Pikiran itu muncul begitu saja, barusan sekali, seperti ide nekat yang lahir dari terlalu banyak kegagalan. Setelah sekian lama semua rencana untuk menyapa selalu kandas, kata-kata yang sudah kususun rapi mendadak buyar begitu ia berdiri di hadapanku, senyum yang ingin kulempar malah berubah jadi wajah datar, aku mulai merasa mungkin ada yang salah dengan caraku berkomunikasi. Atau mungkin memang aku yang terlalu takut pada suaraku sendiri. Lalu entah dari mana, terlintas pikiran yang agak berbahaya: bagaimana kalau bukan kata-kata yang kugunakan? Bagaimana kalau sentuhan kecil saja? Isyarat yang tidak perlu suara. Mungkin dengan begitu ia akan paham maksudku. Mungkin dengan rabaan ringan, sekadar menyentuh lengan saat berpapasan, atau menepuk bahunya pelan, pesan yang tak pernah berhasil keluar dari mulutku bisa sampai juga. Tapi bahkan sebelum pikiran itu selesai, aku sudah merasa tidak nyaman. Karena dunia tidak sesederhana itu. Karena sentuhan bukan bahasa yang bisa digunakan se...
Dipenuhi Banyak Orang, Tapi Terasa Hanya Menyisakan Dua Orang yang Sama-sama Tidak Tahu Harus Berbuat Apa
Aku mulai menyadari sesuatu yang kecil, tapi terus mengusik pikiranku. Setiap kali kami berada di tempat yang sama, suasana di sekelilingnya berubah...... atau mungkin hanya perasaanku yang berubah. Dia jadi lebih banyak diam. Tidak lagi secerah biasanya. Tidak sehidup seperti saat aku melihatnya dari kejauhan, ketika ia tertawa bebas bersama teman-temannya, bergerak ringan seolah dunia tidak memiliki beban apa pun. Dan entah kenapa, setiap kali itu terjadi, aku merasa seperti penyebabnya. Perasaan itu muncul pelan-pelan, tidak tiba-tiba. Awalnya hanya sekilas pikiran yang lewat, lalu pergi. Tapi semakin sering kami bertemu, semakin sering pula pikiran itu kembali, seperti tamu yang tidak diundang tapi terus menemukan jalan pulang. Jangan-jangan dia jadi diam karena aku ada. Jangan-jangan kehadiranku membuat ruang di sekitarnya menyempit, membuatnya kehilangan keluwesan yang biasanya ia miliki. Aku sering melihatnya dari jauh ketika aku belum berada di dekatnya. Dia tampak lepas, te...