Kadang aku merasa ingin menutup buku ini. Menarik garis tebal di halaman terakhir, memberi judul “selesai”, lalu meletakkannya rapi di rak kenangan seperti cerita-cerita lain yang pernah gagal tumbuh. Keinginan itu datang tiba-tiba, biasanya di malam hari, saat suasana terlalu sunyi dan pikiranku terlalu gaduh. Aku membayangkan betapa leganya jika semuanya jelas, tidak ada lagi menebak-nebak, tidak ada lagi menunggu sesuatu yang bahkan tidak pernah dijanjikan. Hanya keheningan yang jujur, yang mungkin menyakitkan di awal, tapi setidaknya tidak membingungkan. Tapi anehnya, setiap kali aku hampir sampai pada keputusan itu, ada bagian lain dalam diriku yang diam-diam menahan tanganku. Bagian yang berbisik pelan, jangan dulu. Belum sekarang. Seolah-olah ketidakjelasan ini, yang sering membuatku lelah, justru menjadi sesuatu yang diam-diam ingin kupelihara. Seperti luka kecil yang tidak kunjung sembuh karena aku sendiri yang enggan berhenti menyentuhnya. Aku tahu ini terdengar tidak masuk...
Kemarin aku sempat merasa lebih berani dari biasanya. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, keberanian itu ternyata bukan benar-benar milikku. Ada orang lain di dekatku waktu itu, seseorang yang mengajakku berbincang, dan tanpa sadar kehadirannya menjadi semacam tameng. Aku punya alasan untuk berdiri di sana, untuk terlihat santai, untuk menggerakkan kepala dan arah pandang seolah-olah hanya mengikuti alur percakapan. Padahal diam-diam, di sela kalimat yang keluar dari mulutku, mataku berkali-kali mencari sosoknya. Menatapnya terasa lebih mungkin ketika ada seseorang di sampingku, seolah keberanian bisa dipinjam dari situasi yang kebetulan mendukung. Hari ini, ketika kami bertemu lagi, tameng itu tidak ada. Tidak ada percakapan yang bisa kugunakan sebagai alasan untuk berdiri lebih lama atau mengalihkan gugupku. Dan seperti yang bisa ditebak, keberanian itu pun ikut menghilang. Aku kembali menjadi versi diriku yang lama, yang terbiasa memalingkan wajah beberapa detik terlalu cepat, yang si...