Setiap kali selesai bertemu dengannya, pikiranku seperti mesin yang tak punya tombol mati. Selalu ada rekaman ulang yang diputar berkali-kali sebelum tidur. Cara dia berdiri tak jauh dariku. Cara dia seperti sengaja melintas lebih dekat dari biasanya. Cara tatapannya terasa setengah berani, setengah menunggu. Dan seperti biasa, aku menyimpulkan dengan penuh keyakinan, dia tertarik. Dia hanya gengsi untuk memulai lebih dulu. Keyakinan itu biasanya terasa bulat di sore hari. Terasa masuk akal. Bahkan terasa manis. Aku membiarkan diriku larut dalam kemungkinan-kemungkinan yang kususun rapi. Seolah-olah aku bisa membaca maksudnya dari jarak beberapa langkah. Seolah-olah aku tahu isi kepalanya hanya dari bahasa tubuh yang mungkin saja biasa. Tapi malam selalu lebih jujur daripada siang. Begitu suasana sunyi dan pikiranku mengendap, keyakinan tadi mulai retak. Bagaimana kalau aku salah tafsir? Bagaimana kalau semua gerak-geriknya yang kubaca sebagai kode hanyalah kebetulan yang kubesar-be...
Kadang aku merasa ingin menutup buku ini. Menarik garis tebal di halaman terakhir, memberi judul “selesai”, lalu meletakkannya rapi di rak kenangan seperti cerita-cerita lain yang pernah gagal tumbuh. Keinginan itu datang tiba-tiba, biasanya di malam hari, saat suasana terlalu sunyi dan pikiranku terlalu gaduh. Aku membayangkan betapa leganya jika semuanya jelas, tidak ada lagi menebak-nebak, tidak ada lagi menunggu sesuatu yang bahkan tidak pernah dijanjikan. Hanya keheningan yang jujur, yang mungkin menyakitkan di awal, tapi setidaknya tidak membingungkan. Tapi anehnya, setiap kali aku hampir sampai pada keputusan itu, ada bagian lain dalam diriku yang diam-diam menahan tanganku. Bagian yang berbisik pelan, jangan dulu. Belum sekarang. Seolah-olah ketidakjelasan ini, yang sering membuatku lelah, justru menjadi sesuatu yang diam-diam ingin kupelihara. Seperti luka kecil yang tidak kunjung sembuh karena aku sendiri yang enggan berhenti menyentuhnya. Aku tahu ini terdengar tidak masuk...