Beberapa kali pikiran itu datang, dan anehnya tidak pernah benar-benar sekali lalu selesai. Ia muncul lagi, lalu pergi, lalu kembali di waktu yang tidak terduga. Tentang umur. Tentang waktu yang terus berkurang. Tentang kenyataan bahwa aku tidak lagi berada di titik awal perjalanan. Kadang datang saat sendiri, kadang muncul di sela aktivitas yang sebenarnya biasa saja. Tidak mengganggu secara keras, tapi cukup untuk membuatku berhenti sejenak dan berpikir. Aku tidak sepenuhnya tenggelam dalam pikiran itu. Justru di sisi lain, ada bagian dari diriku yang menolak. Menolak untuk merasa tua. Menolak untuk diperlambat oleh angka. Seolah-olah ada suara dalam diri yang berkata, “belum, belum sekarang.” Dan suara itu cukup kuat. Ia membuatku tetap bergerak, tetap merasa bahwa banyak hal masih bisa dikejar. Mungkin itu juga yang membuatku tetap pergi ke gym, bahkan setelah tarawih. Kadang orang lain memilih istirahat setelah ibadah malam, tapi aku justru mengganti baju dan berangkat. Bukan s...
Aku tahu aku ingin berubah, ingin jadi lebih baik, lebih tenang, lebih terarah. Tapi setiap kali mencoba memulai, aku justru berhenti di titik yang sama.... tidak tahu harus mulai dari mana. Perasaan itu tidak datang sekali. Ia muncul berulang, terutama di momen-momen sunyi..... setelah salat, sebelum tidur, atau saat melihat diri sendiri terlalu lama di cermin. Ada kesadaran yang pelan-pelan mengetuk: ada yang perlu diperbaiki. Tapi ketika ingin benar-benar bergerak, semuanya terasa terlalu besar, terlalu banyak, terlalu membingungkan. Aku jadi membuat daftar dalam kepala. Harus lebih rajin ibadah. Harus mengurangi hal yang tidak perlu. Harus lebih disiplin. Harus ini, harus itu. Tapi justru karena terlalu banyak “harus”, aku malah diam. Seperti berdiri di depan banyak pintu tanpa tahu mana yang harus dibuka dulu. Dan akhirnya, aku tidak membuka apa-apa. Hari-hari tetap berjalan. Keinginan itu tetap ada. Tapi perubahan yang diharapkan belum benar-benar dimulai. Kadang aku m...