Skip to main content

Posts

Dan Begitulah Senin Ini Berakhir. Tanpa Cerita Panjang

Hari Senin ini dimulai dengan kebiasaan yang bahkan tak lagi ingin kuakui sebagai kebiasaan. Berkali-kali aku melongok ke arah pintu masuk. Tidak terang-terangan, tentu saja. Hanya sekilas, seolah sedang mencari sesuatu yang lain. Seolah-olah mataku kebetulan saja terseret ke sana. Padahal aku tahu persis apa yang kutunggu. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Lalu hitungannya hilang. Menjadi refleks. Seperti napas yang tidak lagi dihitung. Setiap kali pintu terbuka, jantungku sedikit naik, lalu kembali turun ketika yang muncul bukan dia. Ada orang lain, lalu orang lain lagi. Wajah-wajah yang familiar tapi tidak sedang kucari. Aku mencoba menertawakan diriku sendiri dalam hati. Betapa konyolnya berharap pada sesuatu yang bahkan tidak pernah dijanjikan. Jam berjalan pelan hari itu. Terlalu pelan. Sampai waktu istirahat datang, dan kursinya masih kosong. Di situlah pikiranku mulai bekerja terlalu jauh. Apakah dia sakit? Apakah ada sesuatu yang terjadi? Apakah dia sengaja tidak datang? Ap...
Recent posts

Masih Menunggu Adegan Berikutnya

Setelah pertemuan kemarin yang terasa hambar, aku pulang dengan perasaan yang aneh. Bukan kecewa sepenuhnya, bukan juga lega. Hanya seperti ada sesuatu yang kurang, seperti menonton film yang biasanya penuh adegan mendebarkan tapi kali ini berjalan tanpa klimaks. Hari itu berlalu begitu saja. Tidak ada momen berarti yang bisa kusimpan sebagai bahan bakar untuk beberapa hari ke depan. Tidak ada tatapan panjang, tidak ada gerak-gerik absurd yang bisa kupelintir menjadi kenangan manis sebelum tidur. Hari Minggu datang terlalu panjang. Aku menyadari, selama ini aku diam-diam mengandalkan pertemuan-pertemuan kecil itu sebagai suntikan endorfin. Sedikit degup, sedikit permainan mata, sedikit drama tanpa dialog, cukup untuk membuat hariku berwarna. Tapi kemarin, tidak ada yang bisa kupetik. Seperti kebun yang biasanya menyisakan satu-dua bunga liar, tapi kali ini kosong. Aku sempat menyesal. Kenapa aku tidak lebih peka? Kenapa aku tidak lebih berani? Tapi lalu aku berhenti sendiri. Hati ti...

Aku Hanya Mengamatinya Seperti Mengamati Orang Lain

Kadang aku bingung dengan diriku sendiri. Rasanya seperti hidup di antara dua versi perasaan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, aku bisa begitu yakin bahwa apa yang kurasakan ini nyata, hangat, dan punya arti. Tapi di sisi lain, ada hari-hari seperti hari ini, hari ketika semuanya terasa biasa saja, datar, hampir tidak penting. Seolah-olah perasaan yang kemarin terasa begitu besar tiba-tiba mengecil tanpa peringatan. Hari ini kami bertemu lagi. Tidak dekat, tidak dalam jarak yang memungkinkan percakapan kecil, bahkan tidak dalam posisi yang membuatku harus memperhatikannya. Kami berada di ruangan yang sama, tapi seperti dua titik yang berdiri di garis yang berbeda. Aku duduk dengan duniaku sendiri, sebuah layar kecil di tangan yang menyedot perhatianku terlalu dalam. Game sederhana yang sebenarnya tidak menarik, tapi cukup untuk membuatku tidak perlu memikirkan apa pun. Aku bahkan tidak sadar ketika dia masuk ruangan. Itu yang membuatku kaget. Biasanya aku selalu tahu kapa...

Antara Degup dan Kekosongan

Kalau dipikir-pikir lagi, perasaan jatuh cinta yang tak jelas ini ternyata bukan hanya manis. Ia juga melelahkan. Di satu sisi, ada sensasi yang tak bisa kupungkiri, degup jantung yang datang tanpa diminta, semangat yang tiba-tiba muncul hanya karena tahu kemungkinan akan bertemu. Hari-hari yang biasanya berjalan datar mendadak punya warna. Bahkan rutinitas yang membosankan pun terasa lebih ringan, hanya karena ada kemungkinan kecil bahwa dia akan ada di sana. Aku menyukai bagian itu. Sangat menyukai, bahkan. Rasanya seperti mendapat suntikan energi gratis yang tidak perlu kucari. Hanya dengan hadirnya kemungkinan, aku bisa menjalani hari dengan langkah yang sedikit lebih cepat, dengan hati yang sedikit lebih ringan. Aku jadi punya sesuatu untuk ditunggu. Punya alasan kecil untuk tersenyum tanpa sebab yang jelas. Tapi di sisi lain, ada bagian yang tidak pernah benar-benar mau kuakui. Bagian yang lelah. Karena setiap rasa berdebar selalu datang bersama ketidakpastian. Setiap perasaa...

Endorfin dan Dosa Kecil yang Kubuat Sendiri

Setiap kali selesai bertemu dengannya, pikiranku seperti mesin yang tak punya tombol mati. Selalu ada rekaman ulang yang diputar berkali-kali sebelum tidur. Cara dia berdiri tak jauh dariku. Cara dia seperti sengaja melintas lebih dekat dari biasanya. Cara tatapannya terasa setengah berani, setengah menunggu. Dan seperti biasa, aku menyimpulkan dengan penuh keyakinan, dia tertarik. Dia hanya gengsi untuk memulai lebih dulu. Keyakinan itu biasanya terasa bulat di sore hari. Terasa masuk akal. Bahkan terasa manis. Aku membiarkan diriku larut dalam kemungkinan-kemungkinan yang kususun rapi. Seolah-olah aku bisa membaca maksudnya dari jarak beberapa langkah. Seolah-olah aku tahu isi kepalanya hanya dari bahasa tubuh yang mungkin saja biasa. Tapi malam selalu lebih jujur daripada siang. Begitu suasana sunyi dan pikiranku mengendap, keyakinan tadi mulai retak. Bagaimana kalau aku salah tafsir? Bagaimana kalau semua gerak-geriknya yang kubaca sebagai kode hanyalah kebetulan yang kubesar-be...

Bagaimana Mungkin Aku Diminta Mengambil Langkah Maju Jika Arah Jalannya Saja Tidak Terlihat?

Kadang aku merasa ingin menutup buku ini. Menarik garis tebal di halaman terakhir, memberi judul “selesai”, lalu meletakkannya rapi di rak kenangan seperti cerita-cerita lain yang pernah gagal tumbuh. Keinginan itu datang tiba-tiba, biasanya di malam hari, saat suasana terlalu sunyi dan pikiranku terlalu gaduh. Aku membayangkan betapa leganya jika semuanya jelas, tidak ada lagi menebak-nebak, tidak ada lagi menunggu sesuatu yang bahkan tidak pernah dijanjikan. Hanya keheningan yang jujur, yang mungkin menyakitkan di awal, tapi setidaknya tidak membingungkan. Tapi anehnya, setiap kali aku hampir sampai pada keputusan itu, ada bagian lain dalam diriku yang diam-diam menahan tanganku. Bagian yang berbisik pelan, jangan dulu. Belum sekarang. Seolah-olah ketidakjelasan ini, yang sering membuatku lelah, justru menjadi sesuatu yang diam-diam ingin kupelihara. Seperti luka kecil yang tidak kunjung sembuh karena aku sendiri yang enggan berhenti menyentuhnya. Aku tahu ini terdengar tidak masuk...

Keberanian Itu Ternyata Bukan Benar-Benar Milikku

Kemarin aku sempat merasa lebih berani dari biasanya. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, keberanian itu ternyata bukan benar-benar milikku. Ada orang lain di dekatku waktu itu, seseorang yang mengajakku berbincang, dan tanpa sadar kehadirannya menjadi semacam tameng. Aku punya alasan untuk berdiri di sana, untuk terlihat santai, untuk menggerakkan kepala dan arah pandang seolah-olah hanya mengikuti alur percakapan. Padahal diam-diam, di sela kalimat yang keluar dari mulutku, mataku berkali-kali mencari sosoknya. Menatapnya terasa lebih mungkin ketika ada seseorang di sampingku, seolah keberanian bisa dipinjam dari situasi yang kebetulan mendukung. Hari ini, ketika kami bertemu lagi, tameng itu tidak ada. Tidak ada percakapan yang bisa kugunakan sebagai alasan untuk berdiri lebih lama atau mengalihkan gugupku. Dan seperti yang bisa ditebak, keberanian itu pun ikut menghilang. Aku kembali menjadi versi diriku yang lama, yang terbiasa memalingkan wajah beberapa detik terlalu cepat, yang si...