Ada lagu yang tidak langsung terasa megah meski judulnya terdengar besar. Crown, kalau hanya dibaca, terkesan tentang kemenangan, kejayaan, atau pencapaian. Tapi ketika didengarkan pelan-pelan, rasanya justru sebaliknya. Lagu ini lebih seperti cerita orang yang sedang berdiri, menahan beban di kepala, sambil bertanya, “Apakah semua ini memang layak diperjuangkan?” Di awal lagu, nuansanya tidak meledak. Ada kesan tenang tapi berat, seperti seseorang yang sudah lama memikul ekspektasi. Dan di situlah banyak pendengar langsung merasa dekat. Karena hidup sering kali memang seperti itu, tidak selalu tentang sorak sorai, tapi tentang bertahan di tengah tuntutan yang tidak berhenti. Makna lagu Crown dari EXO bisa dibaca sebagai simbol. Mahkota bukan sekadar lambang kekuasaan atau popularitas, tapi tanggung jawab. Tekanan. Beban yang tidak semua orang lihat. Lagu ini tidak sedang membanggakan posisi di atas, tapi justru memperlihatkan sisi sunyi dari berada “di sana”. Kon...
Ada momen ketika badan capeknya bukan yang dramatis, tapi menetap. Pegal di pundak, punggung terasa berat, dan kepala seperti minta ditaruh sebentar. Di titik itu, pilihan paling masuk akal sering kali bukan obat atau keluhan panjang, cukup satu hal sederhana, pijat. Dan entah kenapa, yang terlintas justru satu nama lama. Tukang pijat langganan keluarga. Orang tua. Tenang. Familiar. Tidak banyak yang tahu tentang hidupnya. Bahkan alamat rumahnya pun tidak pernah benar-benar diketahui. Yang ada hanya ingatan lama: dulu, ibu sering memanggil orang ini saat capek-capek menumpuk di rumah. Tidak pakai aplikasi. Tidak pakai rating. Cukup telepon, lalu menunggu. Sederhana, tapi terasa aman. Saat akhirnya dipanggil lagi, ada perasaan aneh yang muncul. Bukan cuma berharap badan enakan, tapi juga rasa pulang. Seperti membuka laci ingatan yang jarang disentuh. Cara bicaranya yang pelan, geraknya yang tidak tergesa, dan kebiasaannya bertanya seperlunya, semua terasa tidak asing. Padahal wa...