjelasan ini, yang sering membuatku lelah, justru menjadi sesuatu yang diam-diam ingin kupelihara. Seperti luka kecil yang tidak kunjung sembuh karena aku sendiri yang enggan berhenti menyentuhnya. Aku tahu ini terdengar tidak masuk...

Keberanian Itu Ternyata Bukan Benar-Benar Milikku

Kemarin aku sempat merasa lebih berani dari biasanya. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, keberanian itu ternyata bukan benar-benar milikku. Ada orang lain di dekatku waktu itu, seseorang yang mengajakku berbincang, dan tanpa sadar kehadirannya menjadi semacam tameng. Aku punya alasan untuk berdiri di sana, untuk terlihat santai, untuk menggerakkan kepala dan arah pandang seolah-olah hanya mengikuti alur percakapan. Padahal diam-diam, di sela kalimat yang keluar dari mulutku, mataku berkali-kali mencari sosoknya. Menatapnya terasa lebih mungkin ketika ada seseorang di sampingku, seolah keberanian bisa dipinjam dari situasi yang kebetulan mendukung. Hari ini, ketika kami bertemu lagi, tameng itu tidak ada. Tidak ada percakapan yang bisa kugunakan sebagai alasan untuk berdiri lebih lama atau mengalihkan gugupku. Dan seperti yang bisa ditebak, keberanian itu pun ikut menghilang. Aku kembali menjadi versi diriku yang lama, yang terbiasa memalingkan wajah beberapa detik terlalu cepat, yang si...

Perasaan yang Setengah Jelas, Setengah Samar

Kadang aku membayangkan bagaimana rasanya jika semua ini diucapkan dengan jujur. Kalimat-kalimat sederhana yang selama ini hanya berputar di kepala, disusun rapi lalu diserahkan begitu saja kepadanya, tanpa sandi, tanpa isyarat. Rasanya seperti berdiri di tepi kolam yang airnya dingin, tahu bahwa melompat mungkin akan menyegarkan, tapi juga takut pada benturan pertama yang mengejutkan tubuh. Ada dorongan kecil yang terus muncul, mengajak untuk berterus terang tentang perasaan ini, tentang isi hati yang semakin hari semakin sulit disembunyikan dari diri sendiri. Namun setiap kali keberanian itu mulai tumbuh, bayangan lain ikut muncul bersamanya, kemungkinan ditolak. Kemungkinan bahwa semua yang selama ini terasa begitu besar di dalam diri, ternyata tidak memiliki tempat di hatinya. Dan bayangan itu terasa jauh lebih nyata daripada harapan yang ingin kupegang. Aku bisa membayangkan dengan sangat jelas rasa malu yang akan mengikuti, malu yang mungkin akan bertahan lama, yang akan membuat...

Menatap Balik

Hari ini aku cukup berani untuk menatap matanya. Benar-benar menatap, bukan sekadar melihat sekilas lalu buru-buru memalingkan wajah seperti hari-hari sebelumnya. Ada keputusan kecil yang terasa seperti revolusi di dalam diri, keputusan yang mungkin bagi orang lain terlihat sepele, tapi bagiku rasanya seperti melangkah ke panggung tanpa naskah. Selama ini aku selalu memilih aman, pura-pura sibuk, pura-pura tidak sadar, pura-pura tidak ada apa-apa. Tapi pagi ini rasanya aku lelah bersembunyi di balik pura-pura. Aku sengaja melakukannya. Ada rasa capek yang mengendap cukup lama, capek karena terus menghindar, capek karena harus berpura-pura bahwa semua ini hanya kebetulan yang tidak berarti apa-apa. Padahal di dalam kepala, semua kebetulan itu terasa seperti rangkaian kode yang ingin kupahami. Dia, dengan cara yang entah sengaja atau tidak, terus mencoba menarik perhatianku. Dan hari ini, untuk pertama kalinya, aku merasa harus menjawab tantangan itu. Bukan dengan kata-kata, bukan denga...

Apakah Dia Juga Merindukanku Seperti Aku Merindukannya?

Aku sering bertanya-tanya tentang hal yang sebenarnya sederhana, tapi rasanya selalu berputar menjadi labirin panjang di kepalaku, apakah dia juga merindukanku seperti aku merindukannya? Pertanyaan itu muncul pelan-pelan, seperti kabut yang datang tanpa suara, lalu menetap terlalu lama. Tidak ada momen dramatis yang memicunya. Ia hadir begitu saja, di sela percakapan singkat, di antara jeda pesan yang tak segera dibalas, atau di detik-detik hening setelah kami berpisah. Dan sejak itu, pertanyaan itu seperti memilih tinggal, menempati ruang paling sunyi di pikiranku. Aku tidak yakin. Benar-benar tidak yakin. Bahkan ketika mencoba meyakinkan diri sendiri, selalu ada suara kecil yang memotong di tengah kalimat, mengatakan bahwa mungkin semua ini hanya sepihak. Rasanya seperti déjà vu yang terlalu familiar. Perasaan mencintai ini terasa seperti pola lama yang kembali berulang, cerita yang pernah terjadi dengan tokoh berbeda tapi alur yang sama. Aku seperti seseorang yang menonton ulang f...

Menangis di Pangkuan

Semalam aku kembali bermimpi tentang ibuku. Rasanya aneh, belakangan ini ia datang lebih sering dalam mimpi, seolah ada sesuatu yang ingin disampaikan, atau mungkin justru ada sesuatu dalam diriku yang belum selesai melepaskannya. Mimpi itu terasa begitu nyata, seperti potongan waktu yang tiba-tiba diputar ulang tanpa peringatan. Di mimpi itu, semuanya dimulai dengan pertengkaran. Aku tidak tahu dengan siapa. Wajahnya kabur, suaranya samar, tapi emosinya terasa sangat jelas. Kami bertengkar hebat. Kalimat demi kalimat keluar dengan nada tinggi, penuh emosi yang terasa menyesakkan. Ada rasa marah, kecewa, lelah, semuanya bercampur menjadi satu sampai rasanya kepalaku seperti dipenuhi suara yang saling bertabrakan. Di tengah pertengkaran itu, pikiran yang dulu pernah kukenal muncul lagi,  lebih baik mati saja. Kalimat itu datang begitu saja, seperti refleks yang sudah pernah ada sebelumnya. Bukan sesuatu yang baru, bukan sesuatu yang asing. Justru terasa seperti bisikan lama yang ...