Ada satu anggapan yang sering muncul diam-diam, kalau seseorang rajin menulis, pasti ada motif formal di belakangnya. Entah karena tuntutan pekerjaan, target angka kredit, atau sekadar kewajiban jabatan fungsional. Logis, sih. Di banyak lingkungan kerja, menulis memang identik dengan laporan, publikasi wajib, dan administrasi yang harus diselesaikan tepat waktu. Masalahnya, asumsi itu sering meleset jauh. Di luar sana, banyak orang menulis bukan karena jabatan, tapi karena tidak punya pilihan lain untuk bertahan. Menulis jadi cara paling masuk akal untuk tetap waras di tengah sistem yang kaku. Tapi hal ini jarang terlihat dari luar. Yang tampak hanya produktivitas, bukan motif di baliknya. Konflik batin muncul ketika orang lain mengira semua tulisan itu lahir dari ambisi struktural. Seolah setiap paragraf hanya alat untuk naik tingkat, mengejar pengakuan, atau mengamankan posisi. Padahal kenyataannya, ketika seseorang benar-benar menulis karena jabatan fungsional, tulisannya justru ...
Ada lagu yang terdengar ringan, bahkan sedikit jenaka di telinga. Tapi begitu liriknya dipikirkan lebih lama, rasanya kok malah nyeletuk ke hati. “Where Is My Husband?” lagu yang dipopulerkan Raye, adalah salah satunya. Pertanyaannya sederhana, hampir seperti bercanda. Tapi justru di situ letak kegelisahannya. Di awal dengar, banyak orang langsung bertanya hal yang sama: ini lagu tentang apa, sih? Tentang istri yang kangen suaminya? Tentang perempuan yang sudah menikah tapi ditinggal entah ke mana? Atau justru tentang orang yang belum menikah, jomblo, menunggu seseorang yang belum juga datang? Menariknya, lagu ini tidak memberi jawaban tunggal. Dan mungkin memang tidak dimaksudkan untuk itu. Kalau didengar sekilas, frasa “my husband” terdengar seperti milik seseorang yang sudah punya. Seolah ini cerita tentang pasangan sah yang terpisah jarak atau keadaan. Tapi semakin diperhatikan, nuansanya justru lebih mirip kegelisahan orang yang belum sampai di sana. Bukan kehilangan, mel...