Ada satu hal kecil yang belakangan sering muncul tanpa diminta, lagu-lagu lawas yang dinyanyikan ulang. Muncul di radio, linimasa media sosial, kafe, bahkan acara keluarga. Lagu yang dulu hidup di zamannya sendiri, kini hadir lagi dengan aransemen baru, suara baru, dan niat yang katanya untuk mengenalkan ke generasi sekarang. Masalahnya, tidak semua orang merasa nyaman. Bukan karena lagunya jelek. Justru sebaliknya. Banyak lagu lama itu sebenarnya sangat kuat, liriknya jujur, melodinya matang, dan emosinya terasa utuh. Tapi ketika dinyanyikan ulang, ada rasa ganjil yang sulit dijelaskan. Seperti mendengar cerita lama tapi dengan intonasi yang salah. Atau membaca ulang surat pribadi orang lain, lalu diberi emoji berlebihan. Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Musik sekarang juga banyak yang terdengar… familiar. Terlalu familiar. Melodi jadul dipoles sedikit, progresi akor lama dibungkus beat kekinian, lalu dilepas ke pasar dengan klaim “fresh” dan “relate”. Tidak salah, tentu....
Belakangan ini, banyak orang merasa ada yang berubah. Bukan karena headline media semata, tapi dari hal-hal kecil yang sehari-hari terasa di dompet dan kepala. Harga terasa makin sensitif, rencana hidup jadi lebih hati-hati, dan obrolan nongkrong pelan-pelan bergeser ke topik yang sama, “kok ekonomi kayaknya lagi seret, ya?” Perasaan itu bukan halusinasi kolektif. Banyak pengamat ekonomi, praktisi bisnis, sampai pelaku usaha kecil menyebut hal serupa: ekonomi Indonesia sedang melambat. Angkanya ada, datanya bisa dicari. Tapi yang paling jujur justru terasa di kehidupan nyata, ketika keputusan sederhana seperti belanja, liburan, atau mulai usaha jadi penuh pertimbangan. Di titik itu, wajar kalau pikiran mulai ke mana-mana. Muncul dorongan untuk cari pegangan tambahan. Usaha sampingan, misalnya. Ide yang terdengar rasional dan dewasa. Tapi begitu dijalani di kepala, ternyata tidak sesederhana konten motivasi di media sosial. Otak kanan dipaksa kreatif: mikir bisnis, mikir peluang...