Sebenarnya, hari itu berjalan hampir persis seperti yang sudah kubayangkan sebelumnya. Entah karena aku sudah terlalu lama mengamatinya, atau karena pola-pola itu memang terus berulang, aku merasa seolah sedang membaca ulang sebuah naskah yang pernah kubaca berkali-kali. Tidak persis sama, tentu saja. Selalu ada detail baru yang muncul. Namun garis besarnya terasa begitu akrab hingga aku bisa menebak beberapa adegan sebelum benar-benar terjadi. Bahkan sejak aku baru datang. Saat itu aku menuju loker untuk menyimpan beberapa barang yang tidak kubutuhkan di meja kerja. Pikiranku masih sibuk dengan urusan lain. Setidaknya, aku berusaha meyakinkan diri bahwa aku sedang memikirkan hal lain. Lalu tiba-tiba aku sadar ia ada di belakangku. Bukan karena aku melihatnya langsung. Aku hanya merasakan keberadaannya. Kadang ada orang-orang tertentu yang tidak perlu dilihat untuk disadari kehadirannya. Entah karena langkahnya, entah karena kebiasaan, atau mungkin karena diam-diam kita memang sud...
Aku menyerah. Kalimat itu mungkin terdengar dramatis. Padahal kenyataannya tidak ada kejadian besar yang terjadi. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada pengakuan. Tidak ada pula perpisahan yang layak dikenang. Hanya aku yang beberapa hari lalu begitu yakin bisa menjauh, lalu hari ini mendapati diriku sendiri melanggar keputusan yang kubuat dengan susah payah. Awalnya aku benar-benar percaya bahwa aku bisa melakukannya. Aku berpikir, mungkin jika aku mengurangi pertemuan, jika aku sengaja memilih aktivitas lain, jika aku menghilang dari radius pandangnya selama beberapa hari, maka sesuatu akan terjadi. Entah itu rindu yang tumbuh di diriku, atau mungkin, jika aku sedang terlalu optimis, rindu yang juga tumbuh di dirinya. Aku ingin menciptakan jarak. Aku ingin menguji sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak yakin keberadaannya. Aku ingin melihat apakah kehilangan akan membuat sesuatu menjadi lebih jelas. Ternyata yang menjadi jelas justru hal lain. Aku yang kalah lebih dulu. Hari pert...