Ada banyak sekali skenario yang kususun diam-diam di kepalaku. Adegan demi adegan, lengkap dengan dialog yang terasa begitu lancar dan meyakinkan. Dalam bayanganku, aku bisa berdiri tenang di depannya, menatap tanpa gugup, menyapa lebih dulu dengan kalimat ringan tapi berkesan. Kadang kubayangkan percakapan kami mengalir seperti sungai yang tidak tersendat—tentang hal sederhana, tentang hari yang melelahkan, tentang sesuatu yang membuatnya tertawa. Di dalam kepala, semuanya rapi. Aku tahu kapan harus tersenyum, kapan harus bercanda, bahkan kapan harus menatap sedikit lebih lama. Tapi hidup rupanya tidak berjalan seperti naskah yang kusiapkan. Setiap kali benar-benar berhadapan dengannya, semua skenario itu seperti menguap begitu saja. Hilang tanpa jejak. Yang tersisa hanya jantung yang berdetak terlalu keras dan tenggorokan yang mendadak terasa kering. Kata-kata yang tadi berbaris rapi berubah jadi kosong. Aku berdiri di situ, canggung, seperti aktor yang lupa dialognya sendiri...
Dulu, setiap kali mendengar kabar tentang orang-orang yang saling berseteru karena warisan, aku selalu mengernyit dalam hati. Kenapa bisa begitu? Bukankah yang ditinggalkan lebih penting untuk dikenang daripada diperebutkan? Rasanya sulit membayangkan bagaimana harta bisa mengalahkan hubungan darah, bagaimana tanah dan angka-angka bisa membuat suara meninggi dan pintu ditutup lebih keras dari biasanya. Saat itu aku hanya menjadi penonton, menggeleng pelan, merasa jauh dari kemungkinan mengalami hal serupa. Sampai akhirnya peristiwa itu benar-benar hadir di depan mata. Bukan di keluargaku sendiri, melainkan di keluarga dari pihak istriku. Mertua lelakiku meninggal beberapa tahun lalu. Kepergiannya meninggalkan kesedihan yang masih hangat, suasana rumah yang muram, dan wajah-wajah yang belum sempat benar-benar menerima. Rasanya waktu berjalan lambat di hari-hari pertama itu. Kami masih sibuk dengan doa dan tamu yang datang silih berganti. Belum genap tujuh hari. Di tengah duka y...